Hasan Ibn Haitsam, Ilmuwan Besar dan Tuduhan Kafir Terhadapnya (Bagian 1)

0
89

Harakah.idNama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan bin Al-Hasan Ibn Al-Haitsam, lahir di kota Bashrah (sebuah wilayah yang sekarang berada di Negara Iraq) pada tahun 354 H./965 M. Beliau wafat pada tahun 430 H./1039 M. di kota Kairo. Sejarah hidupnya diglorifikasi oleh sebagian umat Islam hari ini. Tetapi tuduhan kafir terhadapnya pernah dialamatkan kepadanya.

Nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan bin Al-Hasan Ibn Al-Haitsam, lahir di kota Bashrah (sebuah wilayah yang sekarang berada di Negara Iraq) pada tahun 354 H (965 M). Beliau wafat pada tahun 430 H (1039 M) di kota Kairo.

Ibn Al-Haitsam hidup pada masa yang sama dengan beberapa nama ilmuwan besar muslim yang lain seperti Al-Biruni (Astronomi) dan Ibnu Sina (kedokteran). Setelah menghabiskan masa mudanya di kota Bashrah, dan mempelajari berbagai cabang keilmuan, beliau kemudian pindah ke Kairo atas undangan dari salah satu khalifah dinasti Fathimiyyah yang berkuasa di Mesir kala itu. Khalifah Al-Hakim bi Amrillah (berkuasa dalam rentang 996-1021M) merasa tertarik untuk memanfaatkan kecerdasan Ibn Al-Haitsam.

Ibn Al-Haitsam sangat menonjol dalam beberapa bidang keilmuan sekaligus seperti matematika, ilmu optic dan astronomi. Ia banyak bergelut dengan berbagai tulisan para ilmuwan Yunani yang hidup hampir seribu tahun sebelumnya seperti Euclid dan Ptolemeus. Khusus dalam bidang optic, Ibn Al-haitsam telah merevisi pandangan Ptolemeus yang telah dipegang selama berabad-abad tentang mekanisme terjadinya penglihatan. Jika dahulu Ptolemy mengira proses penglihatan terjadi karena mata mengeluarkan cahaya menuju benda, maka Ibn Al-Haitsam menemukan sebaliknya, penglihatan terjadi justru karena pancaran cahaya pada benda yang sampai ke mata.

Teori di atas meskipun terlihat sederhana, namun nyatanya merupakan langkah besar yang mempengaruhi ilmu pengetahuan, khsusunya dalam bidang optic hingga kemajuan kamera seperti sekarang. Sekali lagi, peran Ibn Al-Haitsam dalam hal ini sangat besar, namun tetap tidak perlu dilebih-lebihkan sebagai sebuah peran mutlak, yang menafikan peranan tokoh ilmuan dari peradaban lain. Sama halnya seperti progress  ilmiah yang lain, apa yang ditemukan oleh Ibn Haitsam merupakan lonjakan pada sebuah lintasan sejarah, dalam lintasan ini, juga terdapat para ilmuwan Yunani kuno sebagai pendahulunya, dan juga ilmuwan barat sebagai penyempurna di kemudian hari.

Peranan Ibnu Al-Haitsam juga terkadang dilebih-lebihkan sebagai penemu kamera. Padahal, klaim semacam ini merupakan simplifikasi yang terlalu ceroboh dan kekanak-kanakan, bahkan andai Ibn al-Haitsam masih hidup beliau pun tentu akan membantahnya. Kita semua tahu bahwa abad kesebelas masehi, perkembangan ilmu fisika belum sampai pada tahap penciptaan instrument-instrumen atau benda. Melainkan masih pada tahap penemuan ide dan terori yang di kemudian hari menjadi dasar penemuan berbagai benda.

Dalam masalah penemuan kamera, ibn Al-Haitsam melakukan eksperimen ruang gelap yang menjadi ide membentuk pantulan gambar pada sebuah media seperti tirai, lalu eksperimen papan sensitif yang kemudian menciptakan ide penyimpanan gambar dalam bentuk film dan dapat dicetak ulang. Dua hal ini tentu merupakan ide mentahan yang masih perlu disempurnakan, hingga kemudian produk kamera yang paling awal baru muncul pada abad ke-16.

Overclaim lainnya yang jamak disuarakan bahwa penemuan besar Ibn Al-Haitsam berasal dari perenungan dari isyarat ayat Al-Qur’an. Klaim ini adalah sesuatu yang sangat perlu dipertanggungjawabkan. Seseorang tidak boleh sebatas menyampaikan ceramah tiga menitan lalu berkata, “Ibn Al-Haitsam adalah ilmuwan penemu kamera dan ia memikirkan hal itu setelah membaca Al-Qur’an”, lalu ceramah ini ditutup dengan kesimpulan menggantung tersebut.

Klaim ini harus dipertanggungjawabkan dengan mengemukakan ayat mana yang dimaksud sebagai basis eksperimen Ibn Haytham, lalu dimana Ibn Haitsam membahasnya. Nyatanya dalam banyak tulisan beliau seperti kitab Al-Manazhir, tidak ditemukan adanya kutipan-kutipan ayat Al-Qur’an atau hadis. Hal yang menjadi rujukan beliau adalah khazanah peninggalan para pemikir sebelumnya, baik tokoh-tokoh Yunani seperti Aristoteles, Euclid dan Ptolemy, maupun ilmuwan muslim yang hidup sebelum beliau.

(bersambung)