Hasan Ibn Haitsam, Ilmuwan Besar dan Tuduhan Kafir Terhadapnya (Bagian 2)

0
118

Harakah.idIbnu Taimiyah memasukkan Ibnu Haitsam dalam golongan kaum yang keluar dari Islam. Inilah Hasan Ibn Haitsam, ilmuwan besar dan alasan tuduhan kafir terhadapnya.

Pada bagian pertama telah dibahas penjelasan singkat tentang kehidupan Ibn Haitsam serta sumbangsih keilmuan beliau. Bahasan ini akan melanjutkan paparan tentang penilaian para ulama terhadap Ibn Haitsam serta pemikiran filsafat beliau.

Tidak dipungkiri bahwa Ibn Haitsam saat ini begitu dipuja dan dibanggakan oleh umat Islam. Beliau disejajarkan dengan nama Al-Khawarizmi dan Ibnu Sina, sebagai tokoh imuwan Islam di masa lalu, belum lagi jika mengemukakan klaim-klaim yang kelewatan, bahwa mereka adalah orang-orang religius dan menggali berbagai ide dan temuan mereka dari kitab suci.

Penilaian yang lebih representatif terhadap Ibn Haitsam baru bisa didapat dari para ulama (kalangan agamawan) yang hidup pada masa yang sama atau setidaknya berdekatan dengan beliau.

Sedangkan penilaian orang-orang pada masa modern seperti sekarang, nampaknya mulai mengalami polarisasi yang mengkristal menjadi penilaian yang positif, bahkan dijadikan aset membanggakan bagi penganut agama.

Kita hidup di masa kebanyakan kebenaran sains telah naik sampai tahap empirik, dinikmati menjadi hasil yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga akan sangat naif jika orang yang memiliki jasa di dalamnya seperti Ibn al-haitsam masih dipandang secara sinis dan sesat.

Ibn Haitsam adalah orang yang amat giat mendalami alam pikir Yunani, beliau bahkan menulis beberapa buku yang membahas secara khusus pemikiran dan filsafat tokoh Yunani seperti Aristoteles dan Galen. Sebagian ulama banyak menilai fokus terhadap kajian filsafat Yunani dengan sinis.

Imam Syafi’I misalnya menyindir bahkan  mencela orang-orang yang mempelajari pemikiran Aristoteles. Syaikh Zakariyya Al-Anshari berpendapat bahwa mendalami filsafat Yunani hukumnya haram. Sebagian ulama seperti Ibn Taimiyah bahkan memvonis beberapa nama sebagai kafir, dan Ibn Haitsam adalah salah satunya.

Dalam kitab Daru’ al-Ta’arudh, Ibn Taymiyah menyebut:

 إنه من الملاحدة الخارجين عن دين الإسلام، من أقران ابن سينا علما وسفها وإلحادا وضلالا

Artinya: (Ibn Haitham) adalah bagian dari orang-orang sesat yang telah keluar dari agama Islam. Ia merupakan orang yang sepemikiran dengan Ibnu Sina, mengikuti semua ilmu, kebodohan, penyimpangan hingga kesesatan Ibnu Sina.

Penilaian Ibn Taimiyah tentu masih terbatas sebagai penilaian individu atau kalangan yang sepaham dengan beliau dalam masalah ini, ia tidak boleh digeser sebagai pandangan yang mewakili seluruh ulama Islam terhadap sosok Ibn Al-Haitsam. Namun ia telah cukup membuktikan bahwa pada abad-abad keemasan dunia Islam, sinisme sebagian agamawan terhadap kalangan saintis Islam adalah sesuatu yang nyata.

Kita juga sulit mencari perimbangan terhadap pandangan sinis dan vonis kafir ini, tidak ada pujian para ulama terhadap sisi relijiusitas Ibn Haitsam, apalagi jika nama beliau disebut oleh para mufassir dalam rangka pembuktian kebenaran “isyarat ilmiah” dalam Al-Qur’an.

Apakah penilaian Ibn Taimiyah terlihat aneh, untuk beberapa pertimbangan, tentu apa yang disampaikan Ibn Taimiyah sangat berdasar. Ibn Haitsam memang memiliki sudut pandang yang cukup kontras dengan cara pandang agamawan. Beliau misalnya pernah menulis:

إنني لم أزَل منذ عَهد الصِّبا مُرتاباً في اعتقادات هذه النَّاس المختلفة..، فكنتُ متشكِكاً في جميعه، موقناً بأنَّ الحقَّ واحد، وأن الاختلاف إنَّما هو من جهة السُّلوك إليه اشتهيتُ إيثار الحقَّ وطلب العلم.. فخُضتُ لذلك ضروب الآراء والاعتقادات، وأنواع علوم الديانات، فلم أحظَ من شيء منها بطائل، ولا عرفت منه للحق منهجاً، ولا إلى الرأي اليقيني مسلكاً محدداً، فرأيتُ أنني لا أصل إلى الحق إلَّا من آراء يكون عنصرها الأمور الحِسِّية، وصورتها الأمور العقلية

Artinya: sejak kecil saya dilanda kebingungan dengan berbagai keyakinan manusia yang berbeda satu sama lain. Aku meragukan semuanya dan menyakini bahwa kebenaran itu pasti satu, dan perbedaan yang ada hanya sebatas metodenya saja. Saya gemar mencari kebenaran dan ilmu pengetahuan, tapi saya disentakkan oleh berbagai pendapat dan keyakinan dan berbagai agama. Saya merasa berlarut-larut dalam variasi keyakinan itu tidak berguna, ia sama sekali tidak memberi suatu metode kebenaran yang valid, tidak pula pada keyakinan yang mutlak. Menurut saya, satu-satunya kebenaran yang berdasar adalah yang dapat dibuktikan secara empirik dan dikaji secara rasional.

Penjelasan ini rasanya telah cukup memberi gambaran hakikat seorang Ibn Haitsam. Beliau adalah seorang tokoh besar yang tidak bisa disangkal peranannya. Tidak ada salahnya jika seorang muslim merasa bangga tentang keberadaan sosok beliau, namun menyampaikan informasi seorang Ibn Haitsam secara jujur adalah sebuah kewajiban.