Beranda Keislaman Tafsir Hermeneutika Nashr Hamid Abu Zaid dan Kontroversialitasnya dalam Memperlakukan Al-Quran

Hermeneutika Nashr Hamid Abu Zaid dan Kontroversialitasnya dalam Memperlakukan Al-Quran

Harakah.idNashr Hamid Abu Zaid adalah salah satu teoritikus tafsir kontemporer yang banyak menunai perdebatan dan kontroversialitas karena gagasannya. Dalam konteks hermeneutika tafsir, Nashr Hamid Abu Zaid bisa dikatakan adalah pengusung utamanya.

Nashr Hamid Abu Zaid merupakan seorang tokoh kontroversial di abad 21. Terdapat banyak pandangannya tentang Islam yang sangat bertentangan dan mendapat reaksi keras dari kalangan ulama-ulama muslim lainnya. Hal ini karena pandangannya dianggap melenceng jauh dari prinsip-prinsip ajaran Islam.  Sebagian ulama mesir, menganggap Nashr Hamid Abu Zaid sudah keluar dari Islam. Namun, di kalangan akademisi, Nashr Hamid dianggap sebagai ulama revolusioner dalam pemikiran Islam khususnya dalam Qur’anic Studies. Tulisan ini hendak memaparkan salah satu metode tafsir hermeneutika yang digagas oleh Nashr Hamid untuk memberikan gambaran bagaimana metode hermeneutika al-Qur’an Nashr Hamid Abu Zaid dan bagaiamana pandangan penafsirannya terhadap al-Qur’an. 

Hermeneutika berasal dari kata Yunani hermeneuein yang berarti menafsirkan. Hermeneutika sering diartikan sebagai seni dan ilmu untuk menafsirkan teks-teks. Ia merupakan sekumpulan kaidah atau pola yang harus diikuti oleh seorang penafsir dalam memahami suatu teks. Seiring dengan perkembangan zaman, hermeneutika yang dulunya hanya digunakan untuk memahami teks, khususnya terkait teks suci keagamaan sekarang dapat digunakan untuk memahami semua bentuk teks baik itu terkait karya seni, sastra maupun tradisi  masyarakat. Secara umum hermeneutika bisa diartikan sebagai teori interpretasi  untuk mengkaji sebuah teks. 

Dalam konteks keislaman, hermeneutika merupakan sekumpulan metode dan teori yang berfokus pada problem pemahaman sebuah teks, baik itu berupa teks-teks al-Qur’an maupun teks hadis Nabi. Metode hermeneutika Nashr Hamid ini berasal dari gagasannya terhadap teks khususnya teks al-Qur’an. Nashr Hamid menjelaskan tentang pentingnya penekanan historisitas teks al-Qur’an, kesadaran sejarah terkait hal tersebut, serta sikap kritis terhadap teks dan konteks sejarahnya. Hubungan antara pembaca dan teksnya secara dialektis merupakan sesuatu yang penting di kalangan mufassir agar tidak terjebak dalam ideologisasi penafsiran. Menyikapi hal ini, Nashr Hamid kemudian membuat metode interpretasi yang bercorak humanis serta dialogis yang memunculkan istilah “hermenutika humanistik”. 

Nashr Hamid menyamakan istilah hermenutika sebagai istilah ta’wil dalam Islam. Namun, ia membedakan definisi dari ta’wil dengan tafsir. Menurutnya, tafsir bertujuan untuk menyingkap makna suatu teks, sedangkan ta’wil bertujuan agar makna teks yang dimaksud memiliki keterkaitan fungsional dengan kondisi sekarang.  Nashr Hamid memandang bahwa ta’wil dan hermeneutika adalah sama dalam pemaknaannya.  Hermenutika menurut Nashr Hamid mengandung dua hal yaitu: pertama, ia bertujuan untuk menentukan makna asal dari sebuah teks dengan menempatkannya pada sebuah konteks sosio-historisnya. Kedua, hermeneutika bertujuan untuk mengklarifikasi kerangka sosio kultural kontemporer serta tujuan-tujuan praktis yang mendorong  penafsiran.  

Pandangan penafsiran Nashr Hamid tentang al-Qur’an berangkat dari pemahamannya tentang hakikat teks al-Qur’an. Hal ini berkaitan dengan perbedaan antara Asy’ariyah dan Mu’tazilah mengenai hakikat al-Qur’an. Bagi Asy’ariyah, al-Qur’an merupakan sifat Tuhan dan sebagai sifat Tuhan, ia bersifat kekal sebagaimana kekekalan Tuhan itu sendiri. Sedangkan, menurut Mu’tazilah al-Qur’an bukanlah merupakan sifat melainkan perbuatan Tuhan. Dalam hal ini al-Qur’an dianggap tidak bersifat kekal namun bersifat baharu dan diciptakan Tuhan. Dari dua pandangan di atas, Nashr Hamid lebih sepakat pada pandangan Mu’tazilah bahwa al-Qur’an bukanlah sifat melainkan  perbuatan  Tuhan.  Hal ini kemudian memunculkan pemahaman bahwa al-Qur’an merupakan sebuah fenomena historis dan mempunyai konteks  spesifiknya sendiri. 

Dalam bukunya Mafhum al-Nas, Nashr Hamid menyatakan bahwa sebagai teks bahasa, al-Qur’an dianggap sebagai teks sentral dalam sejarah Arab. Dalam hal ini menurutnya dasar-dasar ilmu dan budaya Arab dengan Islam tumbuh  dan berkembang di atas landasan teks. Namun dalam hal ini, teks tidak akan membentuk sebuah peradaban jika ia berdiri sendiri melainkan peradaban dan kebudayaanlah yang akan terbentuk jika adanya proses dialektika antara manusia realitas dan teks. Paradigma besar dari konsep yang digagas Nashr Hamid Abu Zaid adalah teks al-Qur’an tidak bisa dilepaskan dari realitas budaya dan masyarakat ketika teks al-Qur’an itu diturunkan. Dari pemahamn inilah yang kemudian mengantarkan Abu Zaid pada kesimpulan bahwa al-Qur’an merupakan sebuah produk budaya (Muntaj al-Tsaqafi).

Muntaj al-Tsaqafi atau produk budaya yang dimaksud oleh Nashr Hamid Abu Zaid ialah bahwa teks terbentuk dalam suatu realitas budaya dalam rentang waktu lebih dari dua puluh tahun. Dalam hal ini, segala aspek dalam al-Qur’an baik itu berupa aspek bahasa, hukum maupun aspek-aspek lainnya tidak terlepas dari realitas budaya pada masa itu. Melalui pemikirannya ini, Nashr Hamid menyatakan bahwa teks al-Qur’an mengalami dialektika antara teks dan realitas sosial. Beliau memahami al-Qur’an sebagai teks, teks tersebut apapun bentuknya merupakan produk budaya. Nashr Hamid menyatakan bahwa teks-teks al-Qur’an hidup dalam konteks sosial dan budaya pada masa itu, sehingga sangat penting dilakukan kontekstualisasi dan aktualisasi dengan merujuk aspek historisitasnya. 

Terdapat dua asumsi dasar yang dibangun oleh Nashr Hamid ketika ia menjelaskan tentang pandangan-pandangannya terhadap al-Qur’an sebagai sebuah teks. Pertama, ia menyatakan bahwa teks-teks agama merupakan teks-teks bahasa yang bentuknya sama dengan teks-teks lainnya di dalam budaya. Kedua, beliau menyatakan bahwa umat Islam masa kini memerlukan kebebasan mutlak dari otoritas teks-teks keagamaan khususnya teks-teks al-Qur’an dalam melahirkan pemahaman keagamaan yang sesuai dengan konteks sekarang. Dari dua asumsinya tersebut, di sini jelas Nashr Hamid telah menyatakan bahwa berpegang kepada teks-teks agama (khususnya al-Qur’an) merupakan sumber pokok dari kemunduran yang dialami oleh umat Islam masa kini, sehingga harus berlepas dari itu semua. Dua asumsi tersebut merupakan pandangan yang berbahaya bagi keyakinan umat Islam. Dalam keyakinan umat Islam, al-Qur’an merupakan sumber hukum  pertama dalam Islam dan umat Islam diperintahkan untuk selalu berpegang teguh pada al-Qur’an. 

Dalam penafsirannya, Nashr Hamid memandang pentingnya persoalan konteks dalam memproduksi makna. Menurutnya, terdapat beberapa level konteks di dalam al-Qur’an, yaitu: konteks sosio cultural, konteks eksternal, konteks internal, konteks linguistik, serta konteks pembacaan atau penakwilan. Persoalan konteks budaya secara luas yang saat itu berkembang merupakan persoalan penting yang tidak bisa diabaikan. Dalam hal ini, konteks pada saat  ayat al-Qur’an diturunkan merupakan sebuah hal yang sangat perlu untuk diperhatikan oleh seorang penafsir dalam melihat hal-hal yang subtantif di dalam suatu teks. 

Langkah-langkah penafsiran Nashr Hamid abu Zaid diantaranya ialah  menganalisa struktur linguistik terkait ayat-ayat al-Qur’an dan mencari fakta-fakta sejarah yang melingkupinya, menentukan tingkatan makna teks, menetukan makna asli suatu teks, menentukan makna signifikansinya dan yang terakhir ialah mengkontekstualisasikan makna historis dengan berlandaskan pada makna yang tidak terkatakan.

Dari pemaparan di atas dapat dipahami bahwa hermenutika Nashr Hamid Abu Zaid ini berasal dari gagasannya terhadap teks, khususnya teks al-Qur’an. Beliau mencoba untuk menawarkan sebuah metodologi terhadap al-Qur’an dengan melakukan upaya merekonstruksi metode yang digunakan oleh ulama-ulama terdahulu yang dimaksudkan untuk menghadirkan sebuah penafsiran yang relevan sesuai dengan perkembangan zaman. Pemikiran Nashr Hamid  dapat disimpulkan sangatlah dipengaruhi oleh pandangan Mu’tazilah terkait hakikat teks, (khususnya teks al-Qur’an). Dalam metode hermeneutikanya, beliau berupaya untuk menemukan makna baru yang tidak tertulis  dalam al-Qur’an sesuai dengan konteks kekinian. 

Nashr Hamid Abu Zaid menganggap al-Qur’an merupakan produk budaya. Nashr Hamid menganggap bahwa  dengan berpegang pada teks-teks agama khususnya teks-teks al-Qur’an, hal inilah yang merupakan penyebab kemunduran yang dialami oleh umat Islam. Sehingga menurutnya kita harus berlepas dari itu semua. Sementara dalam keyakinan umat Islam, berpegang teguh kepada al-Qur’an merupakan perintah yang datang dari Allah swt dan Rasul-Nya. Al-Qur’an merupakan sumber hukum utama ajaran Islam dan menjadi pedoman hidup umat Islam. Oleh sebab itu, menurut penulis, tawaran pemikiran Nashr Hamid Abu Zaid yang menyeru untuk berlepas dari teks-teks agama khususnya teks al-Qur’an dalam melahirkan pemahaman keagamaan yang sesuai dengan konteks masa kini tidak bisa digunakan oleh umat Islam karena pemikirannya ini merupakan pandangan yang berbahaya dan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. 

REKOMENDASI

Demi 1 Hadis, Sahabat Nabi Ini Tempuh Jarak 4000 Km untuk Pastikan Hafalannya

Harakah.id – Kisah seorang sahabat yang rela menempuh jarak Madinah-Mesir hanya untuk mencocokkan satu hadis yang dihafalnya. Tidak...

Cara dan Waktu Puasa Syawal 6 Hari Harus Urut atau Boleh Terpisah-pisah?

Harakah.id – Cara dan waktu puasa Syawal 6 hari boleh dilakukan secara berturut-turut di waktu awal bulan, maupun secara terpisah-pisah di...

Dahulukan yang Mana? Ganti Utang Puasa Wajib Atau Berpuasa Syawal?

Harakah.id - Ganti utang puasa wajib atau berpuasa syawal? Mana yang harus dikerjakan dulu? Mungkin kalian bertanya-tanya. Dan simak artikel berikut...

4 Tujuan Puasa Yang Wajib Diketahui, Agar Ibadah Puasa Semakin Bermakna

Harakah.id - Puasa dalam Islam memiliki tujuannya sendiri. Berdasarkan petunjuk al-Quran, hadis, dan telaah para ulama, kita temukan sedikitnya empat tujuan...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...