fbpx
Beranda Gerakan Hikayat Sarung di Tengah Peradaban Fashion; Dari Stereotipe, Penyingkiran Hingga Upaya Pembid’ahan

Hikayat Sarung di Tengah Peradaban Fashion; Dari Stereotipe, Penyingkiran Hingga Upaya Pembid’ahan

Harakah.idSarung bagi kebanyakan masyarakat Indonesia sudah jadi pakaian wajib. Tidak hanya nyaman, sarung juga mewakili satu entitas sosial, politik maupun ideologi keagamaan-kebangsaan. Di tengah nyamannya orang Indonesia memakai sarung, eh kok muncul doktrin keagamaan yang ngomong kalau itu madzhab fashion kurang islami.

- Advertisement -

Saya pernah membaca sebuah artikel yang mengungkap bahwa berdasarkan hasil penelitian sarung adalah pakaian yang bisa menyuburkan sperma laki-laki dan sel telur perempuan. Menurut hasil penelitian tersebut, sarung mampu mengurangi tekanan berlebih pada organ-organ vital tertentu sehingga organ-organ ini bisa memproduksi sperma secara lebih baik. Hal ini tentu berbeda dengan beberapa mode pakaian kekinian yang mengikuti trend “ketat”, yang justru berbahaya dan beresiko tinggi mengganggu kinerja organ vital tersebut serta mengurangi kadar sperma, baik secara kualitas ataupun kuantitas. Katanya sih begitu…

Namun terlepas dari hasil penelitian semacam itu, memakai sarung bagi sebagian kalangan, khusus orang pesantren, memiliki alasan yang jauh lebih dalam dari hanya sekedar fakta bahwa sarung itu sehat. Ada nilai-nilai yang tak bisa dijelaskan ataupun diteliti secara akademik. Dan nyatanya bagi mereka sarung tak lagi berarti sarung, ia adalah makna dan ideologi yang mesti dipertahankan juga dilestarikan.

Saya tidak terlalu tertarik untuk menelusuri sejarah terkait dengan sarung ataupun sejarah manusia-manusia di Indonesia mengenal lalu memakainya. Menurut saya penelusuran semacam ini percuma karena tidak akan menyuguhkan apa-apa. Saya menyakini bahwa kebudayaan adalah proses. Tak penting ia berasal atau bermula dari mana, intinya kebudayaan serta peradaban manusia adalah pantulan dari segenap pemahamannya akan dunia. Dengan demikian, sarung juga merupakan bayangan, pantulan dari proses masyarakat Nusantara menuangkan aspirasi dan bentuk penghayatannya terhadap nilai-nilai yang melingkupi mereka. Tak peduli apakah ia berasal dari Arab atau dari mana, sarung yang ada di Indonesia sekarang ya merupakan hasil pergumulan yang tidak sebentar.

Baca Juga: Tak Selalu Putih, Ini Beberapa Warna Pakaian yang Pernah Nabi Muhammad Pakai

Sarung juga tidak identik dengan doktrin agama. Nyatanya orang memakai sarung tidak hanya ketika beribadah saja. Di kampung-kampung, orang memakai sarung ya untuk pakaian sehari-hari. Ketika makan, tidur, ngobrol, belanja ke pasar dan kegiatan harian lainnya. Namun memang dalam banyak kasus, simbol sarung selalu lekat dengan sosok pemangku agama, seperti Kiai, ustadz ataupun tokoh masyarakat. Banyak faktor, terutama faktor wacana sosial-politik, yang lantas membangun satu konsepsi bahwa sarung mewakili satu budaya tertentu yang kemudian disifati atau distreotipe dengan banyak hal. Dengan kata lain, sarung sebenarnya adalah bagian dari budaya Nusantara itu sendiri.

Indonesia masyhur dikenal heterogen. Keragaman suku, bahasa dan agama secara otomatis juga melahirkan ragam model berbeda dalam gaya arsitektur rumah dan model berpakaian. Orang-orang Sumatera memiliki rumah dan pakaian adatnya sendiri. Orang Jawa dan orang Madura juga memiliki rumah adat dan pakaian khasnya. Begitu juga dengan suku-suku lainnya di Nusantara. Kekhasan tersebut merupakan identitas visual yang mereka wujudkan dari paham, ideologi dan kepercayaan-kepercayaan yang diturunkan oleh nenek moyang. Ketika ideologi, agama dan bahasa merupa sesuatu yang abstrak, maka rumah dan pakaian adat adalah bentuk konkretnya; pengentalan sisi transenden kehidupan masyarakat nusantara. 

Dari semua pakaian adat yang ada, sarung adalah benang merah yang mewakili secara epistemik busana kebudayaan Indonesia. Ia menghubungkan seluruh pecahan-pecahan tradisi wilayah dan suku menjadi satu mozaik indah bernama tradisi nusantara. Dengan demikian, sarung tidak hanya berwujud pakaian atau ejawantahan tradisi yang bersifat idologis-mistis sebagaimana pakaian adat yang dikesankan selama ini, sarung, berikut seluruh kultur berpakaian dan peradaban busana Nusantara justru ideologi itu sendiri. Ia adalah pengentalan nilai normatif yang membentuk kehidupan suatu kelompok masyarakat. Sarung tak lain merupakan tempat pertemuan antara nilai-nilai yang hadir dan yang ghaib, tempat “masa lalu”, “masa kini” dan “masa depan” bertemu.

Tapi nanti, dalam geliat kebudayaan dan wacana kebudayaan di Nusantara, sarung digunakan sebagai lokus perebutan wacana dan mengalami beberapa kelongsoran makna. Kalau kita ingat, di jaman kolonial, sarung dianggap simbol kaum sudra dan mewakili segenap sifat buruk yang dibangun Kolonialisme atas Dunia Ketiga. Di tahun 90-an, istilah “kaum sarungan” juga muncul di tengah perdebatan relasi tradisionalisme versus modernisme yang diinisiasi oleh wacana orientalisme. Tak beda jauh dengan apa yang dialami sarung di jaman Kolonial, di tahun-tahun tersebut, penyebutan “kaum sarung” juga tak kalah sinisnya.

Baca Juga: Dinamika dan Dilema Industri Fesyen Muslimah, Dari Jilboobs Hingga Solehot

Jaman pun berubah kala postradisionalisme dan wacana tradisi menyeruak merebut tempat dalam perbincangan seputar relasi agama-budaya. Bangkitnya kesadaran kaum santri dan peranannya dalam percaturan politik nasional, sedikit banyak mendorong lahirnya kesadaran baru mengenai posisi kultural kaum pesantren di abad modern. Sarung kini jadi simbol kebanggaan dan trend. Hal ini seiring dengan munculnya satu wacana keagamaan puritan, yang tak mau kalah juga meng-endorse model berpakaian yang ngarab sebagai satu-satunya pakaian yang dianggap islami, syar’i dan sunnah, lalu mengklaim model lain di luar itu sebagai bid’ah.

Artikel ini akan mewakili serial artikel lainnya tentang hikayat sarung. Ya sarung, yang biasa dipakai bapak-bapak di kampung sambil ngerokok dan ngopi di sore hari. Sarung menurut saya adalah problem kebudayaan yang penting kita angkat kembali di tengah pertarungan wacana keagamaan yang kini sudah masuk ke dalam doktrin fashion dan life style. Kalau ada pihak-pihak yang menganggap simbol pakaian sama pentingnya dengan ideologi itu sendiri, ya sarung juga begitu.

REKOMENDASI

Mbah Maimoen Zubair, Ulama Pakubumi yang Lahir Bersamaan Dengan Pekikan Sumpah Pemuda 1928

Harakah.id - Mbah Maimoen Zubair al-maghfurlah adalah salah seorang ulama pakubumi yang lahir bertepatan dengan Sumpah Pemuda. Selama hidupnya, Mbah Maimoen...

Bukan Untuk Diperdebatkan Haram-Halalnya, Maulid Nabi Adalah Momentum Meniru Keteladanan Muhammad

Harakah.id - Maulid Nabi sebenarnya adalah momentum berharga untuk meniru dan belajar dari keteladanan Nabi Muhammad. Maulid Nabi bukan justru waktu...

Kiai Abbas Di Pertempuran Surabaya 1945, Dari Membentuk Telik Sandi Sampai Menghancurkan Pesawat Dengan...

Harakah.id - Kiai Abbas di pertempuran Surabaya 1945 tidak hanya berperan sebagai pasukan, tapi juga komandan dan perumus strategi perlawanan. Selain...

Felix Siauw, Buku Muhammad Al-Fatih 1453 dan Kedaulatan Negara dalam Bayang-Bayang Bahaya Eks HTI

Harakah.id - Felix Siauw kembali membuat negeri ini heboh. Heboh sebab pembatalan surat edaran Dinas Pendidikan Bangka Belitung (Disdik Babel) yang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...