Hip-hop Araby: Cara Anak Muda Palestina Merespon Normalisasi Arab-Israel

0
83

Harakah.idGenre musik Hip-hop Araby tumbuh di kalangan anak muda Palestina sebagai alat untuk menyampaikan aspirasi, identitas dan strategi resistensi terhadap otoritas. Seperti apa hip-hop Araby?

Saat ini harapan Palestina terhimpit akibat terjadinya normalisasi di beberapa negara Timur Tengah, khususnya negara teluk –UAE dan Bahrain- dengan Israel. Walaupun  demikian, masyarakat Palestina tidak akan tinggal diam. Mereka akan terus bertahan melalui jalur kultur. Salah satunya musik genre hip-hop.

Musik hip-hop memiliki karakter dan fungsi yang berbeda dibanding dengan musik lainnya. Genre ini memiliki kekuatan dan keunggulan. Salah satunya ada pada fungsinya sebagai alat resistansi yang biasa digunakan rakyat untuk menyampaikan aspirasinya pada pemerintah. Seperti yang terjadi di negara pertama kali genre ini muncul yaitu Amerika. 

Saat itu rakyat Amerika berbondong-bondong mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintahan, sedangkan di Timur Tengah, genre ini juga sudah sering digunakan oleh para Musisi saat persitiwa Arab Spring berlangsung. Di sisi lain, karakteristik musik hip-hop yang juga dikenal dengan istilah “rap” memiliki arti cepat, mampu memberikan nuansa enerjik dan gelora semangat. Hal ini tercermin dari tune dan lirik yang dinyanyikan dengan teknik cepat. Musik ini biasanya diiringi dengan tarian breakdance. Sebuah gaya tari jalanan yang pertama kali ditunjukkan oleh anak muda African-American.

Namun, ada beberapa hal yang menarik dengan hip-hop Araby. Hip-hop jenis ini tidak mentah mengadopsi gaya yang kental dengan budaya barat. Ia telah mengalami akulturasi dengan budaya setempat. Misalnya, jika hip-hop awal mulanya dinyanyikan menggunakan bahasa Inggris. Maka, hip-hop yang berkembang di Dunia Arab menggunakan bahasa Inggris, Arab fusha-amiyah, bahkan beberapa penyanyi ada yang menggunakan bahasa Spanyol. Hal ini terjadi karena beberapa alasan. 

Pertama,  para Musisi hip-hop yang berdarah Palestina tersebar di seluruh penjuru dunia. Salah satunya, data menyebutkan bahwa negara berbahasa Spanyol, Chili merupakan negara non-Timur Tengah dengan jumlah terbanyak diaspora Palestina. 

Kedua, para Musisi ini tidak sekadar menghibur sebagaimana normalnya para Musisi, tidak lain mereka juga memainkan peran sebagai agen pejuang kemerdekaan. Dinyanyikannya lagu-lagu hip-hop Araby dengan lebih dari satu bahasa bertujuan untuk menyerap audiens yang lebih luas. Harapan mereka sematkan agar para penikmat lagu mereka dapat turut bersimpati, mendukung dan turut menyuarakan hak-hak rakyat Palestina. 

Ketiga, Hampir lagu-lagu bergenre hip-hop di Palestina berputar pada tema intifadah, resistansi, identitas, represi, kebebasan dan nasionalisme. Salah satunya seorang Penyanyi hip-hop Perempuan Arab pertama, Shadia Mansour, lagu-lagunya diklaim sebagai Musik Intifadah.  Dia merupakan diaspora Palestina yang lahir dan hidup di London dari orang tua yang berasal dari Haifa dan Nazareth. Keluarganya hidup di sebuah kawasan imigran Arab Palestina di London.

Keempat, posisi breakdance digantikan oleh “Dabke”, tarian tradisional masyarakat Levant yang populer di Palestina, Yordania, Lebanon, Suriah, dan Irak. Tarian ini biasanya ditampilkan pada acara-acara bahagia seperti pernikahan dan acara formal tetapi pada beberapa waktu lalu juga pernah ditampilkan pada peristiwa “Great March of Return.”

Kelima, atribut yang dikenakan oleh para Musisi terkadang tidak lepas dari simbol identitas Palestina. Meski tidak terbatas pada Musisi hip-hop, beberapa Musisi genre lainnya turut mengenakan “Kūfīyyah”. Kūfīyyah merupakan kain penutup kepala dengan pola dan corak tertentu seperti pola rantai hitam dan putih –atau biasa kita kenal dengan istilah sorban- yang mempresentasikan simbol identitas Palestina. 

Pada peristiwa “Arab Revolt” di tahun 1936. Beberapa masyarakat Palestina melakukan pemberontakan melawan otoritas Inggris yang saat itu menduduki wilayah tersebut. Saat melakukan pemberontakan, mereka mengenakan kūfīyyah untuk menyembunyikan identitas dan mengelabui lawan. Hal ini mereka lakukan untuk menghindari penangkapan. Kemudian, ketika otoritas Inggris melarang pemakaian kūfīyyah, semua warga Palestina mulai memakainya beramai-ramai supaya lawan semakin sulit mengidentifikasi.

Peristiwa ini mengubah kūfīyyah menjadi simbol perlawanan di Palestina yang masih berlanjut hingga hari ini. Simbol ini menguat selama masa Intifadah pertama pada tahun 1987 dan berlanjut pada Intifadah kedua pada tahun 2000. Yasser Arafat yang saat itu menjabat sebagai Presiden Palestina memiliki peran penting mempromosikan kūfīyyah sebagai simbol abadi perjuangan Palestina. Ia juga nyaris tak pernah lupa mengenakan kūfīyyahnya saat tampil di depan publik.

Resistansi Populer: Diaspora dan Lahirnya Bibit Baru 

Akhir-akhir ini, Sebuah band musik hip-hop bernama “47 Soul” beranggotakan tiga musisi asal Palestina, London dan Amerika Serikat meluncurkan sebuah debut baru. Dalam debut ini, “47 Soul” berkolaborasi dengan 2 Musisi hip-hop perempuan yaitu Shadia Mansour (Inggris-Palestina) dan Fedzilla (Jerman-Chili) dalam lagu yang diberi judul “Border Ctrl” mengisahkan tentang Check Point dan perbatasan wilayah. Tergambar dalam potongan lirik berikut:

We gonna dissolve

Kami akan lenyapkan

This Mexico-Bethlehem Wall

Tembok Meksiko-Bethlehem ini

If you hear us heed the Call

Jika kalian mendengar kami, perhatikan panggilan ini

و تفضل على الصف

Silahkan berbaris

الكل يتفضل على الصف

Semuanya, silakan berbaris

هاي طلبوا الهوية

Hai, mereka (Penjaga Perbatasan) meminta kartu Identitas

ورقة مختومة, طلب مفروض

Dokumen distempel, Izin ditolak

Documento estampado permiso rechazado

Dokumen berstempel, izin ditolak,

Juntos enfrentamos injusticias del Estado

Bersama-sama kita menghadapi ketidakadilan negara

Palestino Latino Andino no será callado

Palestina, Latino, Andes tidak akan diam

Secara lirik dan instrumental, lagu ini menyerukan persatuan antar orang-orang Amerika Latin dan Timur Tengah yang dalam sejarah pernah mengalami pembatasan perjalanan, penganiayaan oleh kolonial, dan tembok pemisah tanah air [5]. Selain itu, lagu tersebut juga menekankan pada kata”Huwiyyah” yang berarti identitas. Dalam video klipnya, simbol Identitas tampak divisualisasikan melalui atribut yang dipakai oleh para penyanyi. Tiga Anggota 47 Soul yang semuanya lelaki ini, mengenakan T-Shirt dengan ragam gambar yang berbeda tiap orang. Ketiganya melapisi T-Shirt tersebut dengan jaket yang mereka kenakan dan sesekali mereka tunjukkan ke hadapan kamera.

Dalam video tersebut, Walaa Sbait memakai sebuah T-Shirt hitam dengan sablon peta Palestina, Ramzy Suleiman mengenakan T-shirt kuning dengan tulisan merah “Diaspora” dan milik Tareq Abu Kwaik bertuliskan “Homeland Security Fighting Terrorism Since 1492” dengan gambar 4 orang badui menenteng senjata laras panjang. 

Selain mereka, Shadia Mansour juga turut mengeksiskan produksi budaya Palestina. Dia mengenakan thaub, sebuah abaya hitam dengan sulaman khas Palestina. Ini bukan pertama kalinya ia mengenakan thaub. Nyaris dalam semua penampilannya baik dalam video klip ataupun saat tampil di panggung. Ia jarang tampil tanpa thaub atau  kūfīyyahnya. Bahkan, ia juga memiliki debutnya sendiri yang berjudul “El Kofiya El Arabiya”

Tak jauh dari waktu rilisnya debut baru 47 Soul. Seorang anak laki-laki berusia 11 tahun asal Gaza bernama Abdel-Rahman Al-Shantti viral di media lantaran video rap-nya yang ia unggah di akun Instagramnya. Bertempat di depan sekolah, tampak ia bernyanyi dalam bahasa Inggris dikelilingi teman-teman sekolahnya. Meskipun, bahasa Arab adalah bahasa pertamanya. Ia cukup fasih melantunkan lirik lagu yang diciptakannya dalam bahasa Inggris. Dalam lagunya, ia mengisahkan tentang perang dan kehidupan yang sulit di Gaza. Ia juga mengklaim bahwa lagu yang dibawakannya membawakan pesan perdamaian.

Kemunculan Al-Shantti di tengah proses normalisasi hubungan negara-negara Arab dengan Israel ini memberikan harapan baru industri budaya dalam musik hip-hop. Andersen berpendapat bahwa hip-hop Palestina hari ini terdiri dari berbagai seniman baik di dalam atau di luar Palestina. Tidak pula hanya menambahkan genre baru ke Palestina kontemporer. Namun juga mewujudkan identitas subkultural dan koneksi untuk generasi Palestina yang baru. Para diaspora yang terpisah secara fisik mencari persatuan dan sumber representasi baru. Selain itu, dalam tulisannya ia juga menulis tentang program kaderisasi Musisi hip-hop yang diwadahi dalam ajang acara “HipHopKom” (HipHopKalian), sebuah ajang pencarian bakat generasi baru Musisi hip-hop Palestina. Acara ini diinisiasi oleh seniman hip-hop pasca kekecewaan mereka pada sebuah ajang serupa yang diadakan di Dubai, tidak mempresentasikan satu pun seniman Palestina pada ajang tersebut.

Meski, Kondisi Palestina semakin terhimpit. Menurut Massad, memang lagu-lagu tidak memiliki peran secara langsung untuk membuat Palestina merdeka. Namun setidaknya, melalui musik dapat mengekspresikan dan menunjukkan dinamika perjuangan Palestina. Selain itu, Musik bukan sekedar hiburan, lebih dari itu musik dapat menyentuh ranah psikologis penikmatnya. Dalam konteks Hip-hop, khususnya pada hip-hop Araby yang secara substansi menyuarakan harapan dan kemerdekaan Palestina, para penikmat bisa saja tersentuh dan gairahnya terbangkitkan untuk membela atau menumbuhkan rasa simpatinya pada Palestina. 

Terakhir, sebuah kalimat yang mengesankan bagi penulis adalah sebuah tulisan dari Safieh dalam buku Palestinian Music and Song tertulis “Where many Palestinian are concerned, a song will never be only a song, but an act of resistance” (Di saat banyak orang-orang Palestina (semakin) khawatir, sebuah lagu tidak akan pernah menjadi sekadar lagu, tetapi sebuah tindakan resistansi). Namun musik tetaplah musik, ia hanya bentuk resitansi. Bagaimanapun, kemerdekaan Palestina hanya bisa diraih melalui jalur Politik. Setidaknya, dengan makin suburnya jumlah seniman di tanah Palestina, khususnya Musisi Hip-hop merupakan sebuah harapan dan pengingat untuk tidak menyurutkan semangat melepaskan belenggu penjajahan. 

Artikel kiriman dari  Iqomah Richtig, Mahasiswi Kajian Timur Tengah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.