Beranda Khazanah Hubungan Ideal Ulama dan Umara Menurut Imam Al-Ghazali

Hubungan Ideal Ulama dan Umara Menurut Imam Al-Ghazali

Harakah.id – Ulama adalah guru bagi para penguasa.

Imam al-Ghazali mengatakan bahwa hubungan ulama dengan penguasa adalah ulama sebagai guru dan pengausa sebagai murid. Dengan demikian jika ulama menasihati pada penguasa (pemerintah) dan penguasa mematuhi nasihat tersebut, maka bisa dikatakan wujudnya cinta tanah air dari dua pihak.

  1. Kepatuhan penguasa pada ulama sama seperti kepatuhan murid pada guru. Dengan demikian bisa dianggap cinta tanah air dari pihak penguasa.
  2. Nasehat ulama pada penguasa/pemerintah sama halnya nasihat guru kepada muridnya. Dengan demikian bisa dianggap cinta tanah air dari pihak ulama.

Imam al-Ghazali menganalisis dan mengkaji secara mendalam tentang posisi ulama dengan penguasa dan akhirnya beliau menyimpulkan hubungan keduanya bagaikan guru dan murid dengan alasan sebagai berikut:

فالفقيه هوالعالم بقانون السياسة وطريق التوسط بين الخلق إذا تنازعوا بحكم الشهوات فكان الفقيه معلم السلطان ومرشده إلى طرق سياسة الخلق وضبطهم لينتظم باستقامتهم أمورهم في النياء …..الخ (إحياء علوم الدين-كتاب العلم الباب الثاني: في فرض العين وفرض الكفاية)

Sulthan atau penguasa tugasnya mengurusi rakyat. Sementara sulthan sendiri untuk mengurusi rakyat membutuhkan sebuah undang-undang. Sedangkan ahli fiqih atau ulama ialah orang yang tahu tentang undang-undang siyasah. Jadi, ahli fiqih atau ulama itu posisinya adalah gurunya sulthan atau penguasa dan tugas guru ialah menjelaskan atau meluruskan murid jika sang murid berjalan tidak sesuai materi undang-undang. (Ihya Ulumuddin; Juz 1, Hal 18)

والملك والدين توأمان فالدين أصل والسلطان حارس ومالا أصل له فمهدوم وما لا حارس له فضائع… (إحياء علوم الدين-كتاب العلم الباب الثاني: في فرض العين وفرض الكفاية)

Kesimpulannya adalah al-Ghazali mengibaratkan agama atau ulama dan sulthan keduanya adalah sebagai anak kembar. Agama adalah podasi, sulthan adalah penjaganya, sesuatu yang tanpa podasi akan mudah runtuh, dan sesuatu tanpa penjaga akan hilang. Keberadaan sulthan merupakan keharusan bagi ketertiban dunia, ketertiban dunia merupakan keharusan bagi ketertiban agama, dan ketertiban agama merupakan keharusan bagi tercapainya kesejahteraan akhirat. Degan demikian terdapat ikatan erat antara dunia dan agama bagi tegaknya wibawa dan kedaulatan negara melalui kepala negara yang ditaati dan yang mampu melindungi kepentingan rakyat, baik duniawi maupun ukhrawi. (Ihya Ulumuddin; Juz 1, Hal 18)

Berpijak dari rumusan Imam al-Ghazali yang berupa adanya ikatan kuat antara ulama sebagai guru dan penguasa sebagai murid maka adanya sebuah akhlak yang harus dilakukan keduanya sebagai hadits Nabi: “Sesungguhnya saya bagimu adalah seperti orang tua kepada anaknya.” (HR. Abu Daud, An-Nasa’I, Ibnu Majah dan Ibnu Hibbah dari Hadits Abu Hurairah)

Hadits di atas merupakan  salah satu hadits yang menerangkan tentang salah satu akhlak pendidikan terhadap anak didiknya sebagaimana kejelasan bapak pendidikan Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin bab ilmu, yaitu menganggap anak didik seperti anaknya sendiri.

Dalam masalah hadits di atas Imam al-Ghazali dalam kitabnya berkata:

(والوظيفة الأولى) الشفقة على المتعلمين وان يجريهم مجرى بنيه قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم “انما انالكم مثل الوالد لولده” بأن يقصد إنقاذهم من نار الآخرة….الخ (احياء علوم الدين باب علم)

Tugas guru yang ke satu ia hendaknya mencintai muridnya dan guru hendaknya mengasihi anak didiknya dengan memperlakukan mereka sebagai anaknya sendiri, Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya saya bagi kamu semua seperti bapak terhadap anaknya,” dan dengan tujuan menyelamatkan murid dari api neraka.

Imam Murtadlo Muhammad bin Muhammad al-Husainy Az-Zubaidy, dalam kitab Al-Ittihaf As-Sadah Al-Muttaqin syarah Ihya Ulumuddin menjelaskan maksud ucapan Imam al-Ghazali ialah:

(والوظيفة الأولى) من الوظائف السّبعة (الشفقة على المتعلمين) بصرف الهمة على ازلة المكروه عنهم (وان يجريهم مجرى بنيه) في تلك الشفقة (قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم “انما انالكم مثل الوالد لولده”)…..(بأن يقصد إنقاذهم) اي تخلصهم (من) عذاب (نار الآخرة وهو أهم من إنقاذالوالدين ولدهما من نار الدنيا) اي من مشاقها –إتحاف السادة المتقين بشرح إحياءعلوم الدين في باب العلم

Tugas guru yang ke satu dari tujuh beberapa tugas yang wajib dilakukan oleh guru ialah ia hendaknya mencintai muridnya dengan menghilangkan segala perasaan yang membencinya dan guru hendaknya mengasihi anak didiknya dengan memperlakukan mereka sebagai anaknya sendiri, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya saya bagi kamu semua seperti bapak terhadap anaknya,” dan dengan tujuan menyelamatkan murid dari api neraka. (Al-Ittihaf As-Sadah Al-Muttaqin).

Demikian penjelasan mengenai pemikiran Imam al-Ghazali tentang hubungan yang ideal antara ulama dan umara. Intinya, menurut Imam al-Ghazali, ulama adalah guru bagi para penguasa. Idealnya, ulama memandang para penguasa dengan pandangan kasih sayang. Seperti guru atau orang tua yang menyayangi anaknya. Penguasa menghormati ulama karena pengetahuan mereka yang mendalam tentang aturan kehidupan.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...