Beranda Khazanah Hubungan Islam dan Budaya Yang Seperti Saringan dan Air

Hubungan Islam dan Budaya Yang Seperti Saringan dan Air

Harakah.id Islam berposisi sebagai penyaring budaya. Sehingga budaya yang tadinya punya unsur-unsur kesyirikan, disaring menjadi budaya yang jernih (bersih) dari unsur-unsur kesyirikan.

Agama bisa jalan bersama budaya, pun budaya juga bisa jalan bersama agama. Dan lebih asik jalan sama-sama, sebab kalau jalan sendiri takutnya ada setan datang menghampiri. Just joke, bro. Joke ber-faedah.

Hari ini, kenapa budaya dan agama seakan tak sejalan. Bahkan budaya kerap dianggap musuh bebuyutan agama. Sebab, sering kali, agama dan budaya dianggap sebagai dua hal yang sangat bertentangan. Kondisi ini diperparah oleh sikap keras mereka yang sangat menentang warisan budaya leluhur Nusantara yang sudah diakulturasikan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Anggapannya, kalau budaya warisan leluhur seperti halnya makanan haram yang tak bisa dikonsumsi sama sekali.

Budaya bukan makanan haram. Sebab budaya adalah hasil dari cipta, rasa, dan karsa manusia yang bisa saja sejalan dengan nilai-nilai Islam. Namun, bisa juga tak sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Ada banyak respon tentang hubungan agama dan budaya. Selain respon di atas bahwa agama dan budaya bertentangan, ada juga respon kalau agama dan budaya tidak bertentangan, dan ada juga respon dari pandangan kebanyakan pemikir barat yang memandang bahwa agama termasuk budaya. Misalnya pandangan dari Michel Foucault dalam The Oxford Handbook of the Sociology of Religion dalam Inger Furseth Religion in the Works of Habermas, Bordieu, and Foucault, bahwa katanya, “… religion and culture are integrated….” Jadi, agama dan budaya itu satu (terintegrasi).

Pandangan seperti ini menurut Prof. M. Abdul Karim dalam bukunya Islam Nusantara, bahwa kemungkinan besar dipengaruhi oleh aliran Positivisme yang memandang kalau agama merupakan manifestasi dari cipta, rasa, dan karsa, atau dengan kata lain sama dengan ekspresi kebudayaan.

Pandangan demikian hadir karena wahyu tidak dipandang sebagai sesuatu yang positif. Atau tidak dipandang sebagai firman Tuhan. Namun, hanya dipandang sebagai produk dari manusia-manusia yang dianggap suci. Eh, jangan marah, sebab itu pendapat orang. Lagian, dalam konteks agama secara umum, memang ada juga agama yang merupakan hasil dari kebudayaan atau ekspresi kebudayaan.

Sebagai muslim, kita meyakini kalau agama Islam jelas bukan ekspresi budaya dan juga Islam bukan sekadar budaya. Sebab kita harus benar-benar meyakini bahwa al-Qur’an–inti dari ajaran Islam–adalah benar-benar firman Tuhan, dan bukan karangan manusia.

Budaya sebagai hasil dari daya budi manusia, atau hasil dari cipta, rasa, dan karsa manusia, sementara al-Qur’an adalah firman Tuhan bukan hasil cipta, rasa, dan karsa manusia. Maka agama Islam jelas bukan ekspresi budaya atau sekadar budaya. Sebab Tuhan bukan manusia.

Ajaran Islam sendiri menghasilkan budaya, sebab budaya akan muncul secara alami dalam pengamalan hidup manusia. Misalnya, mendirikan salat jelas adalah perintah Tuhan dalam al- Qur’an. Namun, al-Qur’an tidak menjelaskan bagaimana gerakan-gerakan dalam salat.

Maka Nabi Muhammad SAW pun mengajarkan bagaimana gerakan-gerakan dalam mengerjakan salat. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat.” Sehingga gerakan salat adalah budaya atau hasil dari cipta, rasa, dan karsa manusia. Kenapa gerakan salat adalah budaya? Sebab gerakan salat bukan dari firman Tuhan.

“Gerakan salat ‘kan printah Nabi, sehingga jelas adalah ajaran!”

Ya, salat adalah ajaran, namun juga budaya. Kembali lagi pada pengertian dasar budaya sebagai hasil dari daya budi manusia atau hasil dari cipta, rasa, dan karsa manusia. Karena Nabi Muhammad SAW adalah manusia, “katakanlah aku Muhammad adalah hamba Allah dan rasul-Nya.” Maka gerakan salat adalah budaya. Jadi, dari segi pelaksanaan, salat adalah perintah bukan budaya, sementara gerakan-gerakan dalam mengerjakan salat adalah budaya.

Namun jelas budaya dari Nabi Muhammad SAW yang adalah Rasul Allah, tak bisa kita pahami sebagaimana budaya lain yang berasal dari manusia biasa. Sehingga walau gerakan salat adalah budaya, namun tetap tak bisa dimodifikasi semaunya. Misalnya, maunya sujud dulu baru ruku, ya tak bisa. Karena sebagaimana firman Allah swt dalam Ali Imran ayat 31, “Katakanlah: Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Nabi Muhammad saw), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ini jelas firman Tuhan, dan Tuhan bukan manusia. Sehingga mengikuti Nabi Muhammad SAW itu adalah perintah. Maka gerakan salat adalah budaya yang wajib diikuti.

Poinnya adalah bahwa ajaran Islam sendiri melahirkan budaya dalam pengamalannya. Dan dalam aspek kebudayaan Islam ada yang bisa dikembangkan dan ada budaya yang berasal dari Nabi Muhammad SAW yang sifatnya sudah finish (tak bisa lagi dikembangkan), misalnya adalah gerakan salat.

Berdasarkan argumen tersebut, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya Islam tak melarang budaya. Sebab jika dikatakan Islam melarang budaya, maka hal ini akan menimbulkan kerancuan dengan budaya-budaya yang secara alami lahir dari pengamalan masyarakat muslim dalam menjalankan ajaran Islam.

Itu kasus di mana ajaran Islam melahirkan budaya. Lantas, bagaimana kalau Islam yang berhadapan dengan budaya lain? Misalnya, saat penyebaran Islam di Nusantara, ajaran Islam diperhadapkan dengan masyarakat Nusantara yang juga memiliki budayanya sendiri.

Contoh dari Nabi Muhammad SAW yang paling mendekati kasus ini adalah saat Nabi Muhammad SAW mengakulturasikan ritual dalam budaya masyarakat Arab dengan ritual haji dan umrah. Di mana sebelum agama Islam hadir, tawaf (ritual keliling Kakbah) sudah dilakukan oleh masyarakat Arab. 

Dan Nabi Muhammad SAW pun juga tetap melaksanakan tawaf, hingga hari ini kita mengenal tawaf sebagai bagian dari ritual ibadah haji dan umrah. Dalam kasus tawaf, sikap Nabi SAWtak kemudian menolak mentah-mentah hanya karena tawaf sudah menjadi ritual dalam budaya masyarakat Arab Jahiliah. Nabi Muhammad SAW justru tetap mengamalkan tawaf, namun tawafnya Nabi SAW disesuaikan dengan nilai-nilai ajaran Islam.

Jika tawaf masyarakat Arab telanjang. Maka Nabi SAW mengarahkan agar umat muslim mengenakan kain untuk menutup aurat dalam melakukan tawaf. Tak boleh muslim tawaf telanjang, sebab itu akan menampakkan aurat yang seharusnya ditutupi. 

Dalam contoh kasus itu, Islam berperan sebagai penyaring budaya. Islam menyaring budaya, sehingga yang tidak sesuai dengan ajaran Islam dihilangkan dan diganti dengan yang sesuai. Dan yang sudah sesuai atau tidak bertentangan dengan ajaran Islam, tetap dipertahankan. Jauh sebelum istilah akulturasi budaya dikenal, Nabi Muhammad SAW sudah melakukannya.

Poinnya adalah posisi Islam ketika diperhadapkan dengan budaya lain, maka Islam bukan sebagai perusak atau penghapus yang menghapus total budaya yang sudah ada dalam masyarakat. Namun, Islam berposisi sebagai penyaring budaya. Sehingga budaya yang tadinya punya unsur-unsur kesyirikan, disaring menjadi budaya yang jernih (bersih) dari unsur-unsur kesyirikan. Inilah yang dinamakan dengan akulturasi budaya, saat dua budaya yang berbeda bertemu dan saling melengkapi, bukan merusak.

Baca juga :

Selain Sebagai Tempat Ibadah, Masjid Berfungsi Sebagai Ruang Sosial dan Kebudayaan

Hal ini sangat dipahami oleh ulama-ulama Nusantara yang menyebarkan Islam di Nusantara. Sehingga saat penyebaran Islam di Nusantara, terjadilah akulturasi antara ajaran Islam dengan budaya masyarakat Nusantara.

Akulturasi budaya inilah yang melahirkan banyak budaya-budaya Islam lokal yang ada di berbagai daerah di Nusantara. Misalnya, masyarakat Nusantara dulu gemar kumpul-kumpul bersama memberi sesajen makanan untuk ritual animisme. Saat Islam hadir, makanannya masih ada dan ritual penyembahan roh-roh nenek moyang diganti dengan dzikir (mengangungkan nama Allah swt) bersama. Sebab yang haram adalah ritual animisme-nya, sementara kumpul-kumpul dan makan bersama tak haram bahkan bisa jadi sarana syi’ar Islam di kalangan masyarakat muslim Nusantara.

Jika kita memahami hal ini, maka kita akan paham kenapa ada banyak budaya-budaya Islam lokal di berbagai daerah di Nusantara. Bukan karena ulama dulu tak paham apa itu bidah. Namun, karena mereka mampu memahami bahwa posisi agama itu layaknya saringan, dan budaya layaknya air yang harus disaring agar bisa jernih.

Kalau budayanya terlalu banyak lumut dan lumpur, sehingga tak bisa disaring lagi, ya dibuang saja. Namun, selagi budaya itu bisa disaring menjadi air yang jernih, maka Islam akan menjadi penyaring yang menjernihkan budaya dari nilai-nilai yang tak sejalan dengan Islam.

Dan hal ini telah dilakukan oleh ulama-ulama Nusantara dulu saat menyebarkan Islam di Nusantara. Sehingganya jangan ragu untuk menjalankan berbagai budaya Islam lokal di Nusantara. Insya Allah jernih dari unsur-unsur syirik. Karena budaya yang tadinya berupa air kotor, oleh para ulama penyebar Islam di Nusantara telah disaring dengan ajaran Islam, menjadi air jernih berupa budaya Islam Nusantara.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...