Hubungan Islam dan Hak Asasi Manusia yang Rumit, Antara Dukungan dan Penentangan

0
89

Harakah.id Dalam Islam, konsep yang ditawarkan dalam Hak Asasi Manusia (HAM) sebenarnya tercakup dalam Maqasid asy-Syari’ah adh-Dharuriyah.

Hubungan Islam dan Hak Asasi Manusia. Hak Asasi Manusia (HAM) adalah produk yang sangat fenomenal yang diciptakan untuk mengatur dan melindungi hak-hak dasar manusia.

Dalam sejarahnya, HAM dideklarasikan pada 10 Desember 1948. Deklarasi Universal tentang Hak-Hak Dasar Manusia. Setelah deklarasi itu, konsep HAM berkembang dalam 3 periode; hak politik dan sipil, hak ekonomi dan sosial, dan terakhir hak perdamaian dan pembangunan (Abdillah, 2014)

Penerimaan atas konsep HAM berkembang begitu pesat di seluruh dunia. Konsep HAM masuk dalam isu politik, ekonomi bahkan masuk dalam ranah keagamaan, terutama Islam. Islam adalah agama yang diakui memiliki ajaran yang komplek. Di dalamnya terkandung ajaran ubudiyah, ilahiyah, aqidah, insaniyah dan lain sebagainya.

Bagaimana respon Islam terhadap Hak Asasi Manusia? Konsep HAM menawarkan kebebasan dan kesetaraan dalam kemanusiaan. Baik laki-laki maupun perempuan. Baik itu Muslim atau non Muslim. Apapun yang berkaitan dengan kemanusiaan dianggap setara dalam kerangka HAM.

Dalam Islam, konsep yang ditawarkan dalam Hak Asasi Manusia (HAM) sebenarnya tercakup dalam Maqasid asy-Syari’ah adh-Dharuriyah. Ada 5 hak dasar yang harus dijaga oleh setiap manusia, meliputi 1) Menjaga agama, 2) Menjaga jiwa 3) Menjaga akal 4) Menjaga keturunan 5) Menjaga harta (Abdillah, 2014).

Meski banyak konsep dalam Islam yang mendukung HAM, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa ada konsep dalam Islam yang seakan bertentangan dengan konsep-konsep dalam HAM. Terdapat teks keagamaan yang seakan berisi penolakan terhadap kesetaraan agama, dan bahkan penyetaraan antara laki-laki dan perempuan. Di antaranya, diriwayatkan bahwa:

 وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” ‌أُمِرْتُ ‌أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَمَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَدْ عَصَمَ مِنِّي مَالَهُ وَنَفْسَهُ إِلَّا بِحَقِّهِ، وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ

Rasulullah ﷺ telah bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi; tidak ada ilah (yang berhak disembah) kecuali Allah semata dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka lakukan yang demikian maka mereka telah memelihara darah dan harta mereka dariku kecuali dengan haq Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah” (HR. Bukhari)

يُوْصِيْكُمُ اللّٰهُ فِيْٓ اَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْاُنْثَيَيْنِ ۚ فَاِنْ كُنَّ نِسَاۤءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ ۚ وَاِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ ۗ وَلِاَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ اِنْ كَانَ لَهٗ وَلَدٌ ۚ فَاِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّهٗ وَلَدٌ وَّوَرِثَهٗٓ اَبَوٰهُ فَلِاُمِّهِ الثُّلُثُ ۚ فَاِنْ كَانَ لَهٗٓ اِخْوَةٌ فَلِاُمِّهِ السُّدُسُ مِنْۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُّوْصِيْ بِهَآ اَوْ دَيْنٍ ۗ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْۚ لَا تَدْرُوْنَ اَيُّهُمْ اَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا ۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًا

Allah mensyariatkan (mewajibkan) kepadamu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu, (yaitu) bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Jika anak itu semuanya perempuan yang jumlahnya lebih dari dua, bagian mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Jika dia (anak perempuan) itu seorang saja, dia memperoleh setengah (harta yang ditinggalkan). Untuk kedua orang tua, bagian masing-masing seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika dia (yang meninggal) mempunyai anak. Jika dia (yang meninggal) tidak mempunyai anak dan dia diwarisi oleh kedua orang tuanya (saja), ibunya mendapat sepertiga. Jika dia (yang meninggal) mempunyai beberapa saudara, ibunya mendapat seperenam. (Warisan tersebut dibagi) setelah (dipenuhi) wasiat yang dibuatnya atau (dan dilunasi) utangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih banyak manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. (Qs. An-Nisa : 11)

Ayat dan hadis di atas, jika dilihat secara tekstual, maka dapat dikatakan bahwa teks Islam bertentangan dengan apa yang telah dikonsepkan oleh HAM. Dalam teks hadis di atas, ada perintah bahwa setiap orang yang tidak masuk Islam harus dibunuh. Ayat di atas juga seakan merupakan bentuk ketidak-adilan terhadap wanita. Dimana pembagian warisan terdapat perbedaan jumlah.

Terdapat pula teks yang menunjukan bahwa Islam sendiri merupakan pendukung konsep HAM. Di antaranya

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا ࣖ

Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna. ( Qs. Al-Isra’ : 70 )

عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَى عَنْ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ قَالَ يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا

Dari Abu Dzar dari Rasulullah dalam meriwayatkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berbunyi, “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan diri-Ku untuk berbuat zalim dan perbuatan zalim itu pun Aku haramkan diantara kalian. Oleh karena itu, janganlah kalian saling berbuat zalim (HR. Bukhari)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «‌مَنْ ‌حَمَلَ ‌عَلَيْنَا ‌السِّلَاحَ فَلَيْسَ مِنَّا»

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma dari Nabi bersabda, “Barangsiapa yang menghunuskan kepada kami, maka bukan golongan kami.” Abu Musa meriwayatkannya dari Nabi. (HR. al-Bukhari)

Dalil-dalil di atas dapat menjadi bukti bahwa Islam adalah agama yang menghormati segala hak asasi manusia.

Dengan demikian, Hak Asasi Manusia (HAM) adalah sebentuk aturan yang diciptakan untuk menghormati segala bentuk hak dasar manusia, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial maupun keagamaan. Sejarah panjang Islam yang berusaha menyesuaikan diri dengan konsep HAM adalah bentuk dari kerumitan HAM itu sendiri. Semoga ulasan tentang “Hubungan Islam dan Hak Asasi Manusia yang Rumit, Antara Dukungan dan Penentangan” ini bermanfaat bagi pembaca.

 Artikel berjudul “Hubungan Islam dan Hak Asasi Manusia yang Rumit, Antara Dukungan dan Penentangan ini adalah kiriman dari Faisal Rojihiswal, Mahasiswa Prodi Ilmu Hadis, UIN Jakarta