Hubungan Sesama Manusia dalam Al-Quran, Tuntunan Menciptakan Kedamaian di Bumi

0
102

Harakah.idSejumlah tuntunan disebut dalam Al-Quran untuk menciptakan rasa cinta di antara sesama umat manusia, menumbuhkan sikap saling bersahabat dan meredam perang di antara sesama manusia.

Manusia memiliki dunia yang unik. Relasi antar sesama manusia dalam sejarahnya dipenuhi dengan kebencian, permusuhan dan perang. Pada mulanya adalah kebencian. Terkadang berkembang menjadi permusuhan. Dalam skala yang besar, permusuhan menjadi perang. Di ini, perang merupakan puncak bencana kemanusiaan yang bersumber dari keinginan diri manusia untuk menguasai, mendominasi, dan mengontrol pihak lain.

Al-Quran datang tidak dengan membawa misi semacam itu. Al-Quran mengajarkan cinta, persahabatan dan perdamaian. Sejumlah tuntunan disebut dalam Al-Quran untuk menciptakan rasa cinta di antara sesama umat manusia, menumbuhkan sikap saling bersahabat dan meredam perang di antara sesama manusia.

Berikut ini adalah empat ayat Al-Quran mengajarkan prinsip-prinsip hubungan antara sesama manusia.

Perintah Bersikap Adil dan Ihsan

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (90)

Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia (juga) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu selalu ingat. (QS. Al-Nahl [16]: 90)

Dalam ayat ini terdapat kalimat perintah “Ya’mur” yang berarti menyuruh. Dalam prinsip penafsiran hukum, sebuah perintah punya arti dasar kewajiban. Artinya, perkara yang diperintahkan adalah sebuah kewajiban. Al-Quran menyebut sejumlah sikap yang wajib dilakukan umat Islam yang meliputi sikap adil, ihsan dan menjauhi perbuatan negatif seperti “kekejian”, “kemunkaran” dan “permusuhan”.

Adil dapat berarti meletakkan sesuatu pada tempatnya. Memberikan orang yang berhak atas haknya. Menahan orang yang memang berhak ditahan. Mematuhi peraturan bagi warga negara. Membuat kebijakan yang berorientasi pada kemaslahatan rakyat. Menghormati yang lebih tua. Menyayangi yang lebih muda. Dan lain sebagainya.

Al-Quran menegaskan tiga perkara yang harus dijauhi, meliputi al-fahsya’, al-munkar, dan al-baghyu. Al-Fahsya’ berarti sesuatu yang buruk penuh dengan kekejian, bisa berupa ucapan atau perbuatan. Muqatil, penafsir dari golongan tabi’in, mengatakan bahwa contoh perbuatan fahsya’ (keji) adalah perzinaan. Hal ini berdasarkan keterangan dalam Al-Quran bahwa perzinaan adalah fahisyah (perbuatan keji). Al-Munkar adalah kebalikan al-Ma’ruf. Al-Ma’ruf berarti sesuatu yang dikenal. Biasanya, sesuatu yang dikenal itu diterima. Sebaliknya, sesuatu yang tidak dikenal cenderung ditolak. Ma’ruf adalah kebaikan. Sedangkan munkar adalah keburukan. Biasanya, ma’ruf dan munkar dikaitkan dengan persoalan yang dinilai baik atau buruk oleh suatu masyarakat. Al-Baghyu merupakan bentuk kata dasar dari kata al-baghi (jamak; al-bughat). Kata ini berarti melampaui batas. Dalam tafsir Kemenag, al-baghyu diartikan permusuhan. Sedangkan dalam nomenklatur fiqih, al-baghi atau al-bughat berarti orang yang melawan pemerintah. Baik permusuhan maupun pemberontak adalah dua hal yang dinilai buruk dalam agama. Al-Quran menyuruh kita meninggalkannya.

Bersatu dan Bersaudara

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (103)

Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali Imran [3]: 103)

Al-Quran menjelaskan pentingnya persatuan dan persaudaraan. Allah SWT menggambarkan bahwa bangsa Arab dahulu berpecah-belah, bercerai-berai, karena memiliki sesembahan yang berbeda-beda. Setelah menerima Islam dengan ajaran tauhidnya, mereka terlunakkan hatinya, sehingga dapat bersatu. Mereka menjadi saudara dalam keislaman dan keimanan. Persatuan dan persaudaraan adalah nikmat Allah yang tiada bandingnya. Karenanya, harus dijaga. Umat Islam hari ini harus terus meyakini bahwa persatuan dan persaudaraan adalah nilai-nilai kebaikan yang harus terus dilestarikan dan diwujudkan.

Menyambung tali silaturahim

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ (22) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ (23(

Apakah seandainya berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaanmu?  Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah. Lalu, Dia menulikan (pendengaran) dan membutakan penglihatan mereka. (QS. Muhammad [47 ]: 23)

Salah satu nilai positif dalam relasi antara sesama umat manusia adalah menjalin hubungan kekeluargaan. Rasa kekeluargaan ini membuat kita seringkali tidak tega berbuat jahat kepada orang lain, dan senantiasa terdorong untuk berbuat yang baik-baik kepada orang yang kita anggap keluarga sendiri. Ini menjadi sesuatu yang diendorse oleh Al-Quran agar senantiasa dijaga. Tidak diputus  hubungan kekeluargaan itu.

Menjauhi Prasangka

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ (12)

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurat [49]: 12)

Al-Quran mengajarkan bahwa asal-muasal permusuhan adalah prasangka. Prasangka yang membuat kita benci pada pihak lain. Terkadang kita terjebak dalam prasangka kita sendiri atau prasangka yang dibuat oleh orang lain yang memang berada dalam suasana kebencian. Kita mungkin ikut terjebak dalam prasangka tersebut.  Prasangka ini kemudian melahirkan upaya tajassus (memata-matai, mencari keburukan orang lain) dan ghibah (menggunjing, membicarakan keburukan orang lain).

Demikian ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang hubungan ideal antar sesama manusia. Hubungan Sesama Manusia dalam Al-Quran. Manusia hidup di bumi tidak sendirian. Mereka harus bisa saling berdampingan. Cara hidup berdampingan adalah dengan mengenyahkan prasangka, kebencian, permusuhan, dan seluruh tindakan yang lahir dari sikap-sikap tersebut. Selain itu, Al-Quran mengingatkan pentingnya membangun hubungan positif; berdasarkan rasa cinta, persahabatan dan perdamaian. Dimulai dengan membangun sikap objektif, tidak membangun wacana kebencian, mengutamakan persatuan dan persaudaraan, membangun ikatan kekeluargaan, dan berbuat ihsan dan adil terhadap orang lain. Demikianlah Hubungan Sesama Manusia dalam Al-Quran. Semoga bermanfaat.