Beranda Keislaman Muamalah Fatwa Ulama Tentang Hukum Bekerja di Bank Konvensional

Fatwa Ulama Tentang Hukum Bekerja di Bank Konvensional

Harakah.id – Pertanyaan tentang hukum bekerja di bank konvensional, selalu mengemuka. Hal ini utamanya berkaitan dengan status transaksi keuangan di bank-bank konvensional.

Terkait hukum bekerja di bank konvensional ini, Lembaga Fatwa Mesir pernah mengeluarkan fatwa kebolehan bekerja di bank-bank konvensional (http://www.dar-alifta.org). Alasannya adalah  status transaksi keuangan di bank-bank konvensional diperselisihkan para ulama. Ketika sebuah permasalahan hukumnya diperselisihkan, seseorang boleh saja memilih mengikuti pendapat yang membolehkan.

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum transaksi keuangan di bank konvensional apakah termasuk pinjaman atau bukan. Pendapat pertama mengatakan, transaksi perbankan adalah bentuk pinjaman sehingga dengan adanya kelebihan saat mengembalikan, maka kelebihan itu termasuk riba yang diharamkan.

Baca Juga: Riba Diharamkan Bukan Tanpa Alasan, Ada Hikmah Besar di Baliknya

Para ulama yang mengikuti pendapat bahwa transaksi perbankan tergolong riba, terbagi ke dalam dua golongan.

Pertama, transaksi perbankan adalah termasuk riba yang haram tetapi dibolehkan karena alasan darurat. Hal ini didasarkan pada kaidah syariah yang mengatakan “kondisi darurat membolehkan perkara haram”. Dasar kaidah ini adalah firman Allah, “barang siapa terpaksa serta tidak berlebihan, maka tiada dosa baginya. [QS. Al-Baqarah: 173].

Kedua, transaksi perbankan tidak tergolong darurat. Karena yang dinamakan darurat adalah kondisi apabila seseorang tidak melakukan perkara yang diharamkan tersebut, maka dia akan mati.

Sebagian ulama yang menolak menyebut kebutuhan kepada bank tergolong darurat, berpendapat bahwa transaksi perbankan adalah kebutuhan mendesak (al-hajah). Sedangkan kebutuhan mendesak dihukumi seperti keadaan darurat.

Baca Juga: Gaji Pegawai Bank, Riba? Masa Sih? Begini Penjelasannya dalam Fikih…

Sementara, pendapat yang mengatakan transaksi perbankan adalah bentuk investasi (al-istitsmar), mereka terbelah ke dalam dua kelompok.

Pertama, transaksi perbankan adalah bentuk transaksi bagi hasil yang batal (mudarabah fasidah), yang bisa sah jika dialihkan ke dalam bentuk ijarah. Kedua, transaksi perbankan adalah bentuk transaksi yang belum pernah ada dalam sejarah hukum Islam. Ini seperti transaksi baiul wafa’ yang difatwakan sah karena kebutuhan dan kemaslahatan oleh para ulama Samarkand.

Karena permasalahan transaksi perbankan tergolong masalah yang diperselisihkan, maka harus disikapi sebagai berikut:

  1. Perkara yang hukumnya masih diperselisihkan, bukan bentuk kemungkaran. Hanya perkara yang telah disepakati yang boleh dianggap sebagai kemunkaran.
  2. Keluar dari perkara yang diperselisihkan adalah mustahab (dianjurkan).
  3. Orang yang ditimpa oleh permasalahan hukum yang masih diperselisihkan, hendaknya dia mengambil pendapat yang membolehkan. 

Berdasarkan ketiga prinsip di atas, hendaknya orang yang bekerja di sektor perbankan selalu meyakini bahwa riba adalah perkara yang diharamkan Allah. Dia juga harus memahami bahwa fatwa para ulama berbeda-beda terhadap masalah transaksi perbankan, apakah termasuk riba yang diharamkan atau bukan.

Baca Juga: Hukum Menggunakan Gopay dan OVO, Dua Pendapat Hukum Transaksi Online Dalam Islam

Ada ulama yang memahaminya sebagai bagian dari riba yang diharamkan, ada yang memahaminya sebagai akad batal yang haram, namun ada pula yang memandangnya sebagai akad model baru yang hukum asalnya adalah sah-halal berdasarkan kaidah kemaslahatan. Selanjutnya, seorang pekerja di bank juga harus mengetahui bahwa dia boleh mengikuti pendapat yang mengatakan transaksi perbankan adalah akad yang halal.

Baca Juga: Ketika Rasulullah SAW Bertemu Orang Badui Yang Punya Makrifat Tingkat Tinggi
Baca Juga: Inilah Ancaman Al-Quran Bagi Orang Yang Hobi Belanja Online

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...