Hukum-Hukum Seputar Masjid dalam Islam dan Perbedaanya dengan Musalla Biasa

0
306
Non-Muslim Masuk Masjid, Boleh Gak Ya? Begini Penjelasannya...

Harakah.idMasjid punya hukum-hukum yang berbeda dari bangunan-bangunan pada umumnya, seperti musalla. Inilah hukum-hukum seputar masjid dalam Islam dan perebdaaannya dengan musalla biasa.

Masjid memiliki tempat tersendiri dalam hati umat Islam. Masjid menjadi pusat pertemuan berkala dalam ritual ibadah. Masjid juga punya hukum-hukum yang berbeda dari bangunan-bangunan pada umumnya.

Definisi masjid sendiri, menurut Darul Ifta’ Jordania, adalah setiap tempat di muka bumi yang boleh digunakan shalat. Hal ini didasarkan kepada sebuah hadis yang mengatakan, “Bumi diciptakan untukku sebagai masjid” (HR. Al-Bukhari).

Sekalipun definisi masjid sangat luas, seperti yang disebut sebelumnya, hanya masjid dalam pengertian tertentu yang memiliki hukum khusus. Yaitu tempat yang diwakafkan sebagai tempat shalat.

Istilah lain yang biasa digunakan untuk menyebut nama tempat melaksanakan shalat adalah musalla. Dalam literature fiqih, musalla adalah tempat pelaksanaan shalat Id. Di Indonesia sendiri, musalla adalah tempat yang lebih kecil dibanding masjid yang biasa digunakan untuk shalat. Bentuknya lebih fleksibel. Menurut Darul Ifta’ Jordania, musalla adalah tempat shalat dan berdoa. Tidak ada syarat harus berupa tanah wakaf. Bisa saja musalla adalah tanah wakaf dan selain tanah wakaf. Karena itu, musalla dapat mencakup masjid dan selain masjid. Setiap masjid pasti musalla, tetapi tidak semua musalla adalah masjid.

Perbedaan masjid dan musalla lainnya adalah:

Pertama, masjid adalah tempat yang diwakafkan untuk ibadah shalat.

Berdasarkan prinsip ini, masjid tidak boleh dijual atau dialihkan kepemilikannya. Dengan diwakafkan, kepemilikan menjadi milik Allah. Imam Nawawi berkata,

الأظهر أن الملك في رقبة الموقوف ينتقل إلى الله تعالى أي ينفك عن اختصاص لآدمي فلا يكون للواقف ولا للموقوف عليه

Pendapat yang kuat adalah kepemilikan benda wakaf berpindah kepada Allah Ta’ala. Maksudnya benda wakaf terlepas dari kepemilikan individu. Ia bukan milik waqif ataupun penerima wakaf. (Minhajut Thalibin, hlm. 170).

Sedangkan musalla tidak harus berada di atas tanah wakaf. Ia boleh dibangun di atas tanah pribadi. Boleh dimiliki oleh seseorang. Boleh dijual, boleh pula dialihkan hak kepemilikannya. Boleh pula musalla merupakan tempat hasil menyewa.

Kedua, haram berdiam diri di dalam masjid bagi perempuan haid dan hadas besar

Perempuan yang sedang haid dan orang yang berhadas besar, haram berdiam diri di dalam masjid. Berbeda dengan musalla, maka orang haid dan berhadas besar boleh berdiam diri di dalamnya. Terkait dengan keharaman berdiam diri di dalam masjid, Imam Nawawi menjelaskan,

 ويحرم بها ما حرم بالحدث والمكث بالمسجد لا عبوره

Haram bagi perempuan haid, perkara-perkara yang diharamkan sebab hadas besar, dan haram berdiam diri dalam masjid, tidak haram jika hanya lewat (Minhajut Thalibin, hlm. 14)

Ketiga, iktikaf dan Shalat Sunnah Tahiyyatul Masjid

Iktikaf dan shalat sunnah tahiyyatul masjid hanya sah dilakukan di masjid. Tidak sah dilakukan di selain masjid, semisal musalla. Al-Khathib Al-Syirbini mengatakan,

وَلَا يَفْتَقِرُ شَيْءٌ مِنْ الْعِبَادَاتِ إلَى مَسْجِدٍ إلَّا التَّحِيَّةَ وَالِاعْتِكَافَ

Ibadah tidak butuh masjid kecuali ibadah shalat sunnah tahiyat dan iktikaf (Mughnil Muhtaj, jilid 2, hlm. 190).

Maksud iktikaf dan shalat sunnah tahiyat butuh masjid adalah pelaksanaannya hanya bisa dilakukan di dalam masjid. Hal ini karena rukun iktikaf adalah masjid. Al-Syirbini berkata,

وَأَرْكَانُ الِاعْتِكَافِ أَرْبَعَةٌ: مَسْجِدٌ، وَلُبْثٌ، وَنِيَّةٌ، وَمُعْتَكِفٌ. وَقَدْ شَرَعَ فِي أَوَّلِهَا فَقَالَ (وَإِنَّمَا يَصِحُّ الِاعْتِكَافُ فِي الْمَسْجِدِ) لِلِاتِّبَاعِ رَوَاهُ الشَّيْخَانِ وَلِلْإِجْمَاعِ وَلِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ} [البقرة: 187]

Rukun-rukun iktikaf ada empat, yaitu dilakukan di dalam masjid, berdiam diri (lubtsu), niat, dan orang yang beriktikaf. Imam Nawawi memulai membahas rukun pertama dalam kitab matan dengan berkata, “Iktikaf hanya sah dilakukan di dalam masjid”. Hal ini karena ittiba’ (meneladani cara Nabi) sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, selain karena adanya ijma’ dan karena didasarkan kepada firman Allah, “Janganlah kalian setubuhi istri-istri kalian sedang kalian sedang beriktikaf di dalam masjid-masjid” (QS. Al-Baqarah: 187). (Mughnil Muhtaj, jilid 2, hlm. 189).

Demikian penjelasan singkat seputar hukum-hukum terkait masjid dan perbedaanya dengan musalla. Semoga menambah wawasan.