Hukum Kurban Bagi Orang yang Punya Harta Banyak, Apakah Wajib?

0
70
Hukum Ibadah Kurban Wajib bagi yang mampu atau Sunnah - Harakah ID

Harakah.id – Mayoritas ulama mengatakan hukum kurban adalah sunnah muakkaddah. Tapi menurut ulama Hanafiyah, kurban wajib bagi orang yang memiliki kelapangan harta.

Di antara kita mungkin pernah mendengar penjelasan tentang hukum kurban di hari raya Idul Adha pada bulan Dzulhijah. Ada yang mengatakan wajib, ada pula yang mengatakan sunnah. Lalu, sebanarnya bagaimana hukum kurban bagi seorang Muslim? Apa kriteria orang yang dinyatakan mampu berkurban?

Pada dasarnya, mayoritas ulama mengatakan bahwa hukum berkurban adalah sunnah muakkadah atau kesunnahan yang sangat dianjurkan, bukan wajib. Kesunnahan melakukan kurban ini terutama semakin dianjurkan pada seseorang yang memiliki kelapangan harta.

Baca Juga: Amalan-Amalan Sunnah yang Bisa Kamu Kerjakan di Bulan Dzul Hijjah

Apa yang dimaksud dengan seseorang memiliki kelapangan harta untuk berkurban?

Menurut ulama Syafi’iyah, seseorang dinilai telah memiliki kelapangan harta jika dia mampu membeli hewan kurban dengan harta yang lebih dari kebutuhan dirinya dan kelurganya pada hari Idul Adha dan hari-hari tasyriq.

Berbeda dengan pandangan Abu Hanifah dan ulama Hanafiyah. Mereka berpendapat bahwa seseorang sudah dinilai memiliki kelapangan harta jika hartanya sudah mencapai nisab zakat. Jika harta seseorang sudah mencapai nisab zakat, maka dia wajib berkurban. Jika tidak berkurban, maka dia telah berdosa karena telah meninggalkan suatu kewajiban.

Pendapat mereka ini didasarkan pada hadis riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah, Nabi Saw. Bersabda;

مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلا يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

“Barangsiapa mendapatkan kelapangan tetapi tidak berkurban, maka janganlah dia mendekati tempat salat kami.” [HR. Ahmad dan Ibnu Majah]

Menurut Abu Hanifah dan ulama Hanafiyah, hadis ini menuntut berkurban bagi orang yang sudah memiliki kelapangan harta. Untuk ukuran seseorang dinilai memiliki kelapangan harta jika hartanya sudah mencapai nisab zakat.

Abu Hanifah dan ulama Hanafiyah menyatakan jika orang yang memiliki kelapangan harta tapi tidak mau berkurban maka hukumnya haram dan dia berdosa karena telah meninggalkan kewajiban.

Baca Juga: 5 Keutamaan Bulan Dzulhijjah, Berkumpulnya Ibadah-Ibadah Utama

Sementara menurut ulama Syafiiyah, hadis di atas hanya bersifat anjuran, bukan tuntutan bagi orang yang memiliki kelapangan harta. Dengan demikian, seseorang yang memiliki harta sudah mencapai nisab zakat, maka dia sudah dinilai memiliki kelapangan harta. Jika dia tidak berkurban, maka menurut ulama Syafi’iyah hukumnya makruh.

Dalil kesunnahan kurban adalah,

إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ

“Jika masuk bulan Dzulhijah dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih qurban, maka hendaklah ia tidak memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya.” [HR. Muslim]

Selain itu, sahabat Abu Bakar dan Umar bin Khatab pernah tidak malaksanakan kurban selama setahun dan dua tahun. Mereka tidak kurban supaya tidak dianggap wajib oleh masyarakat. Apa yang dilakukan Abu Bakar dan Umar ini tentu merujuk pada apa yang sudah pernah dilakukan Rasulullah.

Baca Juga: Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?