Hukum Membatalkan Puasa Syawal di Tengah Pelaksanaan Menurut Mazhab Syafi’i

0
549

Harakah.idDalam mazhab Syafi’i, membatalkan puasa sunat di tengah jalan termasuk puasa Syawal hukumnya makruh. Tetapi jika karena ada sebab yang mengharuskan demikian, maka hukumnya boleh.

Puasa Syawal merupakan salah satu puasa sunat yang sangat besar fadhilahnya. Lalu bagaimana jika seseorang yang telah berniat dan melakukan puasa di pagi hari kemudian membatalkannya di tengah hari? Apakah hal demikian hukumnya berdosa? Bagaimana hukumnya membatalkan puasa Syawal karena penyebab tertentu seperti kedatangan tamu? Berikut ulasannya dalam mazhab Syafi’i.

Jika melihat pemetaan Doktor Samy Ibn Muhammad Asy-Syaqir dalam Ahkamus Shiyam Syawal (halaman 47) terhadap pendapat para ulama dalam masalah membatalkan ibadah puasa sunat yang sedang dikerjakan, maka ada empat kelompok pendapat berbeda, yaitu:

1. Hukumya boleh-boleh saja, namun jika tanpa alasan yang dibenarkan, maka hukumnya makruh. Ini merupakan pendapat mazhab Syafi’i dan Hanbali.

2. Hukumnya haram, bahkan jika dilakukan maka puasa sunat yang dibatalkan tersebut wajib diqadha. Ini merupakan pendapat mazhab Maliki, Hanafi dan satu riwayat pendapat Imam Ahmad.

3. Hukumnya boleh, tetapi wajib diqadha, ini merupakan pendapat sebagian ulama Hanafi dan pendapat Ibn Hazm.

4. Hukumnya boleh jika ada sebab tertentu dan tidak wajib diqadha, ini merupakan pendapat sebagian ulama Malikiyah dan Hanabillah.

Berdasarkan gambaran di atas, jika mengacu pada pendapat yang dipegang dalam mazhab Syafi’i, membatalkan ibadah puasa sunat di tengah jalan termasuk puasa Syawal hukumnya makruh, tetapi jika dilandasakan oleh sebab yang mengharuskan demikian, maka hukumnya boleh. Kita juga tidak diwajibkan untuk mengqadhanya.

Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ (6/392) menjelaskan:

وَمَنْ دَخَلَ فِي صَوْمِ تَطَوُّعٍ أَوْ صَلَاةِ تَطَوُّعٍ استحب له اتمامها فَإِنْ خَرَجَ مِنْهَا جَازَ

Artinya: orang yang telah melakukan ibadah puasa atau shalat sunat, maka dianjurkan agar menyempurnakan ibadah tersebut, akan tetapi jika di tengah pelaksanaan ia membatalkannya maka hukumnya boleh-boleh saja.

Pendapat Mazhab Syafi’i dilandasakan pada sebuah hadis dari Aisyah:

دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ فَقُلْنَا لَا قَالَ فَإِنِّي إِذَنْ صَائِمٌ ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِيَ لَنَا حَيْسٌ فَقَالَ أَرِينِيهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا فَأَكَلَ

Artinya: Pada suatu, Nabi SAW menemui dan bertanya, “Apakah kamu mempunyai makanan?” kami menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, saya akan berpuasa.” Kemudian beliau datang lagi pada hari yang lain dan kami berkata, “Wahai Rasulullah, kita telah diberi hadiah berupa Hais (makanan yang terbuat dari kura, samin dan keju).” Maka beliau pun bersabda, “Bawalah kemari, sungguhnya dari tadi pagi tadi aku berpuasa.” (HR Muslim No. 1154)

Hadis di atas menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW sendiri pernah memutus puasa sunat di tengah jalan. Hadis tentang kejadian serupa juga diriwayatkan oleh Tirmidzi, Nasai dan Imam Ahmad.

Imam Nawawi melanjutkan:

إِنْ خَرَجَ مِنْهُمَا بِعُذْرٍ أَوْ بِغَيْرِ عُذْرٍ لَمْ يُحَرَّمْ عَلَيْهِ ذَلِكَ وَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ لَكِنْ يُكْرَهُ الْخُرُوجُ منهما بلا عذر

Artinya: jika seseorang memutuskan ibadah shalat atau puasa sunat, baik karena uzur atau bukan, hukumnya tidak haram dan tidak wajib qadha. Tetapi dimakruhkan jika tanpa uzur.

Kesimpulan: berdasarkan mazhab Syafi’i memutuskan puasa syawal di tengah jalan hukumnya boleh-boleh saja, tetapi dimakruhkan jika tidak ada uzur. Oleh sebab itu jika tidak ada uzur yang mengharuskan, sebaiknya kita tidak memutuskannya di tengah jalan agar berhati-hati dan keluar dari ikhtilaf ulama.