Beranda Keislaman Ibadah Hukum Mengulang Shalat bagi Orang Junub yang Bertayamum

Hukum Mengulang Shalat bagi Orang Junub yang Bertayamum

Harakah.id Dalam mazhab Syafi’i, seseorang yang bertayamum tidak wajib mengulangi shalatnya setelah menemukan air. Baik menemukan itu ketika waktu shalat masih ada atau sudah habis.

Hukum Mengulang Shalat bagi Orang Junub yang Bertayamum. Ada seorang laki-laki mengalami mimpi basah. Ia tidak menemukan air. Ia sudah mencari ke sana ke mari. Tapi tidak menemukan air. Bolehkan dia bertayammum? Jika boleh, apakah sah shalat dengan tayammum tersebut? Apakah masih perlu mengulangi shalat yang sudah dilakukan dengan mandi besar terlebih dahulu?

Tayammum merupakan salah satu cara thaharah sebelum melakukan ibadah shalat. Ketika seseorang tidak menemukan air, atau ada air namun dia tidak dapat menggunakannya karena akan membahayakan penyakitnya, maka syariat Islam membolehkan orang tersebut bertayamum. Hal ini didasarkan kepada ayat Al-Quran:

وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا

Jika kalian sakit atau berada di perjalanan atau dating dari buang air besar, atau menyetubuhi istri, kemudian kalian tidak menemukan air, maka carilah debu yang bersih, usaplah wajah-wajah kalian dan kedua tangan kalian. Sungguh, Allah maha pemaaf dan pengampun (Qs. Al-Nisa: 43)

Dalam ayat ini jelas bahwa ketika seseorang telah mengalami hadas besar seperti habis bersebutuh dengan pasangan, artinya ia mengalami jinabat, maka dia diperbolehkan melakukan tayammum jika memenuhi syarat; seperti ada penyakit yang membuatnya tak boleh menyentuh air atau memang kondisi tidak ada air.

Dalam Riwayat Imam Al-Bukhari disebutkan sebuah hadis sebagai berikut:

أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ثُمَّ رَأَى رَجُلاً مُعْتَزِلاً لَمْ يُصَل مَعَ الْقَوْمِ فَقَال: يَا فُلاَنُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تُصَلِّيَ مَعَ الْقَوْمِ؟ فَقَال: يَا رَسُول اللَّهِ أَصَابَتْنِي جَنَابَةٌ وَلاَ مَاءَ فَقَال: عَلَيْكَ بِالصَّعِيدِ فَإِنَّهُ يَكْفِيَكَ، فَلَمَّا حَضَرَ الْمَاءُ أَعْطَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا الرَّجُل إِنَاءً مِنْ مَاءٍ فَقَال: اغْتَسِل بِهِ

Bahwa Rasulullah SAW melihat seorang laki-laki menyendiri, tidak ikut shalat berjamaah bersama orang-orang. Nabi bertanya, “Mengapa engkau tidak ikut jamaah Bersama orang-orang, wahai fulan?” Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, saya mengalami jinabat dan tidak ada air.” Rasul mengatakan, “Kamu pakai debu, itu cukup untukmu.” Ketika ada air, Rasulullah SAW memberi lelaki itu satu wadah air. Beliau berkata, “Mandilah dengan air itu.” (HR. Al-Bukhari).

Imam Abu Dawud meriwayatkan,

عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ: احْتَلَمْتُ فِي لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ فِي غَزْوَةِ ذَاتِ السُّلَاسِلِ فَأَشْفَقْتُ إِنِ اغْتَسَلْتُ أَنْ أَهْلِكَ فَتَيَمَّمْتُ، ثُمَّ صَلَّيْتُ بِأَصْحَابِي الصُّبْحَ فَذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: “يَا عَمْرُو صَلَّيْتَ بِأَصْحَابِكَ وَأَنْتَ جُنُبٌ؟ ” فَأَخْبَرْتُهُ بِالَّذِي مَنَعَنِي مِنَ الِاغْتِسَالِ وَقُلْتُ إِنِّي سَمِعْتُ اللَّهَ يَقُولُ: {وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا} [النساء] فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَقُلْ شَيْئًا

Dari Amr bin Ash yang berkata, saya mimpi basah pada suatu malam yang dingin dalam perang Dzatu Salasil. Saya merasa jika mandi maka saya akan binasa. Maka saya bertayamum. Kemudian saya shalat subuh bersama para sahabatku. Mereka melaporkan hal itu kepada Rasulullah. Rasulullah bertanya, “Wahai Amr, benarkah engkau shalat Bersama sahabatmu sedang engkau dalam keadaan junub?” Saya menceritakan kepada Rasul apa yang menghalangi aku dari mandi jinabat. Saya katakan, saya pernah mendengar Alalh berfirman; jangan bunuh diri kalian sendiri, sungguh Allah maha mengasihi kalian (Qs. An-Nisa). Nabi tertawa dan tidak mengatakan apa-apa (HR. Abu Dawud).

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يَعْزُبُ فِي الإْبِل وَتُصِيبُهُ الْجَنَابَةُ فَأَخْبَرَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَال لَهُ: إِنَّ الصَّعِيدَ الطَّيِّبَ طَهُورُ الْمُسْلِمِ وَإِنْ لَمْ يَجِدِ الْمَاءَ عَشْرَ سِنِينَ فَإِذَا وَجَدَ الْمَاءَ فَلْيُمِسُّهُ بَشَرَتَهُ

Dari Abu Dzar, dia menggembala unta. Dia mengalami jinabat. Lalu ia memberitahu Nabi SAW. Nabi berkata kepadanya, “Debu yang bersih adalah alat bersuci Muslim. Walau engkau tidak menemukan air selama 10 tahun. Ketika engkau menemukan air, maka gunakanlah air itu.” (HR. Tirmidzi).

Berdasarkan hadis-hadis di atas, dapat disimpulkan bahwa orang boleh bertayammum ketika mengalami jinabat, sedangkan dia tidak menemukan air. Menurut Imam an-Nawawi, hadis-hadis ini menunjukkan bahwa hadas besar orang yang bertayamum tidak hilang. Karena, dalam hadis di atas disebutkan bahwa Nabi masih menyuruh orang tersebut untuk mandi lagi (Al-Majmu’ Syarah Muhaddzab, 2/210).

Berangkat dari riwayat-riwayat di atas pula, dapat dipahami bahwa shalat yang dilakukan dengan tayamum tidak perlu diulangi lagi. Nabi SAW tidak memerintahkan Amr bin Ash mengulangi shalatnya.  

Imam Al-Rauyani mengatakan,

يجوز للجنب إذا عدم الماء أن يتيمم. وبه قال جماعة من الصحابة والفقهاء، وقال عمر، وابن مسعود- رضي الله عنهما-: لا يجوز التيمم وتؤخر الصلاة حتى يغتسل ويقضي. وبه قال النخعي. وقد روى رجوعهما عنه، وهو الصحيح، والدليل على هذا ما روى أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لأبي ذر “الصعيد الطيب وضوء المسلم ولو لم يجد الماء عشر حجج “.

Orang yang junub boleh bertayamum ketika tidak ada air. Ini pendapat sekelompok sahabat Nabi dan fukaha. Umar dabi Ibnu Mas’ud berkata, tidak boleh tayamum. Shalat diakhirkan sampai dia bisa mandi dan mengqadha’ shalatnya. Pendapat ini dikeluarkan oleh Al-Nakha’i. Diriwayatkan Umar dan Ibnu Ma’ud menarik kembali pendapatnya. Ini adalah yang benar. Dalilnya adalah hadis yang menyatakan bahwa Nabi berkata kepada Abu Dzar, Debu yang bersih adalah wudunya Muslim. Walau ia tidak menemukan air 10 kali musim haji. (Bahrul Mazhab, jilid 1, hlm. 194)

Ketika seseorang shalat dengan tayamum, lalu setelah shalat dan waktu shalat masih ia menemukan air, maka para ulama berbeda pendapat. Mayoritas ulama menyatakan tidak perlu mengulangi lagi shalatnya dengan wudu. Sebagian ulama mewajibkan mengulangi shalat dengan wudhu. Ada sebuah hadis Riwayat Imam Abu Dawud sebagaimana di bawah ini:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: خَرَجَ رَجُلَانِ فِي سَفَرٍ، فَحَضَرَتِ الصَّلَاةُ وَلَيْسَ مَعَهُمَا مَاءٌ، فَتَيَمَّمَا صَعِيدًا طَيِّبًا فَصَلَّيَا، ثُمَّ وَجَدَا الْمَاءَ فِي الْوَقْتِ، فَأَعَادَ أَحَدُهُمَا الصَّلَاةَ وَالْوُضُوءَ وَلَمْ يُعِدِ الْآخَرُ، ثُمَّ أَتَيَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ لِلَّذِي لَمْ يُعِدْ: “أَصَبْتَ السُّنَّةَ، وَأَجْزَأَتْكَ صَلَاتُكَ”. وَقَالَ لِلَّذِي تَوَضَّأَ وَأَعَادَ: “لَكَ الْأَجْرُ مَرَّتَيْنِ”

Dari Abu Sa’id al-Khudri yang mengatakan, dua orang melakukan perjalanan. Lalu masuk waktu shalat. Keduanya tidak punya air. Kedua kemudian bertayamum dengan debu yang bersih. Keduanya shalat. Kemudian keduanya menemukan air ketika masih ada waktu shalat. Salah satunya mengulangi shalatnya dan berwudu. Yang lain tidak mengulangi shalat dengan wudu. Keduanya kemudian menemui Rasulullah dan menceritakan kejadian itu. Kepada orang yang tidak mengulangi shalat, Rasul mengatakan, “Kamu sudah sesuai sunnah. Shalat kamu sudah cukup.” Kepada orang yang berwudu dan mengulangi shalatnya, Nabi mengatakan, “Engkau mendapatkan dua pahala.” (HR. Abu Dawud)

Imam an-Nawawi menulis dalam al-Majmu’ Syarah Muhadzab sebagai berikut:

فِي مَذَاهِبِ الْعُلَمَاءِ فِيمَنْ صَلَّى بِالتَّيَمُّمِ فِي السَّفَرِ ثُمَّ وَجَدَ الْمَاءَ بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْ الصَّلَاةِ قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ مَذْهَبَنَا أَنَّهُ لَا إعَادَةَ سَوَاءٌ وَجَدَ الْمَاءَ فِي الْوَقْتِ أَوْ بَعْدَهُ حَتَّى لَوْ وَجَدَهُ عَقِبَ السَّلَامِ فَلَا إعَادَةَ وَبِهِ قَالَ الشَّعْبِيُّ وَالنَّخَعِيُّ وَأَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَمَالِكٌ وَأَبُو حَنِيفَةَ والثوري والاوزاعي واحمد واسحاق والمزني وابو الْمُنْذِرِ وَجُمْهُورُ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ وَحَكَى ابْنُ الْمُنْذِرِ وغيره عن طاووس وعطاء والقسم بْنِ مُحَمَّدٍ وَمَكْحُولٍ وَابْنِ سِيرِينَ وَالزُّهْرِيِّ وَرَبِيعَةَ أَنَّهُمْ قَالُوا إذَا وُجِدَ الْمَاءُ فِي الْوَقْتِ لَزِمَهُ الْإِعَادَةُ وَاسْتَحَبَّهُ الْأَوْزَاعِيُّ وَلَمْ يُوجِبْهُ قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ وَأَجْمَعُوا أَنَّهُ إذَا وَجَدَهُ بَعْدَ الْوَقْتِ لَا إعَادَةَ

Tentang pendapat para ulama dalam masalah orang yang shalat dengan tayamum di dalam perjalanan, kemudian ia menemukan air setelah selesai shalat. Kami telah menyebutkan bahwa mazhab kami adalah tidak ada kewajiban mengulangi shalat. Baik ditemukannya air ketika masih dalam waktu shalat, atau setelah habisnya waktu shalat. Hingga, jika ada orang menemukan air setelah salam, tidak wajib mengulangi bagi dia. Ini pendapat al-Sya’bi, al-Nakha’I, Abu Salamah bin Abdurrahman, Malik, Abu Hanifah, al-Tsauri, al-Auza’i, Ahmad, Ishaq, al-Muzanni, dan Abul Mundzir dan mayoritas ulama salaf dan khalaf. Ibnu Mundzir dan lainnya meriwayatkan dari Thawus, Atha’ dan Qasam bin Muhammad, Makhul, Ibnu Sirin, Al-Zuhri, dan Rabi’ah mereka berpendapat bahwa ketika air ditemukan saat dalam waktu shalat, wajib mengulangi shalat. Al-Auza’I mensunnahkan saja, dan tidak mewajibkannya. Ibnu Mundzir berkata, para ulama sepakat bahwa ketika seseorang menemukan air setelah keluar waktu shalat, maka tidak ada kewajiban mengulangi (Al-Majmu’ Syarah Muhadzab, jilid 2, hlm. 306)

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa orang yang mengalami jinabat, lalu tidak menemukan air, ia boleh bertayamum. Ketika telah shalat, kemudian ia menemukan air, para ulama berbeda pendapat apakah harus mengulangi atau tidak. Dalam mazhab Syafi’i, seseorang yang bertayamum tidak wajib mengulangi shalatnya setelah menemukan air. Baik menemukan itu ketika waktu shalat masih ada atau sudah habis. Demikian Hukum Mengulang Shalat bagi Orang Junub yang Bertayamum.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...