Hukum Menjaga Gereja untuk Mendukung Terwujudnya Stabilitas Keamanan

0
1237

Harakah.idHukum menjaga gereja untuk mendukung terwujudnya stabilitas keamanan adalah boleh. Karena, kegiatan semacam itu tergolong membantu aparatur negara untuk mewujudkan keagaman.

Pasca reformasi 1998, terjadi konflik antar agama di beberapa daerah. Konflik itu diperparah dengan terus dirawatnya unsur kebencian terhadap kaum minoritas. Aktornya adalah para ekstremis yang ingin mendapat simpati umat Islam di Indonesia. Mereka merasa mewakili umat Islam. Padahal, kenyataannya, umat Islam di Indonesi menginginkan perdamaian daripada perang.

Kaum ekstremis merawat kebencian di antaranya dengan melakukan serangan teror bom ke sejumlah gereja sejak tahun 2000-an hingga beberapa tahun belakangan. Momentum peribadatan Natal sering menjadi incaran dalam serangan teror bom. Aparat kepolisian telah menumpas jaringan ekstremis teroris tersebut. Tetapi jaringan tersebut masih terus bertahan dan mencari celah melakukan aksi biadabnya.

Sebagian umat Islam terpanggil untuk turut serta dalam pengamanan gereja. Dengan terlibatnya masyarakat sipil dalam pengamanan gereja, diharapkan para ekstremis itu berfikir ulang untuk melakukan penyerangan. Mengingat ada umat Islam yang pasti akan menjadi korban jika mereka melakukan serangan.    

Persoalan menjaga gereja pada momentum tertentu, seperti saat Misa Natal dan semacamnya, masih saja menjadi polemik perbincangan yang tak pernah usai. Sejatinya, masalah ini telah selesai diperbincangkan oleh para ulama klasik maupun modern yang kredibilitas keiltidak diragukan.

Syekh Izzuddin bin ‘Abdissalam pernah menuturkan dalam kitabnya yang berjudul Qawaid Al-Ahkam Fi Mashalih Al-Anam tentang kebolehan membantu aparat keamanan negara melaksanakan kewajiban menjaga stabilitas negara:

وَمِنْهَا إعَانَةُ الْقُضَاةِ وَالْوُلَاةِ وَأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ عَلَى مَا تَوَلَّوْهُ مِنْ الْقِيَامِ بِتَحْصِيلِ الرَّشَادِ وَدَفْعِ الْفَسَادِ وَحِفْظِ الْبِلَادِ وَتَجْنِيدِ الْأَجْنَادِ وَمَنْعِ الْمُفْسِدِينَ وَالْمُعَانِدِينَ

“(Hak-hak orang mukallaf) di antaranya adalah membantu para Qadhi (penegak hukum), pemimpin, dan imam umat Islam atas tugas yang telah diwajibkan atas mereka, meliputi tugas untuk memberikan pengarahan, menolak kerusakan, menjaga negara, merekrut pasukan keamanan, serta mencegah para perusak dan penghianat bangsa.”

Menjaga gereja dalam momen yang rawan terjadi gangguan keamanan, seperti terancamnya keselamatan nyawa yang jelas-jelas dilindungi oleh negara, hukumnya adalah Fardhu Kifayah (kewajiban kolektif). Tindakan pengamanan itu termasuk dari bagian menjaga stabilitas keamanan negara. Apalagi bila dilakukan atas permintaan dari pemerintah atau yang dalam hal ini adalah aparat kepolisian.

Menjaga gereja untuk misi mengamankan stabilitas negara serta menjaga keharmonisan sosial bukan termasuk upaya membantu kemaksiatan (i’anah alal ma’shiyyah). Membantu kemaksiatan adalah perkara yang dilarang dalam agama. Tetapi, dalam kasus menjaga geraja untuk tujuan di atas perlu ditegaskan tidak dalam konteks membantu dalam kemaksiatan.

Argumennya, tanpa dijaga oleh uma Islam, ritual keagamaan non-Muslim di dalam gereja tetap berjalan, sehingga penjagaan bukan merupakan satu-satunya pemicu terjadinya kemaksiatan non-Muslim tersebut. Sebagaimana penjelasan dalam kitab Buhuts Wa Qadhaya Fiqhiyyah Mu’ashirah:

أَنَّ الْإِعَانَةَ عَلَى الْمَعْصِيَّةِ حَرَامٌ مُطْلَقًا بِنَصِّ الْقُرْآنِ أَعْنِيْ قَوْلَهُ تَعَالَى وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ (المائدة : 2) وَقَوْلَهُ تَعَالَى فَلَنْ أَكُوْنَ ظَهِيْرًا لِلْمُجْرِمِيْنَ (القصص : 17) وَلَكِنِ الْإِعَانَةُ حَقِيْقَةً هِيَ مَا قَامَتِ الْمَعْصِيَّةُ بِعَيْنِ فِعْلِ الْمُعِيْنِ وَلَا يَتَحَقَّقُ إِلَّا بِنِيَّةِ الْإِعَانَةِ اَوِ التَّصْرِيْحِ بِهَا أَوْ تُعِيْنُهَا فِي اسْتِعْمَالِ هَذَا الشَّيْئِ بِحَيْثُ لَا يَحْتَمِلُ غَيْرَ الْمَعْصِيَّةِ

 “Sesungguhnya menolong kemaksiatan adalah haram secara mutlak. Berdasarkan Nash Al-Qur’an, yaitu firman Allah yang berbunyi ‘Dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan’ (QS. Al-Maidah: 2) dan firman Allah yang berbunyi ‘Aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa’ (QS. Al-Qashash: 17).

Akan tetapi pada hakikatnya menolong itu adalah sebuah kemaksiatan yang secara murni muncul dari aktivitas penolong tersebut. Menolong kemaksiatan itu juga tidak akan terealisasi kecuali ada niatan menolong (kemaksiatan) atau mengucapkannya secara langsung, atau menolongnya dalam menjalankan kemaksiatan itu sekiranya tidak ada kemungkinan lain selain kemaksiatan.”

Sampai di sini jelas kiranya mengenai hukum menjaga gereja untuk mendukung terwujudnya stabilitas keamanan adalah boleh. Karena, kegiatan semacam itu tergolong membantu aparatur negara untuk mewujudkan keagaman.