fbpx
Beranda Keislaman Muamalah Hukum Menyebarkan Hoaks Kebangkitan PKI Menurut Islam

Hukum Menyebarkan Hoaks Kebangkitan PKI Menurut Islam

- Advertisement -

Harakah.idBulan September 2020, isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) masih bermunculan. Isu ini sulit dibuktikan kebenarannya. Jatuhnya, hanya menimbulkan keresahan dan permusuhan di antara masyarakat. Kalau tidak jadi bentuk hoaks. Bagaimana hukum menyebarkan hoaks kebangkitan PKI menurut Islam?

Bulan September 2020, isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) masih bermunculan. Tak tanggung-tanggung, isu ini dihembuskan oleh sejumlah tokoh yang dikenal secara nasional. Pada umumnya, isu kebangkitan PKI disebarkan oleh tokoh-tokoh yang anti terhadap pemerintahan Presiden Jokowi.

Isu kebangkitan PKI telah menjadi perbincangan publik dengan dikaitkan dengan berbagai macam peristiwa mutakhir. Seperti penusukan penceramah agama dan lainnya. Para penyebar isu sepertinya belum ada yang dapat mempertanggungjawabkan kebenaran isu yang mereka sebar. Bahkan, sampai hari ini belum ada yang berhasil menunjukkan bahwa kebangkitan itu benar-benar terjadi. Di satu sisi, ada banyak orang yang kemudian percaya dengan isu ini. Tetapi, tidak kalah banyak pula yang menolak percaya. Pada akhirnya, isu kebangkitan PKI justru menjadi alat pemecah belah masyarakat.

Lalu, bagaimana hukum menyebarkan isu kebangkitan PKI menurut Islam? Bagaimana penjelasan para ulama terkait penyebaran berita yang tidak tentu kebenarannya? Berikut adalah penjelasan para ulama dalam kitab fiqih.

Isu kebangkitan PKI dapat ditinjau dari dua segi. Pertama, dari sisi kebenaran isu. Ketika kebangkitan PKI menjadi kabar yang disebar ke banyak pihak, ia telah menjadi khabar (berita). Jika berita tersebut sesuai dengan kenyataan, maka berita tersebut tergolong berita yang benar (shadiq). Jika tidak sesuai dengan kenyataan, maka ia tergolong bentuk kebohongan (kadzb). Syekh Muhammad bin Salim Babashol menulis,

)الكذب وهو) عند أهل السنة (الإخبار) بالشىء (بخلاف الواقع) أى على خلاف ما هو عليه سواء علم ذلك وتعمده أم لا

Kebohongan menurut Ahlus Sunnah adalah menyampaikan kabar berita tentang sesuatu tidak sesuai dengan kenyataan. Atau bertentangan dengan kondisi yang sebenarnya. Baik si penyebar mengetahuinya dan menyengaja untuk menyebarkannya atau tidak (Is’adur Rafiq, jilid 2, hlm. 76)

Dari sini sangat jelas bahwa menyebarkan berita yang belum diketahui kebenarannya, baik orang yang menyebarkan tahu bahwa berita itu tidak benar atau tidak tahu, baik sengaja atau tidak sengaja, termasuk telah melakukan perbuatan bohong.

Berbuat bohong adalah termasuk maksiat lisan. Perbuatan ini dilarang karena dapat merusak hubungan sosial di antara sesama. Kebohongan, jika digunakan untuk membenturkan satu pihak dengan pihak lainnya, maka kebohongan itu juga tergolong perbuatan mengadu-domba atau namimah yang dilarang agama. Syekh Babashol menulis,

ومنها النميمة وهي نقل القول من بعض الناس إلى بعض للإفساد

Di antara kemaksiatan lisan adalah namimah, yaitu menyampaikan ucapan sebagian orang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan. (Is’adur Rafiq, jilid 2, hlm. 74)

Dalam kitab Al-Bariqah Al-Mahmudiyyah Fi Syarhi Thariqah Muhammadiyah Wa Syariah Nabawiyyah, disebutkan,

الفتنة وهي إيقاع الناس في الاضطراب أو الاختلال والاختلاف والمحنة والبلاء بلا فائدة دينية ) وهو حرام

Fitnah adalah menjatuhkan seseorang dalam kebingungan, kecacatan, perselisihan, ujian dan permasalahan sosial tanpa ada faidah diniyah di dalamnya, hukumnya haram. (Al-Bariqah Al-Mahmudiyyah Fi Syarhi Thariqah Muhammadiyah Wa Syariah Nabawiyyah, jilid 3, hlm. 124)

Hari ini, penyebaran berita bohong dan adu domba dilakukan melalui tulisan atau produk-produk digital yang dapat dipahami maksudnya. Para ulama tidak membedakan wasilah yang digunakan. Syekh Babashol menulis,

)وكتابة ما يحرم النطق به) لأن القلم أحد اللسانين للإنسان لأن الكتابة به تدل على عبارة اللسان

Menulis perkara yang haram diucapkan. Karena pena adalah salah satu dari dua bentuk lisan. Penulisan perkara tersebut dapat menunjukkan sebagaimana ungkapan lisan. (Is’adur Rafiq, jilid 2, hlm. 76).

Kebohongan adalah perkara yang haram diucapkan. Adu domba juga perkataan yang haram. Demikian pula fitnah, juga haram. Karena itu, haram pula ditulis dan disebarkan.

Demikian penjelasan tentang hukum menyebarkan hoaks kebangkitan PKI menurut Islam. Semoga dapat menjadi pertimbangan dalam bersosial media secara arif dan bijaksana.

REKOMENDASI

Mbah Maimoen Zubair, Ulama Pakubumi yang Lahir Bersamaan Dengan Pekikan Sumpah Pemuda 1928

Harakah.id - Mbah Maimoen Zubair al-maghfurlah adalah salah seorang ulama pakubumi yang lahir bertepatan dengan Sumpah Pemuda. Selama hidupnya, Mbah Maimoen...

Bukan Untuk Diperdebatkan Haram-Halalnya, Maulid Nabi Adalah Momentum Meniru Keteladanan Muhammad

Harakah.id - Maulid Nabi sebenarnya adalah momentum berharga untuk meniru dan belajar dari keteladanan Nabi Muhammad. Maulid Nabi bukan justru waktu...

Kiai Abbas Di Pertempuran Surabaya 1945, Dari Membentuk Telik Sandi Sampai Menghancurkan Pesawat Dengan...

Harakah.id - Kiai Abbas di pertempuran Surabaya 1945 tidak hanya berperan sebagai pasukan, tapi juga komandan dan perumus strategi perlawanan. Selain...

Felix Siauw, Buku Muhammad Al-Fatih 1453 dan Kedaulatan Negara dalam Bayang-Bayang Bahaya Eks HTI

Harakah.id - Felix Siauw kembali membuat negeri ini heboh. Heboh sebab pembatalan surat edaran Dinas Pendidikan Bangka Belitung (Disdik Babel) yang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...