Hukum Menyentuh Mushaf Al-Quran Tanpa Berwudu dalam Kitab Pendiri Mazhab

0
163

Harakah.idAl-Quran sangat dimuliakan oleh umat Islam. Menyentuh Al-Quran diharuskan dalam keadaan suci dari hadas. Hal ini disepakati oleh empat pendiri mazhab fikih dalam Islam. Inilah hukum menyentuh mushaf Al-Quran tanpa berwudu dalam kitab pendiri mazhab.

Al-Quran adalah kitab suci umat Islam yang sangat dihormati. Penghormatan terhadap Al-Quran dilakukan dengan berbagai cara. Karena itu, disusun suatu panduan untuk berinteraksi dengan Al-Quran. Ada panduan yang berbentuk-bentuk hukum-hukum seperti boleh dan tidak boleh, dan ada pula yang berbentuk adab-adab.

Berikut ini adalah beberapa hukum dan adab-adab tentang menyentuh Al-Quran. Menyentuh Al-Quran meliputi beberapa pembahasan dan sub pembahasan. Inilah ulasannya.

Menyentuh Mushaf Menurut Imam Mazhab

Al-Quran merupakan kalamullah (teks yang bersumber dari Allah). Ia diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk mukjizat. Membaca Al-Quran bernilai ibadah. Al-Quran hadir dalam bentuk hafalan dan tulisan. Umat Islam pada masa awal lebih banyak mengandalkan hafalan daripada catatan. Mengingat tidak banyak yang memiliki buku catatan. Hanya ada beberapa orang saja. Hafalan dan catatan dibukukan pada era Abu Bakar Shiddiq. Khalifah pertama umat Islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Buku yang memuat teks Al-Quran kemudian disebut Mushaf. Nama ini pertama kali muncul pada era Abu Bakar Shiddiq.  

Pada masa Utsman bin Affan, teks Al-Quran diseragamkan dan disalin dalam beberapa naskah. Lalu dikirim ke beberapa kota yang didiami umat Islam. Mushaf Al-Quran yang ada hari ini diyakini merupakan salinan dari Al-Quran era Utsman. Mushaf Al-Quran memang disalin dari masa ke masa hingga hari ini, pada umumnya menggunakan tulisan tangan. Pada abad modern, Mushaf Al-Quran dibuat dengan menggunakan mesin cetak.  

Mazhab Malik

Para ulama telah mempelajari bagaimana cara seharusnya berinteraksi dengan Mushaf Al-Quran. Pertama, yang paling fundamental adalah menyentuhnya dalam keadaan suci. Utamanya keadaan yang dikategorikan sebagai hadats. Ahli fiqih kenamaan kota Madinah, Imam Malik bin Anas (w. 179 H.), dalam kitab Muwatha’-nya menyebutkan,

حَدَّثَنِي يَحْيَى، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرِ بْنِ حَزْمٍ، أَنَّ فِي الْكِتَابِ الَّذِي كَتَبَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَمْرِو بْنِ حَزْمٍ: «أَنْ لَا يَمَسَّ الْقُرْآنَ إِلَّا طَاهِرٌ» قَالَ مَالِكٌ: «وَلَا يَحْمِلُ أَحَدٌ الْمُصْحَفَ بِعِلَاقَتِهِ وَلَا عَلَى وِسَادَةٍ إِلَّا وَهُوَ طَاهِرٌ، وَلَوْ جَازَ ذَلِكَ لَحُمِلَ فِي خَبِيئَتِهِ وَلَمْ يُكْرَهْ ذَلِكَ، لِأَنْ يَكُونَ فِي يَدَيِ الَّذِي يَحْمِلُهُ شَيْءٌ يُدَنِّسُ بِهِ الْمُصْحَفَ. وَلَكِنْ إِنَّمَا كُرِهَ ذَلِكَ لِمَنْ يَحْمِلُهُ وَهُوَ غَيْرُ طَاهِرٍ، إِكْرَامًا لِلْقُرْآنِ وَتَعْظِيمًا لَهُ» قَالَ مَالِكٌ: ” أَحْسَنُ مَا سَمِعْتُ فِي هَذِهِ الْآيَةِ {لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ} [الواقعة: 79] إِنَّمَا هِيَ بِمَنْزِلَةِ هَذِهِ الْآيَةِ، الَّتِي فِي {عَبَسَ وَتَوَلَّى} [عبس: 1]، قَوْلُ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: {كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ. فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ. فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ. مَرْفُوعَةٍ مُطَهَّرَةٍ. بِأَيْدِي سَفَرَةٍ. كِرَامٍ بَرَرَةٍ} [عبس: 12]

Yahya Al-Laitsi meriwayatkan dari Malik, dari Abdullah bin Abi Bakr bin Hazm, bahwa dalam surat yang ditulis oleh Rasulullah SAW kepada Amr bin Hazm disebutkan, “Bahwa tidak boleh menyentuh Al-Quran kecuali orang yang suci.”

Imam Malik berkata, “Tidak boleh seseorang membawa Mushaf dengan kantong, atau di atas bantal, kecuali dia harus dalam keadaan suci. Seandainya hal itu boleh, niscaya Al-Quran boleh dibawa dalam sampulnya, dan itu tidak dimakruhkan, untuk orang yang membawanya yang dapat mengotori Mushaf. Tetapi, dimakruhkan hal itu khusus bagi orang yang membawanya dalam keadaan tidak suci. Sebagai bentuk usaha menghormati Al-Quran.”

Imam Malik berkata, “Ayat paling sesuai dengan tuntunan ini adalah “Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” (Qs. Al-Waqi’ah: 79). Ayat ini semakna dengan ayat dalam Qs. Abasa yang mana Allah SWT berfirman, “Jangan seperti itu. Sungguh, Al-Quran adalah peringatan. Barang siapa menghendaki, dia akan menjaganya. Dalam suhuf yang dimuliakan. Ditinggikan. Disucikan. Dengan tangan-tangan para malaikat safarah. Yang mulia dan baik. (Qs. Abasa: 12).” (Muwaththa’ Riwayat Al-Laitsi, jilid 1, hlm. 199).

Mazhab Hanafi

Dalam Muwaththa’ riwayat Muhammad bin Hasan Al-Syaibani Al-Hanafi, disebutkan keterangan serupa. Imam Muhammad bin Hasan Al-Syaibani menambahkan keterangan bahwa pendapat serupa ditemukan dari Imam Abu Hanifah.

أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، أَخْبَرَنَا نَافِعٌ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّهُ، كَانَ يَقُولُ: «لا يَسْجُدُ الرَّجُلُ، وَلا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ، إِلا وَهُوَ طَاهِرٌ» ، قَالَ مُحَمَّدٌ: وَبِهَذَا كُلِّهِ نَأْخُذُ، وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ رَحِمَهُ اللَّهُ، إِلا فِي خَصْلَةٍ وَاحِدَةٍ، لا بَأْسَ بِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ عَلَى غَيْرِ طُهْرٍ إِلا أَنْ يَكُونَ جُنُبًا

Malik meriwayatkan kepada kami, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, bahwa ia berkata, “Seorang pria tidak sujud, tidak pula boleh membaca Al-Quran kecuali dalam keadaan suci.” Muhammad bin Hasan berkata, “Dengan pendapat ini, kami mengambil pilihan. Ia adalah pendapat Imam Abu Hanifah rahimahullah. Kecuali dalam satu kasus, tidak masalah membaca Al-Quran dalam keadaan tidak suci, kecuali bagi orang junub.” (Muwaththa’ Malik Riwayat Muhammad bin Hasan Al-Syaiban, hlm. 107)

Sampai di sini, pendapat mazhab Hanafi dan Maliki adalah melarang menyentuh Al-Quran dalam keadaan belum berwudu.

Mazhab Syafi’i

Imam Syafi’i, murid Imam Malik dan Muhammad bin Hasan Al-Syaibani, memiliki pendapat yang sama. Dalam kitab Al-Umm, Imam Syafi’i (w. 204 H.) menyinggungnya dalam dua tempat. Pertama, dalam pembahasan tentang cara berwudu.

وَلَا يُجْزِئُ الْوُضُوءُ إلَّا بِنِيَّةٍ وَيَكْفِيهِ مِنْ النِّيَّةِ فِيهِ أَنْ يَتَوَضَّأَ يَنْوِي طَهَارَةً مِنْ حَدَثٍ أَوْ طَهَارَةً لِصَلَاةِ فَرِيضَةٍ أَوْ نَافِلَةٍ أَوْ لِقِرَاءَةِ مُصْحَفٍ أَوْ صَلَاةٍ عَلَى جِنَازَةٍ أَوْ مِمَّا أَشْبَهَ هَذَا مِمَّا لَا يَفْعَلُهُ إلَّا طَاهِرٌ.

Tidak sah berwudu kecuali dengan niat. Cukup bagi seseorang niat berwudu untuk bersuci dari hadats, atau bersuci untuk shalat fardu, atau shalat sunnah, atau untuk membaca Musfah, atau shalat jenazah, atau ibadah sejenis yang tidak boleh dilakukan kecuali dalam keadaan suci. (Al-Umm, jilid 1, hlm. 44)

Dalam pembahasan tentang hukum gadai, Imam Syafi’i mengatakan,

وَقَدْ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ يَمَسَّهُ مِنْ الْمُسْلِمِينَ إلَّا طَاهِرٌ

Rasulullah SAW telah melarang umat Islam menyentuh Al-Quran kecuali dalam keadaan suci. (Al-Umm, jilid 3, hlm. 197).

Mazhab Hanbali

Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H.) diriwayatkan memiliki pendapat yang sama. Dalam kitab Masa’il Al-Imam Ahmad riwayat Ibnihi Abul Fadhl Shalih disebutkan,  

 لَا يمس الْمُصحف إِلَّا طَاهِر وَاحْتج بِحَدِيث سعد وَإِذا أَرَادَ أَن يقْرَأ فِي الْمُصحف على غير طَهَارَة لم يمسهُ ويصفحه بِعُود أَو بِشَيْء

Tidak menyentuh Mushaf kecuali orang yang suci. Imam Ahmad bin Hanbal berdalil dengan hadis Sa’d. Ketika Sa’d ingin membaca Mushaf dalam keadaan tidak suci, ia tidak menyentuh Mushafnya. Ia membalikkan halaman dengan menggunakan kayu atau sesuatu lainnya. (Masa’il Al-Imam Ahmad Riwayat Abul Fadhl Shalih, jilid 3, hlm. 208).

Sampai di sini, jelas bahwa menyentuh Al-Quran tanpa berwudu menurut para imam pendiri empat mazhab fiqih adalah harus dalam keadaan suci. Semoga ulasan singkat tentang hukum menyentuh al-Quran tanpa berwudu dapat menambah wawasan.