Beranda Keislaman Ibadah Hukum Merenggangkan Shaf Shalat Saat Pandemi Menurut MUI

Hukum Merenggangkan Shaf Shalat Saat Pandemi Menurut MUI

Harakah.id Untuk mencegah penularan wabah COVID-19, penerapan physical distancing saat shalat jamaah dengan cara merenggangkan shaf hukumnya boleh, shalatnya sah dan tidak kehilangan keutamaan berjamaah karena kondisi tersebut tergolong sebagai hajat syar’iyyah.

Hukum Merenggangkan Shaf Shalat Saat Pandemi Menurut MUI. Sejak awal pandemi, Satgas Covid-19 mewajibkan kita agar senantiasa menerapakan protokol kesehatan seperti menggunakan masker, menjaga jarak, selalu mencuci tangan, menjauhi kerumunan dimanapun dan dalam keadaan apapun.

Tentunya dari anjuran di atas timbul banyak pertanyaan ketika dikaitkan dengan cara melaksanakan ibadah shalat berjamaah, yang dalam benak sebagian masyarakat harus dilaksanakan secara rapat barisan. Bagaimana mungkin kita merenggangkan shaf shalat saat berjamaah mengingat pada umumnya para imam selalu mengingatkan agar barisan diluruskan dan dirapatkan. Sebagaimana kita ketahui, meluruskan dan merapatkan shaf (barisan) shalat saat berjamaah merupakan amalan penuh keutamaan. Sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat al-Bukhari dari sahabat Anas bin Malik RA;

أقِيمَتْ الصَّلَاةُ، فَأَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِوَجْهِهِ، فَقَالَ: أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ وَتَرَاصُّوا، فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي

Shalat telah ditegakkan (iqamah), lalu Rasulullah SAW menghadap kepada kami, lalu berkata: Luruskan shaf-shaf kalian dan saling merapatlah kalian. Sesungguhnya aku dapat melihat kalian dari belakang punggungku. (HR. Al Bukhari).

Lalu bagaimana hukum merenggangkan shaf shalat jamaah di masa pandemi Covid-19? Hukum Merenggangkan Shaf Shalat Saat Pandemi Menurut MUI. Hukum Merenggangkan Shaf Shalat Saat Pandemi Menurut MUI.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang hukum merapatkan barisan yang termaktub dalam Fatwa MUI No. 31 Tahun  2020, dalam fatwa berjudul “Penyelenggaraan shalat jum’at dan jamaah untuk mencegah penularan Covid-19”.

Dalam fatwa MUI tersebut dikatakan bahwa dalam situasi dan kondisi Covid- 19, diperbolehkan merenggangkan shaf shalat bagi kaum muslimin yang hendak melaksanakan shalat di masjid secara berjama’ah. Kondisi Covid-19 merupakan “udzur syar’i.

Dalam fatwa dijelaskan, meluruskan dan merapatkan shaf (barisan) pada shalat berjamaah merupakan keutamaan dan kesempurnaan shalat berjamaah. Dalam kondisi normal, shalat berjamaah dengan shaf yang tidak lurus dan tidak rapat hukumnya tetap sah, tetapi kehilangan keutamaan dan kesempurnaan jamaah.

Untuk mencegah penularan wabah COVID-19, penerapan physical distancing saat shalat jamaah dengan cara merenggangkan shaf hukumnya boleh, shalatnya sah dan tidak kehilangan keutamaan berjamaah karena kondisi tersebut tergolong sebagai hajat syar’iyyah.

MUI merekomendasikan agar pelaksanaan shalat Jumat dan jamaah perlu tetap mematuhi protokol kesehatan, seperti memakai masker, membawa sajadah sendiri, wudlu dari rumah, dan menjaga jarak aman. Perlu memperpendek pelaksanaan khutbah Jum’at dan memilih bacaan surat al-Quran yang pendek saat shalat. Jamaah yang sedang sakit dianjurkan shalat di kediaman masing-masing.

MUI menyatakan dalam Ketentuan Penutup bahwa fatwa ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dan berlaku selama pandemi COVID-19, dengan ketentuan jika di kemudian hari membutuhkan penyempurnaan, akan disempurnakan sebagaimana mestinya. Agar setiap Muslim dan pihak-pihak yang memerlukan dapat mengetahuinya, semua pihak dihimbau untuk menyebarluaskan fatwa ini. Hal-hal yang belum jelas akan diterangkan dalam bayan.

Demikian apa yang dapat penulis sampaikan, untuk membaca lebih lengkap tentang isi fatwa Majelis Ulama tentang meluruskan shaf ini silahkan mengunjungi website MUI. Wallahu a’lam.

Artikel kiriman dari Muhamad Hazim Ash Shiddiqi, Mahasantri IIHS Darus Sunnah, Ciputat.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...