Hukum Pakai Cadar atau Niqab Opsional, Tidak Diperintahkan dan Tidak Dilarang

0
952
Hukum Pakai Cadar Niqab

Harakah.id – Hukum pakai cadar atau niqab adalah tindakan yang sifatnya pribadi dan bukanlah suatu kewajiban, tidak diperintahkan dan tidak dilarang.

Islam memerintahkan umatnya untuk menjaga harga diri dan kehormatannya. Salah satu caranya ialah dengan adanya kewajiban menutup aurat bagi setiap Muslim dan Muslimah.

Dalam fikih diterangkan, batas aurat seorang Muslimah ialah seluruh anggota tubuh perempuan aurat kecuali wajah dan telapak tangan. Sementara bagi seorang Muslim, auratnya adalah dari pusar sampai lutut. Menurut sebagian ulama, dianjurkan untuk menutup pusar dan lutut juga.

Baca Juga: Aurat Perempuan di Depan Lelaki Bukan Mahram Saat di Luar Shalat Menurut Madzhab Syafi’i

Terkait aurat seorang Muslimah, hal yang sering menjadi perbincangan publik ialah hukup pakai cadar atau niqab. Sebenarnya apa hukum syar’i penutup wajah alias memakai niqab atau cadar bagi seorang Muslimah? Apakah niqab bagian dari jilbab, yang sekarang lebih dikenal dengan hijab atau tidak? Bagaimana penjelasan tafsir surah Al-Ahzab ayat 59 yang sering dikemukakan sehubungan dengan hal ini?

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS: al-Ahzab ayat 59]

Dalam ayat lain,

“وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ “

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya”. (QS: al-Nur ayat 31)

Kedua ayat ini saling menyempurnakan, yang mana menentukan sesuatu yang wajib dipakai seorang Muslimah, yaitu pakaian yang menutup tubuhnya dan tidak membukanya kecuali sesuatu yang sangat perlu dan dibutuhkan dalam berinteraksi, wajah dan dua telapak tangan.

Baca Juga: Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah Perkembangannya

Adapun yang dimaksud niqab adalah penutup yang menutupi wajah perempuan dari (pandangan) manusia. Maka tidak wajib baginya menutup wajah dengan niqab dan menutup kedua telapak tangannya dengan sarung tangan atau semacamnya. Hal ini karena tidak adanya dalil sharih dari Al-Qur’an dan hadits yang mewajibkan untuk menutup wajah dan kedua telapak tangan.

Oleh karena itu, hukum memakai niqab atau cadar adalah tindakan yang sifatnya pribadi dan bukanlah suatu kewajiban. Maka menutup wajah dan kedua telapak tangan adalah pekerjaan opsional, tidak diperintahkan dan tidak dilarang. Memakai niqab menjadi perkara baik apabila dikhawatirkan timbulnya fitnah dan membantu menolak kerusakan. (Ahbab Maulana Syaikh Ali Jum’ah)

Berdasarkan hal itu, hukum memakai cadar, niqab atau penutup wajah dan kedua telapak tangan adalah pekerjaan opsional (bebas) yang tidak diperintahkan dan tidak juga dilarang.

Baca Juga: Bolehkah Suami Memukul Isteri yang Nusyuz, Inilah Penjelasan Ulama
Baca Juga: Kasus Pelecehan Seksual Tidak Ada Hubungannya Dengan Persoalan “Syar’i” dan “Tidak Syar’inya” Pakaian Perempuan