Beranda Keislaman Muamalah Hukum Saling Mengunjungi Kerabat Saat Idul Fitri Di Musim Pandemi, Begini Penjelasannya

Hukum Saling Mengunjungi Kerabat Saat Idul Fitri Di Musim Pandemi, Begini Penjelasannya

Harakah.id Dalam situasi pandemi, kegiatan berkumpul dengan banyak orang seyogyanya dihindari. Lalu bagaimana hukum bersilaturahim dengan cara saling berkunjung saat pandemi?

Pandemi Covid-19 membuat kegiatan masyarakat terganggu. Tak terkecuali kegiatan sosial dan keagamaan. Bulan Ramadhan yang biasanya dilaksanakan dengan kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang, tahun ini agak sedikit berbeda. Agaknya, situasi akan terus berlangsung hingga lebaran Idul Fitri 2020.

Idul Fitri biasanya diramaikan dengan shalat Idul Fitri berjamaah bersama berbagai elemen masyarakat, lalu dilanjutkan dengan kegiatan saling berkunjung antar individu. Berbagai kegiatan seperti halal bi halal atau sekedar silaturahim menjadi kegiatan utama setelah shalat Idul Fitri.

Dalam situasi pandemi, kegiatan berkumpul dengan banyak orang seyogyanya dihindari. Lalu bagaimana hukum bersilaturahim dengan cara saling berkunjung saat pandemi?

Tidak diragukan lagi bahwa silaturahim dengan cara berkunjung ke sanak kerabat atau sahabat dekat saat Idul Fitri merupakan kebiasaan yang baik. Bahkan hal itu merupakan salah satu syariat Islam. Dalam kitab Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah (31/117) disebutkan satu bab khusus tentang anjuran saling mengunjungi pada saat hari raya. Berikut penjelasannya,

التَّزَاوُرُ فِي الْعِيدَيْنِ: التَّزَاوُرُ مَشْرُوعٌ فِي الإْسْلاَمِ، وَقَدْ وَرَدَ مَا يَدُل عَلَى مَشْرُوعِيَّةِ الزِّيَارَةِ فِي الْعِيدِ، فَقَدْ رُوِيَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: دَخَل عَلَيَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ تُغَنِّيَانِ بِغِنَاءِ بُعَاثٍ. فَاضْطَجَعَ عَلَى الْفِرَاشِ وَحَوَّل وَجْهَهُ، وَدَخَل أَبُو بَكْرٍ فَانْتَهَرَنِي، وَقَال مِزْمَارُ الشَّيْطَانِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَأَقْبَل عَلَيْهِ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَال: دَعْهُمَا زَادَ فِي رِوَايَةِ هِشَامٍ: يَا أَبَا بَكْرٍ إِنَّ لِكُل قَوْمٍ عِيدًا، وَهَذَا عِيدُنَا قَال فِي الْفَتْحِ: قَوْلُهُ: ” وَجَاءَ أَبُو بَكْرٍ ” وَفِي رِوَايَةِ هِشَامٍ بْنِ عُرْوَةَ ” دَخَل عَلَيَّ أَبُو بَكْرٍ ” وَكَأَنَّهُ جَاءَ زَائِرًا لَهَا بَعْدَ أَنْ دَخَل النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْتَهُ

Saling berkunjung saat hari raya. Saling berkunjung merupakan perkara yang disyariatkan dalam Islam. Terdapat hadis yang menunjukkan disyariatkannya saling berkunjung saat hari raya. Diriwayatkan dari Aisyah RA yang berkata, “Rasulullah SAW mengunjungiku, di sampingku ada dua orang perempuan yang sedang menyanyikan lagu-lagu perang Bu’ats. Lalu beliau rebahan di atas alas tidur, beliau memalingkan wajahnya. Abu Bakar masuk rumah mengunjungiku, lalu dia membentakku. Ia berkata, ‘Apakah pantas seruling-seruling setan ada di samping Nabi SAW?’ Rasulullah SAW memandang Abu Bakar lalu berkata, ‘Biarkan merek berdua –dalam riwayat Hisyam ditambahkan keterangan, wahabi Abu Bakar, setiap kaum punya hari raya. Ini adalah hari raya kita.’ Imam Ibnu Hajar berkata dalam kitab Fathul Bari, ‘Abu Bakar datang’ dan dalam riwayat Hisyam bin Urwah ‘Abu Bakar masuk mengunjungiku.’ Seakan-akan Abu Bakar datang mengunjungi Aisyah, setelah Rasulullah SAW mengunjungi Aisyah.

Sampai di sini jelas bahwa tradisi saling mengunjungi pada saat hari raya merupakan tradisi para sahabat Nabi SAW. Karenanya, terdapat anjuran untuk berkunjung saat hari raya. Tetapi yang harus digarisbawahi adalah hukum berkunjung saat hari raya hanya sebatas anjuran, tidak bersifat wajib. Berkunjung saat hari raya juga merupakan ajang mempererat tali silaturahim antara sesama Muslim.

Dalam melaksanakan kesunnahan, hendaknya kita juga mempertimbangkan kemaslahatan yang lebih besar. Terlebih jika pelaksanaan kesunnahan bertentangan dengan perkara yang diwajibkan. Ada sebuah kaidah dalam ilmu fikih yang mengatakan, “Perkara fardhu lebih utama dibanding perkara sunnah”. Jika pelaksanaan ibadah fardhu bertentangan dengan ibadah sunnah, maka yang lebih utama dilaksanakan adalah ibadah fardhu. Hal ini mengingat sejumlah hal.

Pertama, kekuatan perintah dalam ibadah fardhu lebih kuat dibanding perintah dalam ibadah sunnah.

Kedua, bentuk pahala dalam ibadah fardhu lebih besar dibanding ibadah sunnah.

Ketiga, hukuman yang diberikan kepada orang yang meninggalkan ibadah fardhu lebih berat dibanding orang yang meninggalkan perkara sunnah. Bahkan, tidak melaksanakan ibadah sunnah tidak ada dosa sama sekali.

Berdasarkan kaidah ini, jika pelaksanaan ibadah sunnah justru bertentangan dengan pelaksanaan kewajiban, maka hendaknya pelaksanaan sunnah ditunda terlebih dahulu. Terlebih jika melaksanakan kesunnahan justru mendatangkan bahaya. Pelaksanaan kesunnahan bisa menjadi terlarang. Hal ini jika memang betul-betul bertentangan.

Kaidah fikih lain mengatakan, “Perkara wajib hanya bisa ditinggalkan sebab melaksanakan perkara wajib.” Artinya, sebuah kewajiban tak boleh ditinggalkan untuk mendapatkan kesunnahan.

Dalam kasus berkunjung pada saat hari raya kita bisa katakan hukumnya sunnah. Sedangkan menjaga diri dari bahaya Covid-19 adalah sebuah kewajiban. Kewajiban menjaga diri dari bahaya Covid-19 merupakan bersifat dzatiyah (berdasarkan esensinya). Adanya himbauan pemerintah dan ulama untuk menghindari kerumunan merupakan penguat kewajiban ini.

Jadi, kegiatan saling berkunjung pada hari raya di era pandemi Covid-19 dapat dikatakan perkara sunnah yang pelaksanaannya bertentangan dengan perkara wajib. Kesunnahan ini boleh ditinggalkan agar kita dapat melaksanakan yang wajib.

Jika pertimbangan pelaksanaan saling berkunjung adalah untuk bersilaturahim, maka sebenarnya dengan perkembangan teknologi hari ini kita tetap dapat menjalin hubungan silaturahim melalui berbagai sarana yang tersedia. Dengan begitu, kita tetap dapat bersilaturahim sekalipun tidak bertatap muka langsung. Kita bisa melaksanakan kesunnahan silaturahim, sekaligus menjalankan kewajiban menjaga diri dari bahaya.

Demikian penjelasan singkat tentang hukum mengunjungi kerabat saat Idul Fitri pada era pandemi Covid-19. Semoga kita semua diberi keselamatan dari bahaya virus ini agar senantiasa dapat menjalankan perintah-perintah Allah.



[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...