Beranda Keislaman Ibadah Hukum Shalat Jum’at Dua Shift Menurut LBM PBNU

Hukum Shalat Jum’at Dua Shift Menurut LBM PBNU

Harakah.idKarenanya, sebisanya pelaksanaan shalat Jumat harus dilaksanakan tetapi dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Penyebaran wabah Covid-19 masih belum menunjukkan gejala akan segera mereda. Hal ini mengacu kepada grafik pasien positif yang terus meningkat. Di sisi lain, perekonomian masyarakat semakin terpuruk jika kebijakan pembatasan terus dijalankan. Dalam konteks ini, pemerintah berusaha mengambil jalan tengah dengan memberlakukan kebijakan new normal atau kelaziman baru.

New normal dalam konteks ini berarti kehidupan sosial-ekonomi akan diizinkan kembali tetapi dengan mematuhi protokol kesehatan yang ketat. Di antara kehidupan sosial yang akan dibuka kembali adalah aktifitas atau kegiatan keagamaan.

Shalat Jumat merupakan salah satu ibadah kolektif yang akan segera dinormalisasi. Tetapi dengan diberlakukannya protokol kesehatan yang ketat, beberapa praktik yang lazim sebelum Covid-19 akan segera ditinggalkan.
Salah satu model atau praktik yang biasa dilakukan sebelum covid adalah pelaksanaan yang terpusat di masjid dalam satu kali pelaksanaan.

Kebijakan new normal akan meniscayakan pelaksanaan shalat Jumat dengan pengaturan jarak. Hal ini berakibat pada kurangnya ruang pelaksanaan shalat Jumat. Untuk menyiasati kekurangan ruang ini, sebagian pihak menyarankan shalat Jumat dilaksanakan dalam dua gelombang atau lebih. Pilihan lainnya, pembukaan tempat-tempat baru untuk pelaksanaan shalat Jumat, seperti musalla dan lainnya.

Baik pilihan pertama maupun kedua, jika ditinjau dari perspektif fikih mazhab Syafi’i bermasalah. Karena, pada umumnya, para ulama mazhab Syafi’i mensyaratkan pelaksanaan shalat Jumat secara terpusat di satu tempat dan tidak boleh ada jumatan lain sebelumnya. Tidak dipenuhinya persyaratan ini akan berakibat pada ketidakabsahan ibadah shalat Jumat.

Menjawab persoalan ini, Lembaga Bahtsul Masail PBNU mengadakan pembahasan tentang permasalahan ini pada Jumat, (5/6/2020). LBM PBNU menyadari bahwa shalat Jumat merupakan kewajiban individu (furada) sekaligus kolektif (jama’i). Sebagai sebuah kewajiban, ia harus dilaksanakan. Pengabaian dengan tidak melaksanakannya akan berkonsekuensi dosa.

Karenanya, sebisanya pelaksanaan shalat Jumat harus dilaksanakan tetapi dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Terkait hukum fikih yang menjadi standar di masyarakat saat ini, sebenarnya bukan tidak ada alternatif. Tetapi hendaknya dalam pelaksanaannya diperhatikan benar kondisi kawasan. Apakah tergolong zona merah, kuning atau hijau. Semakin rawan suatu kawasan, masyarakat dapat mengambil pilihan pendapat yang lebih ringan.

Masyarakat yang berada di zona merah, mereka dapat melaksanakan shalat Jumat secara bergelombang (dua shift). Atau mengaktifkan musalla sebagai tempat pelaksanaan ibadah shalat Jumat, jika kapasitas masjid yang biasa digunakan kurang memadai. LBM PBNU juga menyimpulkan bahwa warga masyarakat yang tidak kebagian shift atau tempat, diperbolehkan tidak ikut melaksanakan shalat Jumat dan harus menggantinya dengan shalat zuhur.


[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...