Beranda Tokoh Ibnu Rusyd, Sang Pengarang Besar Islam dari Andalusia

Ibnu Rusyd, Sang Pengarang Besar Islam dari Andalusia

Harakah.id Ibnu Rusyd lahir dari keluarga ahli hukum. Tetapi, ia memiliki minat yang lebih luas. Ia menekuni filsafat hingga sains. Inilah Ibnu Rusyd, sang pengarang besar Islam dari Andalusia.

Sebuah pekerjaan yang sangat penting. Meskipun tidak bersifat “jabatan”, baginya tulis menulis ataupun menjadi seorang pengarang adalah suatu pekerjan yang mulia untuk meningkatkan intelektualitas bagi penikmat karyanya. Pekerjaan yang dilakukannya dengan kesungguhan hati itu telah membawanya kepada kesuksesan. Oleh karena itu nama dan karyanya sangat populer di dunia Islam, maka sebutannya pun menjadi berbagai macam menurut lidah bangsa-bangsa yang menyebutnya.

Dia adalah Abu al-Wahid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd atau biasa disebut (Ibnu Rusyd). Ia lahir di Cordova, ibu kota Andalusia, wilayah Islam di ujung barat benua Eropa pada tahun 526-595 H. Ia lahir dan dibersarkan dalam keluarga ahli fikih. Ayahnya seorang hakim, demikian juga kakeknya, Muhammad bin Ahmad (wafat 520 H/1126 M). Di dunia barat ia disebut dengan “Averroes” sebagaimana yang dikemukakan Nurcholish Madjid dalam bukunya, Kaki Langit Peradaban Islam. Beliau menuturkan bahwa terjadinya metamorfosis nama Ibnu Rusyd, atau menurut transliterasi standar Latin Ibnu Rochd menjadi Averroes, adalah akbat rentetan dalam proses penerjemahan.

Ibnu Rusyd terlahir dari keluarga yang terkenal di Andalusia sebagai ahli-ahli fiqh dan hakim-hakim. Leluhurnya terkenal sebagai imam-imam dari mazhab Maliki. Dia, ayahnya, dan kakeknya adalah hakim-hakim di kota Cordova, dan ada waktunya nanti ia menjadi hakim di Sevilla. Kalau melihat rentetan dalam kisah hidupnya, Ibnu Rusyd sejak kecil hingga beranjak dewasa, ia tetap bertekat mencari ilmu pengetahuan. Seperti yang dicatat oleh Ibnu al-Abrar dalam bukunya At-Takmilah yaitu ”ia bertekun dalam menggeluti ilmu pengetahuan semenjak kecilnya sampai umur tuanya, sehingga pernah diceritakan daripadanya, bahwa ia tidak pernah absen dari kegiatan berpikir dan membaca sejak ia mulai berakal, kecuali dalam dua hari yaitu pada malam saat ayahnya meninggal dunia dan pada saat hari pernikahannya.”

Maka tidak heran ketika khalifah atau pemimpin pada saat itu meminta Ibnu Rusyd untuk menduduki jabatan ataupun posisi yang strategis seperti penasihat politik, guru besar dan pemimpin perguruan tinggi, hakim pengadilan dikarenakan ia memiliki kemampuan yang sangat luar biasa dalam segala bidang ilmu pengetahuan. Dengan kemampuan intelektual yang dimilikinya, Ibnu Rusyd menuangkan ide dan gagasannya kedalam berbagai karya tulis.

Dari jumlah buku yang telah dihasilkannya, terlihat bahwa ia adalah seorang cendekiawan yang produktif sekitar 10.000 lembar halaman yang telah dihasilkan didalam hidupnya. Karya-karya yang ditulis oleh Ibnu Rusyd ada berupa buku, makalah, dan risalah. Salah satu kelebihan karya tulisnya adalah gaya penuturannya yang mencakup komentar, koreksi dan opini sehingga karya hidupnya dan tidak sekadar deskripsi belaka.

Namun, sangat disayangkan bahwa karangannya sulit ditemukan dikarenakan terjadi beberapa peristiwa, pertama tragedi yang menimpa Ibnu Rusyd ketika ia diadili dan dibuang ke Lucena dan semua buku karyanya mengandung filsafat dimusnahkan. Kedua disaat penaklukkan wilayah Andalusia oleh Raja Ferdinand II dan Ratu Isabella. Jendral sekaligus Kardinal Ximener yang merupakan seorang Kristen Fanatik memenangkan pertempuran kala itu dan membakar habis buku-buku yang berbau Arab dan dipastikan buku karangan Ibnu Rusyd termasuk didalamnya.

Ada sebagian karya yang berhasil diselamatkan oleh mahasiswa-mahasiswa Ibnu Rusyd dari universitas-universitas Seville, Cordova, Granada, dan universitas-universitas lainnya di Spanyol yang berasal dari berbagai daerah di Eropa. Untuk mengetahui jumlah karya Ibnu Rusyd, Ernest Renan telah melakukan penelitian di Perpustakaan Escorial di Madrid Spanyol.

Di perpustakaan tersebut ditemukan pula manuskrip-manuskrip berbahasa Arab yang memuat karya-karya Ibnu Sina. Secara keseluruhan jumlah buku Ibnu Rusyd ada 78. Renan merincikan semua judul buku Ibnu Rusyd kecuali ada 11 buku yang tidak disebutkan. Diantaranya 28 di bidang filsafat, 5 di bidang ilmu kalam, 8 di bidang fikih, 4 di bidang astronomi, 2 di bidang sastra arab, 20 di bidang kedokteran, dan 11 buah lagi tidak sebutkan (mungkin tersebar dalam berbagai ilmu). 

Sebagian besar karya-karya Ibnu Rusyd ditemukan Renan dalam keadaan berbahasa Latin dan Ibrani. Hanya ada 10 buah yang masih bisa dijumpai dengan bahasa aslinya, yaitu bahasa Arab. Dari 10 buah itu meliputi 2 bidang filsafat, 3 bidang kedokteran, 3 bidang fikih dan 2 bidang ilmu kalam. Bahkan lutfi Jum’ah, seperti yang dikutip oleh Zainal Abidin Ahmad, menyebut 5 buah saja karya Ibnu Rusyd (mungkin tersebar dalam berbagai ilmu). 

Sebagian besar karya-karya Ibnu Rusyd ditemukan Renan dalam keadaan berbahasa Latin dan Ibrani. Hanya ada 10 buah yang masih bisa dijumpai dengan bahasa aslinya, yaitu bahasa Arab. Dari 10 buah itu meliputi 2 bidang filsafat, 3 bidang kedokteran, 3 bidang fikih dan 2 bidang ilmu kalam. Bahkan lutfi Jum’ah, seperti yang dikutip oleh Zainal Abidin Ahmad, menyebut 5 buah saja karya Ibnu Rusyd yang berbahasa arab dengan menyebut judul buku dan bidang ilmunya tanpa menyebut judul dan bidang kedokteran, padahal buku bidang ini yang berbahasa Arab jelas ada sehingga temuan Luthfi Jum’ah tidak bisa jadi pegangan.

Ibnu Rusyd mulai mengarang saat usia 36 tahun yaitu sekitar pada tahun 556 H sewaktu ia menjadi guru besar Universitas Cordova dan buku pertama yang dikarangnya adalah Kulliyat dalam ilmu kedokteran, yang dalam bahasa Latin buku itu dinamakan Colliget. Luthfi Jum’ah mengatakan dalam proses penyelidikan sejarah tentang proses Ibnu Rusyd mengarang sebelum usianya mencapai 36 tahun tidak ada satupun buku yang dikarang olehnya.

Ini menandakan bahwa persiapan dalam mengarang buku, Ibnu Rusyd mempersiapkan segala yang dibutuhkan dalam proses mengarang tesebut. Ia bukanlah seorang penulis mengenai persoalan yang tidak memerlukan karangan-karangan yang mendahuluinya, seperti halnya seorang penyair atau pembuat cerita-cerita, tetapi ia adalah seorang sarjana yang memerlukan proses penyelidikan dan pemeriksaan sebelum ia mengarang sebuah buku yang bersifat ilmiah.

Patut kita banggakan sebagai generasi selanjutnya sebagai pemegang estafet peradaban bahwa ada seorang intelektual muslim yang berkontribusi untuk membuat suatu peradaban lewat karya-karya ilmiahnya di masa depan. Dia adalah orang yang tidak pernah berhenti berfikir, menciptakan ide dan gagasan sehingga ia bisa menciptakan karya yang sangat luar biasa.

Selain memiliki otak yang cerdas ia memiliki tekad serta kemauan yang tinggi untuk menulis atapun mengarang sebuah buku. Maka segenap sisa hidupnya yang berharga itu ia habiskan dengan membaca, menyelidiki lalu mengarang. Mengarang bukan hanya sekedar hobi ataupuns suatu pekerjaan yang mengasyikkan, akan tetapi suatu pekerjaan yang memiliki jangka panjang hingga akhir zaman nanti.

Lewat karya yang diciptakan manusia bisa berevolusi dan menciptakan sesuatu hal yang baru. Dahulu sudah ada ulama, cendikiawan muslim yang memulainya, dan saat ini generasi selanjutnya untuk meneruskan semangat Islam lewat karya-karya lainnya agar bermanfaat untuk ummat.

*Artikel kiriman dari Hidayat, Mahasiswa UIN Sumatera Utara, Jurusan Hukum Pidana Islam, Fakultas Syariah dan Hukum. IG: @hidayatchaniago19.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...