Beranda Headline Ibrah di Balik Gempa Bumi Cianjur, Renungan Qs. Al-Mulk Ayat 16

Ibrah di Balik Gempa Bumi Cianjur, Renungan Qs. Al-Mulk Ayat 16

Harakah.id Peristiwa gempa bumi ini menyadarkan kita bahwasanya bencana alam yang terjadi karena kehendak dan kekuasaan Allah SWT. Dan ini merupakan suatu musibah yang diberikan Allah untuk menguji para hamba-Nya.

Gempa bumi Cianjur. Akhir-akhir ini dikejutkan dengan banyaknya fenomena-fenomena yang terjadi, salah satunya ialah gempa bumi berkekuatan 5,6 SR yang menguncang Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, tepat pada hari senin tanggal 21 november 2022 pukul 13.21 WIB. dalam hal ini gempa tersebut juga dirasakan oleh beberapa daerah. Terjadinya gempa bumi ini menyebabkan banyaknya korban jiwa serta kerusakan infrastuktur.

Gempa bumi merupakan sebuah fenomena alam yang tidak hanya dipandang sebagai bentuk peringatan atau ujian, akan tetapi juga perlu dilihat dari segi kealamiahan bagaimana gempa bumi tersebut bisa terjadi.  

Gempa bumi merupakan getaran yang terjadi di atas permukaan bumi akibat pelepasan energi dari dalam secara tiba-tiba yang menciptakan gelombang seismic. Adapun salah satu penyebab terjadinya gempa bumi yaitu, dinamika bumi (tektonik), dan aktivitas gunung merapi. Dalam hal ini gempa bumi yang sering terjadi ialah gempa bumi tektonik, yang disebabkan  oleh pergeseran lempeng tektonik.          

Dalam al-Qur’an peristiwa gempa bumi banyak dikisahkah telah terjadi pada umat-umat terdahulu sebagai peringatan dan adzab dari Allah karena mereka menentang Allah.

Sebagaimana gempa yang menimpa kaum Nabi Luth karena mereka melakukan penyimpangan seksual, kemudian gempa yang menimpa Qarun karena kesombongannya, kemudian gempa yang menimpa kaum Tsamud karena mengingkari kebenaran yang dibawa oleh Nabi Shaleh as. Kemudian ada pula gempa yang menimpa penduduk Madyan karena mereka durhaka kepada Allah dan menolak ajaran yang dibawa oleh Nabi Syu’aib as.

Adapun salah satu firman Allah SWT terkait gempa bumi, yaitu terdapat dalam surah Al-Mulk ayat 16, yaitu:

ءَأَمِنتُم مَّن فِى ٱلسَّمَآءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ ٱلْأَرْضَ فَإِذَا هِىَ تَمُور

 Artinya: Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang? (Al-Mulk: 16)

Dalam Tafsir Quraisy Shihab dijelaskan bahwasanya Kata ( ءامنتم) a’amintum atau telah merasa aman yang dimaksud di sini adalah rasa aman yang mendorong seseorang lengah dari kuasa Allah swt, bukannya rasa aman yang disertai dengan kesadaran akan kuasa Allah swt.

Al-Qur’an pun mendorong manusia untuk meyakini adanya hukum-hukum alam yang telah ditetapkan Allah dan menjadi takdir pengaturan-Nya terhadap alam semesta.

Hanya dengan keyakinan tentang konsistensi sistem dan hukum-hukum itu, manusia khususnya ilmuwan dapat melangkah dan mencipta aneka alat canggih.

Tetapi di samping itu manusia beriman dituntut untuk menyadari bahwa Allah swt. tidak kehilangan kekuasaan dalam pengaturan alam raya karena adanya sistem dan hukum-hukum yang ditetapkan-Nya itu.

Dari sini seorang muslim selalu harus awas dan waspada kendati meyakini hukum-hukum alam itu.

Maka dari itu peristiwa gempa bumi ini menyadarkan kita bahwasanya bencana alam yang terjadi karena kehendak dan kekuasaan Allah SWT. Dan ini merupakan suatu musibah yang diberikan Allah untuk menguji para hamba-Nya. Dan kita selayaknya hamba hendaklah mengambil pelajaran terhadap apa yang telah terjadi dan merenungkan tentang bencana alam yang telah terjadi di Negara kita, seberapa banyak pengingkaran kita  kepada Allah sang Penguasa langit dan bumi dibalik terjadinya musibah gempa ini.

Lantas apa saja ibrah (pelajaran) yang dapat kita ambil dari peristiwa gempa bumi Cianjur?

Gempa bumi merupakan tanda kasih sayang Allah serta peringatan kepada hamba-Nya, maka dari itu kita selayaknya hamba hendaklah terus meningkatkan kualitas keimanan, amal dan takwa, memuhasabah diri, terus berusaha menjadi insan yang lebih baik.

Gempa bumi ini juga merupakan ujian bagi hamba-Nya. Bagi yang terdampak gempa ini merupakan sebuah ujian bagi mereka karena Allah ingin melihat bagaimana kesabaran dan keikhlasan mereka dalam menghadapi musibah ini. Namun bagi yang tidak berdampak gempa hal ini juga merupakan sebuah ujian bagi mereka serta empati apakah mereka bisa membantu para korban gempa dengan menyisihkan sebagian harta yang dimiliki kepada mereka yang membutuhkan.

Dari peristiwa gempa ini hendaklah kita saling membangun solidaritas dan kebersamaan untuk terus bangkit dari dampak bencana ini.

Dari peristiwa gempa ini marilah kita jadikan sebuah momentum untuk selalu mengingatkan kita untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat memicu datangnya bencana sebagaimana bencana yang pernah ditimpakan kepada umat terdahulu

Demikian ibrah yang bisa kita ambil terhadap peristiwa gempa bumi yang melanda Kabupaten Cianjur. Semoga Allah selalu melimpahkan lindungan dan karunia-Nya kepada kita para hamba-Nya.

Artikel kiriman dari Ayya Surayya, Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir, IAIN Langsa, Aceh.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...