Beranda Tokoh Ijtihad Muhammad Abduh yang Tak Selalu Langsung Quran-Sunnah

Ijtihad Muhammad Abduh yang Tak Selalu Langsung Quran-Sunnah

Harakah.idKembali ke ajaran Islam seperti zaman salaf yaitu zaman sahabat dan ulama-ulama besar salah satu cara Muhammad Abduh menyikapi masalah tersebut. Tidak cukup hanya kembali ke ajaran asli yaitu Al-Quran dan Sunnah, tetapi dalam hal ini tidak berarti mengikuti ajaran (baca: mazhab) atau peninggalan yang ada. Atau dengan kata lain selektif, kritis dengan berpedoman pada Al-Quran.

Bagi Muhammad Abduh, kemunduran umat Islam sudah mencapai puncaknya. Dampaknya, ajaran Islam seperti bid’ah, khurafat dan lainnya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Mesir dimasa itu. Mendapatkan cita-cita bukan dengan usaha, kerja keras melainkan melalui doa-doa di kuburan. Atau pemujaan  yang berlebihan pada syekh atau wali dan kepatuhan membabi buta pada ulama terdahulu. 

Kembali ke ajaran Islam seperti zaman salaf yaitu zaman sahabat dan ulama-ulama besar salah satu cara Muhammad Abduh menyikapi masalah tersebut. Tidak cukup hanya kembali ke  ajaran asli yaitu Al-Quran dan Sunnah, tetapi dalam hal ini tidak berarti mengikuti ajaran (baca: mazhab) atau peninggalan yang ada. Atau dengan kata lain selektif, kritis dengan berpedoman pada Al-Quran. 

Pandangan Muhammad Abduh tentang Ijtihad 

Menurut Muhammad Abduh pentingnya menyesuaikan ajaran agama dengan situasi modern. Selain itu penting  diadakan interprestasi baru dan pintu ijtihad menurut Muhammad Abduh perlu dibuka guna membebaskan akal dari taqlid. 

Ijtihad bukan hanya boleh, melainkan penting dan perlu diadakan. Bukan berarti tiap orang boleh mengadakan ijtihad. Menurut Muhammad Abduh hanya orang-orang yang memenuhi syarat boleh mengadakan ijtihad. Seseoang yang tidak memenuhi syarat harus mengikuti pendapat mujtahid yang Ia setujui pahamnya. 

Seorang Muslim  menurut  Muhammad Abduh harus memandang bahwa hasil pemikiran manusia biasa  yang tidak luput dari kesalahan dan tidak selamanya benar. Menyikapi perbedaan pendapat yang diambil umat Islam kembali kepada Al-Quran dan Sunnah. 

Pandangan Muhammad Abduh tentang Mazhab Fiqh 

Cara Ijtihad Muhammad Abduh dapat dilihat dari pendapatnya tentang mazhab. Bermazhab bukan berarti mengikuti dan tunduk pada hasil ijtihad mujtahid tertentu, tetapi mengikuti cara-cara atau metode yang mereka tempuh. Bermazhab bukan ditujukan bagi orang awam dan orang yang berijtihad tertentu pun boleh bermazhab lewat cara yang ditempuh oleh imam mazhab yang bersangkutan. 

Fanatisme mazhab biasanya terjadi kalangan awam dapat dihindarkan dan sikap taklid teratasi. Generasi muda sesudah mujtahid mengikuti hasil ijtihad bukan melalui cara berijtihad yang ditempuh oleh para imam mazhab. Fanatisme mazhab sesudah mujtahid menambah dan memperluas hasil-hasil ijtihad dari ulama terdahulu. Hal ini bukan semakin jelas dan rumit. 

Ijtihad Muhammad Abduh

Ijtihad Muhammad Abduh dapat dilihat saat Ia memegang jabatan hakim dan mufti. Dari sinilah dapat terlihat apakah Muhammad Abduh terikat atau tidaknya kepada pengaruh maupun  pendapat suatu mazhab ada 3 Sumber yang dapat dikaji. Sumber pertama ketika Ia memegang jabatan hakim dari  1888-1899.  Saat menjabat sebagai hakim Ia memang berkewajiban memutuskan perkara di antara orang yang berselisih. Memutuskan suatu masalah  ia tidak selamanya tunduk atau mengacu pada undang-undang atau ajaran mazhab tertentu. Atau dengan kata lain Ia dalam mengemban tugasnya Ia tidak mengacu undang-undang yang berlaku di negeri Mesir atau mazhab tertentu. 

Menurut Muhammad Abduh keadilan dari keputusan hukum yang diberikannya dan tidak menjadi persoalan baginya apakah keputusan sesuai dengan ketentuan undang-undang atau tidak. Hal ini terlihat dari beberapa keputusan hukum yang ditanganinya atau dijatuhkannya dalam beberapa kasus antara lain:hukuman para pelaku sumpah palsu, saksi-saksi palsu ketika itu banyak terjadi di persidangan. Saat keputusan pengadilan terjadi Ia menjatuhkan hukuman yang lebih berat tidak sesuai menurut undang-undang. 

Sumber kedua yang dapat dijajaki tentang kecendurangan Abduh terhadap suatu mazhab. Saat Ia memegang jabatan sebagai mufti. Jabatan mufti merupakan jabatan resmi yang ditunjuk oleh pemerintah. Tugas utama mufti yakni memberi fatwa dalam permasalahan dan Fatwa atau keputusan hukum syariat yang diberikan mufti bersifat mengikat. 

Muhammad Abduh saat bertugas sebagai mufti Ia melakukannya dengan caranya sendiri. Terkadang Ia berbuat sesuatu di luar jabatan resmi salah satunya cara memberi pelayanan kepada siapapun yang membutuhkannya. Atau dengan kata lain Muhammad Abduh tetap menjabat sebagai mufti negara yang mengeluarkan fatwa resmi sesuai dengan mazhab Hanafi, mazhab resmi yang dianut pemerintah Mesir saat itu. 

Namun, dalam prakteknya Ia melayani semua lapisan masyarakat tanpa ada perbedaan di antara mereka dan semua dilayani dengan baik. Dari sinilah awal pembaharuan Islam bidang hukum dimulai. Tidak sedikit fatwa-fatwa Muhammad Abduh yang terkenal antara lain: menghalalkan daging yang disembelih oleh orang Yahudi maupun orang Kristen, halal bagi orang Islam menyimpan uang di kantor pos dan mengambil bunganya. Dari fatwa-fatwa yang Ia keluarkan salah satu bukti Ia tidak terikat pendapat atau pengaruh suatu mazhab. 

Penafsiran terhadap Ayat-Ayat Al-Quran

Penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Quran menjadi sumber ketiga untuk menjajaki apakah Muhammad Abduh terikat atau tidaknya pada pengaruh suatu mazhab. Al-Quran menurut Muhammad Abduh sumber utama hukum Islam yang menyebabkan Ia menjadikannya sumber pertama dalam menetapkan hukum. Ia memiliki cara sendiri memahami ayat-ayat Al-Quran yaitu menggunakan akal. 

Biasanya Muhammad Abduh mentakwilkan di antara ayat-ayat yang berhubungan dengan kisah dialog antara Tuhan dan malaikat ketika akan menciptakan manusia di permukaaan di bumi. Dari sinilah tampaknya Ia tidak mengikat diri pada suatu mazhab, maka salah satu cara menyelesaikan suatu hukum yaitu ijtihad. 

Al-Quran dan Sunnah sumber pokok dalam Ia berijtihad. Al-Quran sumber hukum  yang  pertama dan Sunah atau Hadis dijadikan sumber hukum yang kedua sesudah Al-Quran. Muhammad Abduh bersifat  selektif terhadap semua Hadis. Tidak semua Hadis dijadikannya sebagai dalil, bahkan hadis Ahad yang dinyatakan shahih menurut syarat Bukhari, Muslim dan lainnya. 

Ia tidak banyak mendasarkan pendapatnya kepada Hadis dan akal menurutnya mempunyai peranan besar dalam mendapatkan kebenaran, terutama jika terdapat pertentangan Al-Quran dan Sunnah dengan akal. Sementara itu cara yang diterapkan dalam berijtihad adalah memelihara manfaat dan kemaslatan umum Al-Mashlahat Al-Ammat atau  dalam istilah fiqh disebut Al-Mashlahat Al-Mursalat. Metode ijtihad ini yang pernah diterapkan oleh Imam Malik dalam memahami nas. 

Muhammad Abduh memiliki metode dan teknik yang sama dengan Imam Malik dalam menetapkan hukum. Ia menetapkan hukum tidak hanya secara induktif, tetapi secara edukatif, dari perilaku sosial yang ditemukannya sehari-hari. Dari sini dapat dilihat Muhammad Abduh dalam berijtihad bersumber Al-Quran dan Sunnah dan Al-Mashlahat Al-Murasalat metode yang diterapkan dalam berijtihad 

Muhammad Abduh dalam berijtihad dengan cara tersendiri yang sangat dominan mengedepankan peranan akal menyebabkan Ia mampu menghasilkan ijtihad baru berbeda dari hasil ijtihad ulama terdahulu. Metode ijtihad seperti ini membuat Rasyid Rida menyebut Muhammad Abduh sebagai Al-Qadi Al-Mujtahid atau mujtahid yang berijtihad langsung dari Al-Qur’an dan Sunnah. Penilaian yang sama juga diberikan oleh Muhammad Syaltut menyebut Muhammad Abduh sebagai mujtahid yang sebenarnya. 

Artikel ini pernah terbit di plimbi.com

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...