fbpx
Beranda Gerakan Ikhlas Dirinya Dimakzulkan, Gus Dur Tahan Ratusan Ribu Massa yang Hendak Menyerbu...

Ikhlas Dirinya Dimakzulkan, Gus Dur Tahan Ratusan Ribu Massa yang Hendak Menyerbu Jakarta

Harakah.idIkhlas dirinya dimakzulkan, Gus Dur tahan ratusan ribu massa yang hendak menyerbu Jakarta. Bagi Gus Dur, tidak ada harga yang lebih mahal dan hal yang bisa ditukar oleh persatuan dan perdamaian, termasuk kekuasaan. Dengan logika fikih sederhana, Gus Dur ikhlas turun dari jabatan Presiden dan menyerahkan kursinya agar darah tidak tumpah di jalanan.

- Advertisement -

Manusia dianjurkan berbuat baik dan saling tolong-menolong guna mewujudkan interaksi sosial yang produktif dan bermanfaat. Di antara perbuatan baik tersebut adalah mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri. Sikap seperti ini mestinya dimiliki oleh setiap orang, terutama mereka yang menduduki kursi pemerintahan, karena tugas utama pemerintah ialah melayani dan menyejahterakan warga negara, bukan malah melayani kebutuhan keluarga sendiri dan menyejahterakan diri sendiri.

Baca Juga: Mengapa Kampus Islam Harus Didirikan? Ini Jawaban dan Argumen Kiai Saifuddin Zuhri

Bila dalam urusan sosial dianjurkan memprioritaskan orang lain, maka dalam persoalan ibadah mendahulukan diri sendiri justru lebih diutamakan dan sangat dianjurkan. Malahan orang yang mendahulukan orang lain dalam hal ibadah dihukumi makruh. ‘Izzuddin Ibn ‘Abdil Salam, sebagaimana dikutip Ibnu Nujaim, mengatakan bahwa ibadah bertujuan untuk mengagungkan dan memuliakan Tuhan. Karenanya, mendahulukan orang lain dalam hal ini berati mengabaikan instrumen untuk memuliakan Sang Pencipta.

Maka dari itu, pada saat waktu salat tiba dan kita hanya memiliki sedikit air, dimakruhkan memberikan air tersebut kepada orang lain sebelum digunakan terlebih dahulu untuk diri sendiri. Begitu pula saat shalat berjama’ah, dimakruhkan menyuruh orang lain atau membiarkan orang lain untuk berada pada saf pertama sebelum kita terlebih dahulu mengisinya.  Ini dimakruhkan karena ia bagian dari ibadah.

Dalam Kaidah fikih dikenal:

الْإِيثَارُ فِي الْقُرَبِ مَكْرُوهٌ، وَفِي غَيْرِهَا مَحْبُوبٌ

Mendahulukan orang lain dalam ibadah hukumnya makruh, dan pada selain ibadah disunnahkan

Aturan ini tidak berlaku untuk urusan mu’amalah dan ibadah sosial. Mementingkan diri sendiri justru bukan perbuatan baik pada saat berinteraksi dan berhubungan dengan sesama manusia. Dalam literatur fikih dicontohkan, dianjurkan bagi mustahik zakat untuk tidak mengambil bagiannya demi memprioritaskan orang lain yang lebih membutuhkan darinya. Demikian pula dalam persoalan politik, mendahulukan orang lain dalam hal ini tentu lebih diutamakan dan terpuji.

Baca Juga: Tidak Berpotensi Menggantikan Agama, Kiai Ahmad Shiddiq Yakinkan Para Ulama Menerima Asas Tunggal Pancasila

Oleh karenanya, pada saat dilengserkan Gus Dur tidak merasa sedih dan tetap berlapang dada menerima putusan sidang istimewa MPR. Beliau tidak mau mempertahankan jabatannya sekalipun ada banyak orang yang mendukung Gus Dur. Sebagaimana diketahui, pada waktu itu, masa nahdiyyin dari berbagai daerah sudah membanjiri Jakarta dan bersedia mati demi membela Gus Dur.

Jamil Wahab mengisahkan, masa nahdiyyin yang dipimpin oleh KH Mas Subadar jumlahnya ratusan ribu dan mereka meruntuhkan pagar pintu DPR karena tidak diperbolehkan masuk. Mereka juga sudah siap berhadapan dengan aparat dan tidak terhitung berapa jumlah kawat besi yang dihancurkan. Situasi massa sudah memanas dan tiba-tiba Gus Dur mendinginkannya dengan meminta massa untuk segera bubar dan pulang ke rumah masing-masing.

Ikhlas dirinya dimakzulkan, Gus Dur tahan ratusan ribu massa yang hendak menuju Jakarta. Tujuan Gus Dur menyuruh massa bubar tentu demi menjaga keamanan dan tidak terjadinya pertumpahan darah. Andaikan Gus Dur bersikukuh dengan jabatannya, kemungkinan besar perkelahian dan perperangan antara pendukung Gus Dur dengan aparat tidak terelakkan. Sebagaimana banyak terjadi di Timur-Tengah, revolusi pemerintahan selalu mengorbankan nyawa manusia. Para elitnya tidak seperti Gus Dur yang mau mengalah demi  menghindari tetesan darah. Malahan tak jarang di antara mereka menyerang rakyatnya sendiri demi mempertahankan jabatan.

Menurut Gus Dur, tidak ada jabatan dunia yang perlu dipertahankan mati-matian. Dikarenakan urusan politik bukan bagian dari ibadah mahdah, maka mengorbankan diri sendiri demi kepentingan umum sangat dianjurkan. Terlebih lagi ini menyangkut nyawa banyak orang. Dalam kaidah fikih disebutkan, menolak kemudaratan lebih baik daripada mengambil kemanfaatan (dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil masalih). Seorang pemimpin harus mampu menghindari kemudaratan semaksimal mungkin, meskipun di dalamnya terdapat kemaslahatan.

Pemakzulan Gus Dur oleh MPR dalam pandangan Mahfud MD disebabkan oleh dua alasan: pertama, Gus Dur dianggap melanggar TAP MPR No. VII/MPR/2000 karena melantik Chaeruddin Ismail sebagai pemangku jabatan Kapolri; kedua, Gus Dur dituding terlibat dalam kasus penyelewengan dana Buloggate dan Bruneigate. Kedua kasus tersebut sebenarnya tidak dapat dijadikan alasan memakzulkan Gus Dur. (Mahfud MD (2003): 210-214). Apalagi, Jaksa Agung sudah memutuskan bahwa Gus Dur tidak terlibat sama sekali dalam penyelewengan dana tersebut. Artinya, pemakzulan Gus Dur pada saat itu lebih pada alasan politis ketimbang hukum. Gus Dur tidak melanggar hukum dan hanya menjadi korban politik.

Baca Juga: Islam Sejalan Dengan Marxisme, Begini Cara Soekarno Mempertemukannya

Peluang Gus Dur melawan rival politiknya terbuka lebar. Tetapi dia tidak melakukan itu. Dia tidak sedikitpun menggunakan massa pendukungnya untuk menyerang balik DPR dan MPR. Bagaimanapun, kepentingan rakyat harus didahulukan di atas kepentingan pribadi. Dalam diktum fikih dinyatakan, kemaslahatan umum lebih diprioritaskan daripada kemaslahatan khusus.

Kebijaksanaan Gus Dur ini dipengaruhi oleh dalamnya pemahaman beliau terhadap fiqh, baik isi maupun metodologinya. Ia sangat memahami bahwa kebijakan seorang pemimpin harus senantiasa memberi kemaslahatan untuk rakyatnya (tasharruful imam manutun bil maslahah). Pada saat itu, mungkin turun dari kursi jabatan adalah pilihan terbaik menurut Gus Dur demi menjaga kemaslahatan rakyat.

REKOMENDASI

Respons Para Kiai Dalam Tragedi Gestapu, Santuni Janda Dan Pesantrenkan Anak Yatim Tokoh-Tokoh PKI

Harakah.id - Respons para kiai dalam tragedi Gestapu sangat jelas. Para Kiai menyatakan bahwa PKI tetap harus dibatasi pergerakannya. Hanya saja,...

Ini Jawaban Apakah Jodoh Itu Takdir Atau Pilihan?

Harakah.id – Jodoh itu takdir atau pilihan? Setiap orang tentu bisa berikhtiar memilih dan menentukan untuk menikah dengan siapa. Tapi dia...

Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah Perkembangannya

Harakah.id – Maqashid Syariah sebagai ruh kerja ijtihad memang tidak bisa disangkal. Maqashid Syariah adalah maksud dan tujuan pensyariatan itu sendiri....

Marxisme Tidak Melulu Soal Komunisme dan Atheisme, Begini Cara Menjadi Sosialis yang Islami Ala...

Harakah.id – Tuduhan bahwa Marxisme dan Sosialisme selalu melahirkan Komunisme dan Atheisme sebenarnya kurang tepat. Buktinya Soekarno, seorang pembaca marxis dan...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...