Ilmu Bahasa Berhubungan Erat dengan Hukum, Akidah dan Etika

0
106

Harakah.idIlmu bahasa berhubungan erat dengan hukum, akidah dan etika. Inilah penjelasannya.

Ilmu nahwu-shorof memiliki bidang kajian yang berbeda dengan ilmu fiqih. Ilmu nahwu-shorof mengkaji tata bahasa (mulai tataran leksikal hingga gramatikal) dalam bahasa Arab, sedangkan ilmu fiqih mengkaji hukum-hukum syari’at yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari (seperti ibadah, mu’amalah, pernikahan, dll). Namun jika diamati lebih teliti, ternyata ilmu nahwu-shorof dengan ilmu fiqih memiliki hubungan yang ‘sangat dekat’. 

Ketika saya masih berada di pesantren beberapa tahun yang lalu (waktu masih imut-imut), masih terekam dengan baik tentang ‘humor cerdas’ dari salah satu ustadz yang mengatakan bahwa “ilmu nahwu-shorof sungguh dapat mempengaruhi perubahan hukum syari’at dalam ilmu fiqih, konsistensi aqidah dalam ilmu tauhid, dan perubahan nilai-nilai sosial dalam kehidupan sehari-hari”. Ungkapan ini tentu saja telah dimodifikasi dalam aspek kebahasaannya, namun tidak mengurangi isi pesan yang disampaikan kala itu. 

Hal pertama yang dicontohkan adalah hukum kehalalan di dalam makanan seperti tahu dan kacang. Secara ilmu fiqih, tahu dan kacang adalah makanan yang halal dikonsumsi. Jika diamati lebih teliti, kehalalan kacang dan tahu disebabkan oleh ilmu nahwu-shorof. ‘Tahu’ menjadi halal karena ‘tahu’ dibaca rafa’ (tahu: dhommah).

Jika ‘tahu’ dibaca khafad atau jer, maka ‘tahu akan menjadi haram (sebab menjadi ‘tahi: kasroh). Sementara itu, ‘kacang’ menjadi halal karena ‘kacang’ ber-shighot fi’il ma’lum atau mabni ma’lum. Jika ‘kacang’ ber-shighot fi’il majhul, maka ‘kacang’ akan menjadi haram (sebab shighot majhul dari ‘kacang’ adalah ‘kucing’dan kucing adalah hewan yang haram dikonsumsi karena bertaring). 

Hal kedua yang dicontohkan adalah pertanyaan tentang lafadz ‘Allah’ dan ‘Muhammad’ termasuk kategori isim mufrad atau isim tasniyah atau jama’ taksir. Jika seseorang menjawabnya ‘agak lama’, maka ini sama saja ragu-ragu dalam akidahnya (sebab Allah dan Nabi Muhammad sudah pasti hanya satu (mufrad), tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad hanya satu di dunia ini). Hal ini menunjukkan bahwa nahwu-shorof sangat dekat dengan ilmu tauhid

Hal ketiga yang dicontohkan adalah nilai-nilai sosial dalam kehidupan sehari-hari, seperti mahalnya dan diagungkannya batu bacan. Batu ‘bacan’ berharga mahal dan bernilai tinggi karena berbentuk shighot ma’lum. Jika ‘bacan’ berbentuk shighot majhul, maka ‘bacan’ tak lagi bernilai mahal dan mulia, bahkan menjadi hina (sebab bentuk majhul dari ‘bacan’ adalah ‘bucin’ yang merupakan singkatan dari Budak Cinta.

Demikianlah ilmu bahasa berhubungan erat dengan hukum, akidah dan etika. Sekalipun ulasan di atas pada dasarnya adalah plesetan dan humor belaka, tetapi, dapat menggambarkan ilmu bahasa berhubungan erat dengan hukum, akidah dan etika dalam Islam. Wallahu A’lam.