Ilmu Rasional Itu Bersifat Syar’i, Ini Penjelasan Ibn Sina

0
188

Harakah.id – Ibn Sina: “Bagi orang-orang yang tahu dan mengerti, kebanyakan dari ilmu rasional itu bersifat syar`i, dan banyak dari ilmu agama itu bersifat rasional.”

Allah menjamin bahwa manusia beriman dan berilmu akan mendapatkan kemuliaan dan derajat yang sangat tinggi di antara manusia atau makhluk Tuhan yang lainnya. Namun demikian, tak sedikit di antara kita yang mencoba untuk mempertentangkan antar keduanya. Padahal, sebagaimana diterangkan Ibn Sina, antara iman dan ilmu, keduannya harus melekat secara kuat di dalam diri kita demi mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Ibn Sina membagi ilmu ke dalam dua cabang, pertama adalah ilmu agama (Al-`Ilm Al-Syar`i), kedua ilmu rasional (Al-`Ilm Al-`Aqli) atau dalam konteks saat ini adalah sains. Antara keduanya tiada pertentangan, mereka saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Dalam risalah berjudul Al-`Ilm Al-Ladunnī, Ibn Sina menyatakan, “bagi orang-orang yang tahu dan mengerti, kebanyakan dari ilmu rasional itu bersifat syar`i, dan banyak dari ilmu agama itu bersifat rasional.”

Baca Juga: Ibn Sina, Covid-19, dan Tumbuhan Obat Penangkal Wabah

Dalam hal itu, banyak sekali contoh-contoh yang dapat kita jumpai. Seperti dalam tradisi keilmuan kalam (teologi), terutama  yang menyangkut keberadaan Allah, dibangun di atas pondasi argumentasi yang logis dan rasional, di samping mereka juga menghadirkan argumentasi yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Argumentasi rasional melengkapi dalil wahyu, pun sebaliknya.

Juga dalam tradisi keilmuan fikih, yang dalam proses pengambilan hukumnya didasarkan atas kaidah-kaidah ushul fikih yang logis dan rasional, mengingat selain Al-Quran dan Sunnah, juga ada Qiyas dan Ijma` sebagai dasar pengambilan suatu hukum. Sekali lagi, dalam tradisi keilmuan ini, antara agama dan akal saling melengkapi.

Ilmu Agama

Pertama, ilmu agama (Al-`Ilm Al-Syar`i), kata Ibn Sina, terbagi atas dua macam, pertama yang sifatnya pokok atau dasar (Al-Ushūlī) yaitu ilmu tauhid yang juga dinamai dengan istilah ilmu kalam. Ilmu ini berbicara mengenai Dzat Allah dan sesuatu hal yang terkait dengan-Nya (sifāt, af`āl, dan asmā), masalah kenabian dan kepemimpinan setelahnya, dan hal-hal yang menyangkut dengan perkara eskatalogi.  Mereka yang memiliki konsentrasi dalam keilmuan ini dinamakan dengan sebutal al-mutakallimūn (para ahli kalam).

Ibn Sina mensyaratkan, bahwa untuk mendalami ilmu kalam, seseorang harus memiliki pengetahuan yang mendalam juga terhadap ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Al-Quran dan juga Hadits. Semisal ilmu tata bahasa arab, ilmu tafsir, dan lain sebagainnya. Kata Ibn Sina, “ilmu tata bahasa Arab merupakan jalan (untuk memahami) ilmu tafsir dan hadis, ilmu tafsir dan hadis adalah (jalan untuk membangun) dalil-dalil ilmu tauhid, dan ilmu tauhid adalah dasar terpenting untuk menghubungkan antara seorang hamba dengan Tuhannya.”

Baca Juga: Sisi Lain Pemikiran Ibn Sina, Filsuf yang Divonis Kafir oleh Imam Al-Ghazali

Bagian selanjutnya dari ilmu agama adalah ilmu al-furū` yaitu yang bersifat cabang. Ibn Sina menyederhanakan pembagian ini dengan istilah bahwa  ilmu ushuli bersifat teoritis, sedangkan ilmu furu` bersifat praktis yang meliputi relasi dengan Allah semisal shalat, puasa, zakat, dan haji; relasi antar manusia semisal berserikat, jual beli, utang-piutang, hukum pidana, nikah, talaq, waris dan juga yang berkaitan dengan etika (akhlaq).

Ilmu furu` itu mencakup pembahasan dalam khazanah ilmu fikih, yaitu fakultas ilmu yang mengurusi semua hal yang menyangkut amal  ibadah, baik yang sifatnya langsung dengan Allah (mahdlah) atau antar sesama makhluk (ghair mahdlah). Ibn Sina menyatakan, “ilmu fikih itu mulia, karena memberikan manfaat sebagai  ilmu yang sangat dibutuhkan.”

Ilmu Rasional

Kedua, ilmu rasional (al-`ilm al-`aqli) yaitu ilmu yang merinci dan menandai sesuatu tentang benar dan salah. Ilmu ini memiliki tiga tingkatan. Tingkatan pertama yaitu logika (al-mantiq – hukum tertib berfikir) dan matematika (al-riyādiyat – ilmu bilangan dan hitungan disebut juga ilmu pasti); tingkatan kedua adalah fisika (al-thabī`iyat – ilmu tentang kealaman meliputi materi, bentuk, gerak, perubahan, planet-planet, dan sebagainnya); dan tingkatan ketiga adalah yang derajatnya paling tinggi yaitu ilmu tentang wujud (al-ilāhiyyat – metafisika).

Baca Juga: Prediksi Turunnya Lailatul Qadar Ramadhan 2020 Menurut Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili

Demikianlah pembagian ilmu menurut Ibn Sina di dalam risalahnya berjudul al-`Ilm al-Ladunnī. Penjelasan detail dan mendalam terkait ilmu-ilmu rasional dapat kita jumpai dalam mahakaryanya yang berjudul al-Syifā yang meliputi logika, fisika dan metafisika. Di artikel lain, kita akan membahas pandangan Ibn Sina terkait dengan jalan mendapatkan ilmu pengetahuan, yang meliputi ta`līm al-insāni yaitu proses pengetahuan yang dihasilkan manusia melalui proses objektifikasi dan penalaran; dan ta`līm al-rabbāni yaitu pengetahuan yang didapatkan melalui pancaran ilahiah tanpa pelantara objektifikasi.