Beranda Sejarah Ilyasiq, Undang-Undang Jengis Khan yang Dijadikan Dasar Mengkafirkan Pancasila dan UUD 45

Ilyasiq, Undang-Undang Jengis Khan yang Dijadikan Dasar Mengkafirkan Pancasila dan UUD 45

Harakah.idMenurut Ibnu Katsir, Hukum Ilyasiq adalah sekumpulan aturan yang dibuat penguasa Tatar-Mongol yang menguasai dunia Islam sekitar abad ke-13 M. Hukum Ilyasiq disebut berasal dari perpaduan hukum Kristen, Yahudi, Islam dan lainnya.

Sebagian orang yang terpapar pemahaman ekstrem menganggap dasar Negara Indonesia yang meliputi Pancasila dan UUD 45 sebagai sumber kekafiran. Orang yang menerima kedua sumber hukum Indonesia tersebut merupakan orang kafir. Lebih-lebih para pejabat dan aparatur negara sebagai pelaksananya.

Dalam imajinasi sebagian orang Islam yang telah terpapar paham ekstrem tersebut, Pancasila dan UUD 45 merupakan undang-undang buatan manusia. Dimana membuat undang-undang, dalam pandangan mereka, adalah kewenangan Tuhan saja. Jika ada manusia yang membuat aturan perundang-undangan, berarti ia telah merebut hak mutlak Tuhan tersebut.

Selain menggunakan logika di atas, mereka yang terpapar paham ekstrem, mendasarkan anggapannya pada fatwa Ibnu Taimiyyah yang menilai kafir Hukum Ilyasiq. Menurut Ibnu Katsir, Hukum Ilyasiq adalah sekumpulan aturan yang dibuat penguasa Tatar-Mongol yang menguasai dunia Islam sekitar abad ke-13 M. Hukum Ilyasiq disebut berasal dari perpaduan hukum Kristen, Yahudi, Islam dan lainnya. Ibnu Katsir, seperti juga Ibnu Taimiyah, memandang negatif Hukum Ilyasiq. Pada era kontemporer, pernyataan kedua tokoh tersebut yang cenderung menganggap Hukum Ilyasiq sebagai hukum kafir, diikuti oleh sejumlah orang. Hanya saja, mereka hanya mengambil hukumnya; yang diterapkan pada apa yang mereka sebut hukum buatan manusia; dalam konteks Indonesia adalah Pancasila dan UUD 45. Lalu, apa sebenarnya Hukum Ilyasiq itu?

Asal-Usul

Ilyasiq berasal dari bahasa Mongol yang berarti “hukum, dekrit, atau ketertiban”. Dalam transliterasi latin, para peneliti menggunakan istilah “The Great Yasa” (Yasa Agung). Bahasa Turki menyebutnya dengan “Yasaq”. Bahasa Mongol melafalkan “Jasagh” (https://iranicaonline.org/articles/yasa-law-code).

Yasa, diyakini, dideklarasikan oleh Jengiz Khan saat berhasil menguasai Asia Tengah pada 1206. Ia membuat aturan untuk seluruh rakyat wilayah penakhlukan. Beberapa sumber menyebut bahwa Yasa berasal dari tradisi bangsa Mongol. Dokumen Yasa asli tidak pernah ditemukan oleh para sejarawan. Jika berasal dari Jengis Khan dan berakar pada budaya bangsa Mongol kemungkinan besar ia adalah sebuah deklarasi yang bersifat lisan; tanpa disertai sebuah dokumen tertulis.

Sekalipun demikian, disebutkan dalam sejarah bahwa para penguasa keturunan Jengis Khan yang membangun kekaisaran Mongol yang disebut Ilkhanate, diwajibkan menerapkan hukum Jengis Khan tersebut. Tidak ada detail isi Hukum Yasa Jengis Khan. Hanya ada beberapa poin yang sempat diabadikan oleh sumber-sumber sejarawan Arab. Para sejarawan Barat modern, umumnya, memanfaatkan informasi dari sumber-sumber Arab, dan mereka tidak punya pilihan lain. Salah satu yang menyebutkan detail, tetapi tidak terlalu detail juga, adalah sejarawan Al-Maqrizi. Bernama lengkap Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin Ali Al-Maqrizi, ia hidup pada abad ke-9/15. Ia tercatat wafat pada tahun 845 H. Ia menulis buku berjudul Al-Mawa’izh Wa Al-I’tibar Bi Dzikri Al-Khithath Wal Atsar. Menurut David Ayalon dalam The Great Yasa of Chingiz Khan (1971), Al-Maqrizi mendapatkan detail Yasa dari Ibnu Al-Burhan, dari Ibnu Fadhlulla Al-Umari (w. 749 H.), dari Atha’ Malik Al-Juwaini (w. 681 H.).

Lalu, apa kandungan Hukum Yasa atau Ilyasiq? Bagaimana penilaian para sarjana terhadap hukum tersebut?

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...