fbpx
Beranda Headline Imam Amudy, Ulama yang Masuk Surga Lewat Jalur Matematika

Imam Amudy, Ulama yang Masuk Surga Lewat Jalur Matematika

Harakah.id Imam Amudy adalah salah seorang ulama ilmuan yang unik. Ketika yang lain masuk surga karena ilmu agamanya, Imam al-Amudy masuk surga lewat jalur matematika.

- Advertisement -

Ternyata, masuk surga itu tidak hanya bisa ditempuh dengan berlomba-lomba dalam beramal sholeh, lho! Kealiman merupakan sesuatu yang sangat dibanggakan oleh Allah SWT. Bukan hanya kealiman dalam ilmu syariat, melainkan juga ilmu lainnya. Contohnya adalah kisah yang disampaikan oleh Gus Baha tentang kisah Imam Amudy. Siapakah beliau?

Beliau adalah ulama yang ahli di bidang matematika. Beliau tidak mengajarkan ilmu-ilmu syariat, seperti tata cara sholat, zakat, dan sebagainya. Beliau hanya mengajarkan ilmu matematika. Kemudian karena ilmu tersebut, beliau menjadi ahli tauhid. Ketika kelak ditanyai para malaikat di dalam kubur, beliau berencana untuk “melawan”. Jadi ketika malaikat Munkar-Nakir bertanya, “Siapa Tuhanmu?”, beliau akan balik bertanya, “Memangnya kamu pernah mengajar tauhid? Saya ini guru tauhid!” Tentu yang dimaksudkannya adalah ilmu matematika yang diajarkan beliau pada murid-muridnya. Bagaimana bisa matematika dapat menjelaskan keesaan Allah SWT?

Karena kejadian tersebut, Allah SWT lantas bertanya kepada Imam Amudy. “Wahai Amudy, presentasikan ilmu tauhid lewat jalur matematika ke semua malaikat-Ku. Semua malaikat-Ku tahu cara berpikir matematis!” 

Sebelum ke penjelasan Imam Amudy, mari kita melihat perspektif malaikat. Ketika mereka bangga karena ketaatan totalnya kepada Allah SWT, mereka bertanya, “Ya Allah, apa ada orang yang imannya di atas kami?”. Allah SWT menjawab, “Ada”. Malaikat bertanya kembali, “Siapa?!”, mungkin dengan nada terkejut. “Ya, pembaca-pembaca Harakah.id ini”, kira-kira semacam itulah jawaban Allah SWT, hehe. Maksudnya adalah bahwa jika malaikat beriman kepada Allah SWT, hal tersebut wajar karena mereka sendiri mengetahui-Nya. Bandingkan dengan pembaca Harakah.id yang tidak tahu persis mengenai Allah SWT dan tidak dapat berkomunikasi langsung dengan-Nya. Mereka justru beriman kepada-Nya. Itu keimanan yang luar biasa.

Apalagi keimanan tersebut diiringi dengan kealiman. Keimanan tersebut bahkan bisa sama pastinya dengan keimanan malaikat yang memang mengetahui langsung. Kita bisa menyimaknya dari penjelasan Imam Amudy berikut.

Angka seberapapun, seperti dua, tiga, empat, bahkan satu milyar, nisbatnya ke angka satu adalah nisbat antara cabang dengan pokoknya. Semuanya berasal dari angka satu. Maka alam semesta sampai apapun yang tidak dapat dijangkau di dalamnya, semua adalah cabang dari yang satu. Apa itu? Wujud dari yang Satu, yaitu Allah SWT. 

Kita bisa melihat bahwa dalam bilangan asli (natural number), urutan paling awalnya adalah satu. Bilangan asli merupakan bilangan tertua yang digunakan oleh umat manusia, sebelum akhirnya angka nol ditemukan di India dan Amerika Tengah pada abad ke empat. Dari angka satu itu, garis bilangan mulai memanjang menuju positif tak hingga di kanan.

Memang sekarang kita tahu bahwa terdapat bilangan cacah, bulat, pecahan, rasional, irasional, bahkan imajiner. Ada yang dimulai dari nol, ada juga yang dimulai dari negatif tak hingga. Namun, semua itu mungkin belum ditemukan pada zaman Imam Amudy, sehingga permasalahan mengenai awal bilangan tidaklah penting. Beliau benar pada zamannya atau dalam sudut pandangnya.

Kita harus paham bahwa ilmu, terutama matematika dan sains, adalah ilmu yang terus-menerus berkembang. Suatu cara yang serupa dilakukan oleh Imam Amudy yang bisa dilakukan di zaman sekarang, contohnya adalah sebagai berikut. Dalam dunia fisika, ditemukan konsep singularity yang baru-baru ini salah satu perumus teorinya mendapat Nobel Fisika pada tahun 2020, yaitu Roger Penrose.

Mohon maaf, dengan segala penyederhanaan, singularity merupakan satu titik di mana suatu massa dimampatkan di dalam ruangan bervolume menuju nol, sehingga kerapatannya praktis tak hingga. Para ilmuwan menduga bahwa awal semesta juga berawal dari singularity yang kemudian menjadi Big Bang yang menghasilkan alam semesta ini. Dari sini, kita bisa berpikir bahwa ternyata alam semesta ini pernah diciptakan dari sebuah titik, sehingga membenarkan tentang penciptaan oleh Allah, Sang Maha Pencipta. 

Ini bukan sains, tetapi pendapat berdasarkan temuan sains, sehingga jangan harap semua orang mau mempercayai hal ini. Ini juga bukan berasal dari ilmu syariat, sehingga belum tentu hal ini bisa diterima. Tetapi, itulah yang menurut penulis, apa yang Imam Amudy lakukan. Sebenarnya ini adalah tentang bagaimana merelasikan ilmu yang terus berkembang itu dengan ketauhidan, sehingga keimanan kita kepada Allah SWT dapat setara dengan iman para malaikat.

REKOMENDASI

Mbah Maimoen Zubair, Ulama Pakubumi yang Lahir Bersamaan Dengan Pekikan Sumpah Pemuda 1928

Harakah.id - Mbah Maimoen Zubair al-maghfurlah adalah salah seorang ulama pakubumi yang lahir bertepatan dengan Sumpah Pemuda. Selama hidupnya, Mbah Maimoen...

Bukan Untuk Diperdebatkan Haram-Halalnya, Maulid Nabi Adalah Momentum Meniru Keteladanan Muhammad

Harakah.id - Maulid Nabi sebenarnya adalah momentum berharga untuk meniru dan belajar dari keteladanan Nabi Muhammad. Maulid Nabi bukan justru waktu...

Kiai Abbas Di Pertempuran Surabaya 1945, Dari Membentuk Telik Sandi Sampai Menghancurkan Pesawat Dengan...

Harakah.id - Kiai Abbas di pertempuran Surabaya 1945 tidak hanya berperan sebagai pasukan, tapi juga komandan dan perumus strategi perlawanan. Selain...

Felix Siauw, Buku Muhammad Al-Fatih 1453 dan Kedaulatan Negara dalam Bayang-Bayang Bahaya Eks HTI

Harakah.id - Felix Siauw kembali membuat negeri ini heboh. Heboh sebab pembatalan surat edaran Dinas Pendidikan Bangka Belitung (Disdik Babel) yang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...