Beranda Tokoh Independen dan Berdaulat Meski Hidup di Tengah Patriarkisme Arab, Khadijah Jadi Penyokong...

Independen dan Berdaulat Meski Hidup di Tengah Patriarkisme Arab, Khadijah Jadi Penyokong Utama Dakwah Muhammad

Harakah.id – Tak diragukan lagi, Khadijah memang memangku peran yang cukup besar dalam kesuksesan dakwah Nabi. Tak hanya itu, sosoknya adalah gambaran wanita modern, yang independen dan berdaulat.

Nama lengkapnya adalah Khadijah binti Khuwaylid bin Asad bin Abdul ‘Uzza bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ayy bin Ghalib bin Fihr. Istri pertama Nabi Muhammad dan salah satu orang yang masuk Islam pertama serta menyertai perjuangan awal Rasulullah dalam menyebarkan dakwah Islam.

Khadijah hidup dalam sebuah masyarakat yang tidak ramah terhadap perempuan. Ada beberapa hal yang menjadi kunci untuk dipahami terlebih dahulu dari kebiasaan hidup masyarakat Arab jahiliyah yang kemudian menimbulkan problematika yang tak sederhana ketika Islam datang. Kunci pertama adalah sistem ekonomi yang terbentuk dari masyarakat Arab yang tribal dan bersuku-suku, kunci kedua berupa aturan tak terlulis pernikahan yang mereka berlakukan sebagai kelanjutan dari yang pertama. Pada akhirnya, sistem sosial tersebut melahirkan pada sikap menempatkan perempuan layaknya benda.

Dari sini, terlihat secara samar bagaimana posisi perempuan di dunia Arab Mekkah saat itu. Tidak memiliki posisi, baik secara politis, sosial maupun kultural. Perempuan tak lebih dari sekedar properti dan komoditas, yang diperjual belikan dan saling dipertukarkan seperti unta, sapi dan kambing. Maka perempuan independen bisa dibilang merupakan sesuatu yang mustahil untuk konteks kehidupan masyarakat Arab saat itu.

Sekali lagi, mustahil dan tidak banyak perempuan yang sukses dalam dunia perdagangan dan bisnis; dua hal yang menjadi ciri khas pekerjaan kaum Arab Quraisy seperti Khadijah binti Khuwaylid. Seorang janda kembang dengan paras wajah yang cantik, bernasab mulia, memiliki kedudukan yang kuat dalam struktur sosial suku Quraisy dan kaya raya. Sudah banyak kaum dan laki-laki yang berlomba-lomba berupaya untuk mendapatkan hati Khadijah. Namun semuanya gagal tanpa hasil.

Kekayaan dan perusahaan dagang Khadijah sebenarnya tidak ia usahakan sendiri. Perempuan dalam lingkungan sosial Arab Mekkah memang minor. Para saudagar perdagangan mayoritas adalah laki-laki. Perdagangan dan kekayaan Khadijah tidak terlepas dari dua mantan suaminya, yang pernah Khadijah nikahi sebelum menikahi Nabi Muhammad. Dari kedua suaminya itulah Khadijah mewarisi kekayaan dan usaha perdagangan yang terus dia kembangkan.

Atiq Bin ’Aidz adalah nama laki-laki pertama yang Khadijah nikahi sewaktu muda. Namun, suaminya itu tidak hidup lama dan wafat dengan meninggalkan kekayaan yang melimpah. Setelah itu, Khadijah menikah lagi dengan seorang pedagang dari Bani Tamim bernama Hindun Bin Banas.

Mirip dengan suami pertamanya, Hindun tidak hidup lama. Dia meninggalkan Khadijah dengan harta yang sangat banyak. Dengan kekayaan dua mantan suaminya dan usaha perdagangan yang ditinggalkan, Khadijah bertekad melanjukan usaha tersebut. Perdagangannya ternyata sukses dan semakin menjadikannya wanita yang kaya raya. Konon, Khadijah mempunyai lebih dari 80.000 unta yang tersebar di berbagai tempat.

Ibn Hisyam menggambarkan bahwa usaha yang dibangun oleh Khadijah benar-benar sudah mapan. Perusahaan perdagangan yang memperkerjakan banyak karyawan laki-laki, yang memiliki relasi perdagangan dengan negeri-negeri lain, adalah beberapa ciri yang menunjukkan bahwa perdagangan Khadijah termasuk salah satu yang paling sukses waktu itu. Kafilah-kafilah perdagangan Khadijah menyebar ke berbagai negeri tetangga dan rajin mengadakan perjalanan.

Selain merupakan trah keturunan bangsawan dan leluhur orang Quraisy, kondisi ekonomi yang mapan juga turut membawa Khadijah ke sebuah posisi yang tidak pernah dialami oleh perempuan-perempuan Quraisy lainnya. Khadijah adalah perempuan yang berdikari, independen, tidak tergantung pada laki-laki manapun. Dunia perdagangan membawanya ke sebuah posisi yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh perempuan Arab Mekkah pada waktu itu.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...