Ingin Anak Jadi Ulama? Pahami 4 Teori Memproduksi Anak Agar Jadi Ulama Berikut Ini!

0
6190
3d illustration of sperm cells moving to the right

Harakah.idIngin anak jadi ulama? pahami 4 teori memproduksi anak agar jadi ulama berikut ini. Teori-teori produksi yang sudah banyak dilakukan dan dibuktikan di kalangan keluarga ulama. Empat teori yang sangat penting jika anda ingin anak anda jadi ulama.

Gus Abdul Qoyyum Mansur Lasem menurutkan, ada empat cara yang disarikan dari tradisi dan pengalaman para ulama tentang bagaimana memproduksi keturunan-keturunan calon ulama. Ingin anak jadi ulama? pahami 4 teori memproduksi anak berikut ini;

  1. Teori Tempat Kelahiran

Tempat kelahiran mempengaruhi karakter seseorang. Hakim bin Hizam dan Sayyidina Ali yang lahir di dalam Ka’bah. Hakim menjadi dermawan hingga rela menjual kantornya untuk disedekahkan. Sayyidina Ali menjadi ahli ilmu, Nabi Muhammad bersabda: “Aku gudangnya ilmu dan Ali pintunya. Kita mengenal Sayiddina Ali sebagai sahabat yang cerdas. Seorang ahli hadist India bernama Husyamuddin Al-Muttaqi Al-Hindi, menulis dalam kitabnya Kanzul Ummal bahwa Sayiddina Ali pernah berpidato secara spontan sebanyak 5 halaman tanpa huruf alif.

  1. Teori Keluarga

Di dalam Al-Quran, ada 26 kali penyebutan keluarga dengan kata ali, ala dan alu. Keluarga Nabi Ibrahim dua kali disebut, keluarga Nabi Luth empat kali, lalu keluarga Firaun yang paling banyak disebut, hingga 14 kali. Siapapun, bisa punya jiwa Fir’aun. Penguasa maupun ulama juga bisa punya jiwa Fir’aun.

Ilmuwan Jepang sepakat bahwa anak usia empat bulan dalam kandungan yang diperdengarkan musik, bisa mempengaruhi tumbuh kembangnya. Kalau ingin anak jadi penyanyi, sejak empat bulan di kandungan perdengarkan lagu-lagu. Kalau ingin anak pintar ngaji, perdengarkan bacaan al-Quran.

  1. Teori Seks

Pada zaman dahulu ada wali buta bernama Ali Al-khowash yang memiliki ilmunya laduni. Ali Al-Khowash pernah menuturkan, siapa yang dibayangkan sebelum, selama dan setelah berhubungan seks, akan mempengaruhi anak. Hal itu, sebab ada energi yang mengalir dari pikiran ke dalam jiwa, lalu ke anak. Kalau yang dipikirkan ulama, jadinya ulama. Kalau yang dipikirkan penyanyi, ya jadi penyanyi.

Dalam surat Ali Imron 37-39 disebutkan bahwa Nabi Zakariya sangat mengagumi Maryam karena tiap kali mendatangi kamar Maryam di masjid, selalu ada makanan dari Allah SWT. Nabi Zakariya lalu berdoa minta anak. Kemudian diberi anak Nabi Yahya. Nabi Yahya ini ada kesamaan dengan Maryam. Sama-sama tidak menikah.

Apa yang kita cintai atau yang kita pikirkan, maka energinya akan menyalur dalam diri kita. Kalau kita cinta Nabi, maka Allah SWT akan mentransfer energi sehingga karakter kita mirip Rasulullah SAW.

Napoleon Bonaparte setiap bertemu wanita tua, pemimpin Perancis itu selalu berhenti menghormat. Itu dia lakukan karena setiap melihat wanita tua, dia teringat ibunya. Dia pun menjadi pemimpin yang karakternya baik seperti ibu.

  1. Teori Transfer

Dahulu ada seorang ulama bernama Sa’duddin Al-Taftazani. Beliau belajar puluhan tahun tapi tetap bodoh hingga suatu hari ada orang datang kepadanya memberitahu bahwa dia ditunggu Rasulullah SAW. Kemudian ia datang dan disuruh membuka mulutnya, lalu diludahi Rasulullah SAW. Sejak itu, dia menjadi ulama brilian. Ada kesunahan, kita sowan ulama membawa kurma lalu minta ulama tersebut memamahnya. Kemudian kurma pamahan tersebut diberikan pada anak kita.

Tokoh Muhammadiyah Jombang, KH. Muchid Jaelani sempat cerita, saat mondok di Tebuireng, mulutnya pernah diludahi Gus Kholiq, pengasuh Pesantren Tebuireng yang dikenal sakti. Sejak itu, beliau bisa membaca sendiri kitab-kitab kuning meskipun belum pernah diajarkan kiai.

Waktu kecil, Gus Qoyyum sering makan sesuatu yang dipamahkan oleh sang bapak. Bisa jadi, gus-gus itu jadi ulama karena kecilnya sering makan dari makanan yang dipamah bapaknya yang seorang kiai.

تحصنت بحصن لا إله إلا الله محمد رسول الله

Jika kamu ingin anak jadi ulama, pahami 4 teori tersebut dan lakukan dengan niat lillahi ta’ala.

Artikel ini ditulis oleh Mbah Kanthongumur/Ustadz Muhammad Wahyudi dan diambil dari Laman FB Gus Rijal Mumazziq Z.