Inilah 3 Cara Mendidik Anak Menurut Gus Baha yang Humanis dan Islami

0
107

Harakah.idMenurut Gus Baha, anak sudah bisa melafadzkan kalimat tauhid atau kalimat tayyibah saja sudah spesial.

Cara Mendidik Anak Menurut Gus Baha. Anak merupakan titipan dan keberkahan dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada insan yang sanggup untuk mendapatkannya dalam pandangan Allah. Tentu mayoritas orang tua menginginkan seorang anak yang menjadi tempat curahan cinta dan kasih sayang.

KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal dengan Gus Baha merupakan seorang pendakwah dengan keilmuan yang sudah diakui masyarakat. Banyak ilmu yang telah dikuasinya, di antaranya adalah fikih, tafsir, dan hadis. Kakek Gus Baha pernah menyampaikan kepada KH. Nursalim, ayahnya Gus Baha, “Besok Baha gausah sekolah (sekolah SMP seperti kakak-kakanya), nanti yang jadi ‘Alim itu Baha saja.”

Dalam sebuah ceramahnya, Gus Baha pernah menjelaskan bagaimana cara mendidik anak dengan benar supaya tidak menyeleweng dari ajaran agama. Menurut Gus Baha, anak sudah bisa melafadzkan kalimat tauhid atau kalimat tayyibah saja sudah spesial. Gus Baha mengatakan, “Bagi saya untuk memuji anak tidak harus soleh dulu, saya taunya anak saya ini sudah sujud, sudah melafadzkan kalimat thayyibah itu sudah spesial.” Berangkat dari sini, berikut adalah 3 cara mendidik anak menurut Gus Baha.

Pertama, menghormati dan menghargai anak.

Pada saat sekarang ini banyak orang tua yang hanya menghormati dan menghargai anaknya hanya karena anak menyalim orang tuanya dikeramaian karena prestasi yang dimiliki oleh anak, anaknya bekerja diperusahaan ternama, manut/nurut terhadap apapun yang disampaikan orang tuanya. Gus Baha menyampaikan kalau hanya sekedar nurut saja budakpun bisa nurut, burung beo juga nurut. Namun, orang tua suka lupa kalau anaknya memiliki keistimewaan yang spesial dari itu semua, Anak yang sujud kepada Gusti Allah serta dengan yakin mengucapkan kalimat thayyibah “Lailahaillallah”. Bagi Gus Baha ini sudah spesial. Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ bersama Jibril, Mikail dan malaikat-malaikat lainnya hanya untuk memperbaiki aqidah, agar kaum mengucapkan kalimat LailahaIllah.

Pada saat ini kalimat Lailahaillah sudah familar, maka orang tua yang mendidik anaknya dengan menanamkan dan mengajarkan kalimat tauhid tersebut dengan maksud mendekatkan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan menanamkan aqidah yang lurus merupakan orang tua yang benar. Inilah yang bisa disebut serupa dengan sifat Nabi Ibrahim a.s mendidik anaknya “Wajaʿalahā kalimatan bāqiyatan fī ʿaqibihi”. Hal ini lah yang membuat Gus Baha hormat kepada anak-anaknya. Anak yang mengucapkan dan menanamkan dalam dirinya kalimat tauhid.

Kedua, tidak membentak-bentak anak.

“Jangan memarahi anak, nanti kualat” tutur Gus Baha. Memarahi bahkan membentak anak sudah menjadi hal yang biasa kita temui, apalagi ketika anak melakukan kesalahan. Bukannya dinasehati, kebanyakan orang tua hanya membentak anak yang terkadang tidak sengaja melakukan kesalahan tersebut. Sampai lupa sebenarnya hubungan kita dengan anak itu sebenarnya apa? Apakah hanya sebatas darah daging saja atau hanya sebatas bawahan yang bebas diperlakukan semau orang tua. Gus Baha menekankan untuk tidak lupa kalau anak yang kita inginkan tersebut datangnya dari Allah dan kita menginginkannya karena Allah. Aset yang Allah titipkan kepada dua pasang insan yang Allah tau mereka sanggup untuk dititipkan aset mulia tersebut.

Ibunya Sayyidah Maryam Allah jadikan wali bukan tidak ada sebab, ibunya berdoa kepada Allah “Ya Allah yang diperut ini saya nadzarkan khusus untuk menghidmati agama Engkau”. Tentu bayangan dia adalah anak laki-laki yang soleh yang memperjuangkan agamanya Allah subhanahu wa ta’ala. Namun dengan keberkahan dari Allah, Allah menganugrahkan anak perempuan.

Hal ini menjadikan orang tua Siti Maryam sedikit kecewa, namun tidak menyerah akan nikmat dari Allah subhanahu wa ta’ala, “Ya Allah sebenarnya saya ingin anak saya ini menghidmati agama, tapi kenapa yang lahir adalah perempuan” karena peran perempuan berbeda dengan laki-laki dalam memperjungkan agama.

Sayyidah Maryam melanjutkan kembali doanya “Sudahlah ya Allah tidak apa-apa perempuan, tapi saya ingin perempuan yang tidak tergoda oleh setan serta semua anak keturunannya”. Ternyata benar, Allah memberikan Sayyida Maryam seorang anak yang menjadi legenda dalam agama Allah, anak tersebut adalah Nabi Isa a.s.

Dari sekilas kisah tersebut diantara ibrah yang bisa diambil adalah untuk meluruskan niat kita terhadap Allah untuk apa anak ini Allah titipkan, yakni untuk menjadikan anak berjalan pada jalan agama, dididik dengan kalimat-kalimat mulia, meninggalkan makian buruk yang dikhawatirkan makian tersebut dikabulkan oleh Allah. Meluruskan niat sebagaimana ‘imran yang menganggap anaknya untuk agama Allah.

Pada zaman sekarang ini orang tua kerap kali mencinta anaknya supaya anak tersebut merawatnya kelak saat sakit, saat tua dan tidak berdaya. Gus Baha menganggap orang tua yang seperti itu bukanlah perkataan orang tua yang salat (orang tua yang taat beragama).

Ketika orang tua mendidik anaknya dengan cara kasar dan membentak anak supaya patuh dan tunduk merupakan sikap yang salah, dilain anak menjadi tertekan akan membuat anak tidak ikhlas dalam menjalankan agama. Sebaliknya jika anak yang dididik dengan cinta untuk menjalankan agama, jangankan merawat orang tua saat sakit, anak tersebut akan mendoakan dan selalu mengirimkan surah fatihah pada saat orang tua tersebut sudah dipanggil oleh Allah subhananu wa ta’ala.

Gus Baha menyampaikan Jika kita menghormati orang lain karena kalimat tauhid, bukankah kalimat tersebut ada pada anak anda. Namun sialnya anakmu selalu menjadi bahan amarahmu. Kamu menghormati orang lain karena muslim hendaknya kamu menghormati anakmu dengan dua status, sebagai anak dan sebagai muslim.

Ketiga, memberikan contoh yang baik kepada anak.

Ketika Nabi Ya’qub meninggal, anak-anaknya dikumpulkan dan ditanya “Nak, sehabis ini siapa yang akan kamu sembah?” Anaknya menjawab, “Saya akan menyembah seperti sesembahan leluhur saya.”

Artinya, mereka taunya leluhurnya atau orang yang mendahului mereka yakni Nabi Ya’qub as dan diatasnya menyembah Allah subhanu wa ta’ala, mengucapkan kalimat tauhid, maka mereka akan melakukan hal yang sama.

Peran orang tua tidak hanya memberikan nasehat saja, namun juga memberikan contoh yang baik kepada anak. Sebuah penelitian menjelaskan bahwa manusia akan mudah meniru dan mempraktekkan suatu perintah jika yang memberi perintah melakukan hal yang sama.

Itulah bagaimana cara kita memberikan pendidikan yang benar terhadap anak kita, yang disampaikan  oleh Gus Baha. Bukan semata-mata anak dianggap sebagai penerus orang tuanya, melanjutkan bisnis dan sebagainya. Namun anak tersebut harus disiapkan dengan kalimat tauhid, anak mengamalkan dan mengajarkannya. Di akhir kajiannya, Gus Baha menyampaikan bahwa hal itulah yang dilakukan ayahnya kepada dirinya, dirinya dihormati dan dididik dalam agama. Demikian Cara Mendidik Anak Menurut Gus Baha.

Artikel berjudul “Inilah 3 Cara Mendidik Anak Menurut Gus Baha yang Humanis dan Islami” ini adalah kiriman dari Kurnia Hafizh Tanjung, Mahasiswa Prodi IAT UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.