Beranda Headline Inilah 7 Metode Pemahaman Hadis KH. Ali Mustafa Yaqub

Inilah 7 Metode Pemahaman Hadis KH. Ali Mustafa Yaqub

Harakah.id KH. Ali Mustafa Yaqub merupakan ulama yang konsen pada kajian hadis. Beliau memiliki sejumlah metode pemahaman hadis. Inilah 7 metode pemahaman hadis KH. Ali Mustafa Yaqub.

Ali Mustafa Yaqub, demikianlah namanya tersohor. Sosok ini dilahirkan di desa Kemiri, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Jawa Tengah pada 2 Maret 1952. Putra pasangan Kyai Yaqub dan Nyai Habibah ini memiliki tujuh saudara. Dari ketujuh saudaranya itu, saat ini hanya dua yang masih dipanjangkan umurnya.

Seusai menempuh pendidikan dasar dan menengah di desa kelahirannya, Kiai Ali muda sebenarnya ingin melanjutkan pendidikan ke sekolah umum. Tapi ia menuruti keinginan ayahnya untuk mondok di pesantren Seblak, Jombang, hingga tingkat Tsanawiyah dari tahun 1966 hingga 1969. Kemudian pada tahun 1969 hingga 1971, ia melanjutkan pendidikan pesantrennya di Pesantren Tebuireng Jombang, yang tidak jauh dari pondok Seblak.

Di Tebuireng, Kiai Ali muda belajar kepada para ulama, antara lain: KH. Idris Kamali, KH. Adlan Ali, KH. Shobari, dan KH. Syansuri Badawi. Selain itu, ia hapalkan pula beberapa kitab seperti Matan Jurumiyyah, al-Baiqûniyyah, Alfiyyah ibnu Malik, al-Waraqât, dan lain-lain.

Seusai pendidikan di Tebuireng, kiai yang menggemari wayang ini sempat berkuliah di Fakultas Syariah Institut Keislaman Hasyim Asy’ari (IKAHA, sekarang Universitas Hasyim Asy’ari) tahun 1972 sampai 1975.

Pada pertengahan tahun 1976, Kiai Ali mendapat kesempatan mendapatkan beasiswa penuh dari pemerintah Arab Saudi untuk studi di Fakultas Syari’ah Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa’ud, Riyadh, Saudi Arabia. Ia lulus, mendapatkan predikat License (Lc) pada tahun 1980. Segera setelah lulus S1 ia lanjutkan studi di Universitas King Saud Riyadh, Departemen Studi Islam spesialisasi Tafsir dan Hadis hingga mendapat predikat master di tahun 1985.

Seusai studi, ia kembali ke Indonesia. Saat masih belajar di Jombang, Kiai Ali pernah memiliki cita-cita ingin merantau ke Papua. Baginya, merantau di daerah yang masih belum banyak mengenal agama Islam seperti di Papua adalah tindakan yang akan menyiarkan pengaruh dan dakwah Islam di Indonesia.

“Asal kalian tahu, saya bercita-cita merantau ke Papua. Lalu di sana saya mempunyai gubuk, rumah dan jika bisa juga surau di pelosok Papua sana. Lalu sehari-hari saya membimbing masyarakat dan anak-anak untuk ngaji dan mengenal Islam di sana, juga bertani dan berkebun,” tuturnya, sekian kali kepada santri-santrinya, termasuk dalam forum pengajian pagi terakhir itu, Selasa 26 April 2016.

Lanjutnya, impian ini urung terlaksana setelah diminta oleh tiga gurunya agar tetap tinggal di Jakarta. Tiga sosok itu adalah KH. Ibrahim Hosen, rektor IIQ dan juga anggota MUI saat itu; KH. Syansuri Badawi, gurunya di Tebuireng; dan juga KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Salah satu alasannya, berdakwah tidak harus di tempat terpencil. Berdakwah di Jakarta, dengan segala permasalahannya, adalah lahan dakwah dan perjuangan yang juga amat berarti.

KH. Ali Mustafa Yaqub merupakan ulama yang konsen pada kajian hadis. Beliau memiliki sejumlah metode pemahaman hadis. Inilah 7 metode pemahaman hadis KH. Ali Mustafa Yaqub.

Majaz dalam Hadis

Sama seperti bahasa Indonesia terkadang bahasa Arab bermakna yang sebenarnya (haqiqi atau denotatif) dan terkadang bermakna kiasan konotatif (majazi atau konotatif). Karena teks hadis berbahasa Arab, maka maknannya pun terkadang donotatif dan terkadang konotatif. Jika yang dimaksud makna hadis adalah konotatif, maka tidak ragu lagi bahwa makna yang dimaksud dalam hadis tersebut bukan yang denotatif, sehingga tidak perlu diamalkan dengan makna itu, dan apabila mengamalkannya dengan makna denotatif, maka salah dalam memahaminya, meskipun tidak termasuk dalam kesesatan.

Hadis yang diambil Kyai Ali mustafa untuk memberikan contoh Majaz dalam Hadis ini adalah hadis Aroma mulut orang berpuasa. Al Khatabi menyatakan bahwa maksud dari aroma wangi parfum Kasturi adalah keridhaan dan pujian Allah kepadanya. Artinya, lebih suci di sisi Allah dan lebih dekat daripada keridhaan-Nya. Menurut Al Baghawi, maknannya Adalah pujian Allah kepada orang yang berpuasa dan ridha dengan perbuatannya.

Takwil dalam Hadis

Takwil Menurut Ulama Mutaakhirin Makna takwil yang populer di kalangan ulama mutaakhirin. Sebagaimana dikatakan oleh Syeikh allslam Ibn Taimiyah (w. 728 H) takwil menurut pengertian ulama mutaakhirin dari kalangan ahli Fikih, ahli Kalam, ahli Hadis, dan ahli Tasawuf serta ulama ulama yang sepakat dengan mereka, adalah mengalihkan suatu dari maknanya yang rajih (kuat kepada maknanya yang marjuh (lemah) karena ada indikasi yang menyertainya.

Illat dalam Hadis

Hadis nabi kadang berbentuk perintah, larangan, atau yang serupa lafal yang serupa dengan keduanya. Jika illatnya disebutkan di dalam hadis, maka illat tersebut manshuhah (eksplisit). Namun jika tidak disebutkan illatnya maka illat tersebut mustanbathah (implisit). Maksud illat disini bukan illat dalam ilmu hadis yang menjadi salah satu faktor penyebab kedhaifan hadis akan tetapi illat menurut ilmu Ushul Fiqh yang artinya sifat zhahir yang dapat dipedomani dan menjadi pendeteksi hukum, atau suatu sifat yang keberadaannya menyebabkan adanya hukum dan ketiadaanya menyebabkan tidak adanya hukum. Salah satu contoh illat adalah hadis tentang Memabukan dalam minuman.

Hadis tentang minuman yang memabukkan menyatakan secara eksplisit bahwa setiap yang memabukkan, cairan maupun benda padat, matang maupun dimasak, dari perasan anggur atau dari bahan lainnya, adalah haram. Illat keharaman benda tersebut adalah memabukkan. Dalam hal ini tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, sebab illat yang menyebabkan keharamannya tercantum di dalam teks dalil (manshushah). Para ulama juga memahami Hadis-hadis di atas bahwa setiap minuman yang tidak memabukkan adalah tidak haram, karena tidak ada illat memabukkan di dalamnya.

Geografi dalam Hadis

Geografi merupakan ilmu peta bumi yang dapat membantu seorang muslim dalam memahami hadis. Seorang muslim terkadang keliru dalam memamaknai hadis jika tidak mengetahui peta bumi.

Contoh pada hadis pengalihan hujan. Tidak diragukan bahwa orang yang tidak mengetahui letak geografis tempat di mana Rasulullah Saw menyampaikan Hadis ini terkadang keliru dalam memahami dan mengamalkan Hadis ini. Sebab, apabila Hadis ini diamalkan secara tekstual, di Jakarta misalnya, maka banjir bandang tentunya akan mengalir deras ke Kota Jakarta. Karena wilayah di sekitar Jakarta seperti Bogor dan daerah lainnya terletak di dataran tinggi. Apabila hujan turun di wilayah sekitar Jakarta, maka penduduk Jakarta terus terkena bahaya banjir.

Berbeda halnya dengan Kota Madinah ini, Munawwarah. Wilayah di sekitarnya adalah padang pasir. al Apabila hujan turun di wilayah sekitar Madinah, maka di mana penduduk Madinah akan aman. Sesuai riwayat Hadis i dapat diketahui bahwa letak geografis tempat Rasulullah Saw menyampaikan Hadis ini konteksnya adalah Madinah al-Munawwarah.

Berdasarkan hal ini, doa untuk mengalihkan hujan yang turun di Jakarta tidak dengan lafadz doa sebagaimana di atas. Namun harus berdasarkan makna atau konteksnya, bukan berdasarkan lafadznya. Misalnya, doa tersebut adalah: “Allahumma ‘ala albahr, la ‘alaina wa la hawalaina.” (Ya Allah, turunkan hujan di laut, jangan di wilayah kami, juga jangan di wilayah sekitar kami). Doa ini tidak bertentangan dengan teks Hadis. Sebab inti Hadis tersebut adalah menghindarkan bahaya turunnya hujan dari penduduk Madinah. Dan ini dapat dilakukan untuk penduduk Jakarta apabila kita berdoa dengan makna doa tadi. Wa Allah a’lam.

Budaya Arab dalam Hadis

Contoh hadis menabuh rebana saat pernikahan. Benar seperti yang dikatakan oleh Imam al Kahlani rahimahullah bahwa menabuh rebana bukan suatu kewajiban dan tidak ada seorang pun ulama yang berpendapat demikian. Hukumnya hanya sunah Sebab yang diperintahkan dalam Hadis adalah mengumumkan nikah. Sehingga andai kita mengatakan bahwa menabuh rebana adalah sunah, apakah dalam mengumumkan pernikahan wajib dengan menabuh rebana atau boleh dengan cara yang lain?

Dalam mengumumkan pernikahan, tampaknya kita boleh saja dengan cara yang lain selain menabuh rebana. Karena rebana merupakan alat musik bagi bangsa Arab pada masa Nabi. Hal ini bukan bagian dari agama, hanya merupakan salah satu budaya Arab saat itu. Oleh karena itu, dalam mengumumkan pernikahan, boleh saja dengan cara yang lain menurut adat setempat, dengan syarat tidak bercampur dengan hal-hal yang diharamkan.

Kondisi Sosial dalam Hadis

Di antara hal yang dapat membantu kita dalam memahami Hadis Nabi adalah mengetahui kondisi sosial yang terjadi saat Rasulullah menyampaikan sabdanya. Kondisi sosial pada zaman Nabi terkadang berbeda dengan kondisi sosial sekarang ini. Salah satu contohnya yaitu hadis tentang meludah dalam masjid. hadis yang berkaitan dengan kondisi saat itu tidak boleh dipraktikkan dan diamalkan secara harfiah (tekstual) pada kondisi saat ini karena kondisi sosialnya berbeda. Jika tetap dipraktikkan, maka kesimpulan hukumnya tidak tepat, bahkan dapat menyalahi Sunnah Nabi.

Tidak diragukan bahwa lantai masjid pada masa Nabi berbeda dari lantai masjid pada masa sekarang. Sebagaimana boleh memakai sandal di masjid ketika shalat, boleh juga meludah di dalam masjid. Hanya meludah disini termasuk dosa, dan penebusnya adalah dengan mengurugnya.

Hadis-hadis tersebut tidak boleh diamalkan secara tekstual di masjid saat ini. Karena lantai masjid sekarang terdiri dari keramik dan marmer serta beralaskan karpet yang indah. Apabila sekarang setiap orang diperbolehkan meludah di lantai masjid, terjadi banjir ludah Dan ini menyalahi Sunnah yang memerintahkan untuk menjaga kebersihan.

Sababul wurud dalam hadis

Di antara cara yang dapat membantu kita dalam memahami hadis adalah sabab wurud al-hadis. Jika dalam ayat al-Qur’an terdapat sabab al-nuzul (latar belakang turunnya ayat), maka dalam hadis terdapat sabab wurud. Mengetahui latar belakang suatu hadis dapat membantu untuk mengetahui maksud hadis tersebut.

Contoh hadis tentang hijrah dan perempuan. Tidak diragukan bahwa orang yang belum mengetahui sebab yang melatarbelakangi hadis akan sulit untuk mengetahui maksudnya. Karena ia akan bingung untuk menghubungkan antara hijrah dan menikahi wanita. Kesulitan ini akan hilang mengetahui sebab yang melatarbelakangi terjadinya hadis ini. Sabab wurud hadis ini adalah, sesungguhnya seorang laki-laki berhijrah dari Makkah ke Madinah bukan mengharap keutaman hijrah, melainkan bertujuan untuk menikahi seorang perempuan bernama Ummu Qais.

Demikian 7 metode pemahaman hadis KH. Ali Mustafa Yaqub yang terangkum dalam buku beliau At-Thuruq as-Shahihah fi Fahm as-Sunnah al-Nabawiyyah.

Artikel kiriman Wildatul Muyassaroh, Mahasantri Putri International Insitute for Hadith Sciences Darus Sunnah Jakarta.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...