Beranda Keislaman Muamalah Inilah Alasan Kenapa Toleransi Lebih Baik daripada Intoleransi

Inilah Alasan Kenapa Toleransi Lebih Baik daripada Intoleransi

Harakah.idQong Qiu berpesan bahwa janganlah melakukan sesuatu pada orang lain yang kamu sendiri tak ingin diperlakukan demikian. Pesan yang sangat bagus sebagai bahan renungan bersama. Sehingga sakit yang dirasakan sebab sikap intoleran, bisa membawa pada sikap baik antar sesama saudara sebangsa walau beda agama. Karena ternyata intoleran itu hanya menimbulkan sakit, maka lebih baik adalah toleran.

Di awal tahun 2020, di bulan Januari, umat muslim (bahkan umat agama lain) sempat dihebohkan dengan video singkat perusakan Masjid Al-Hidayah di Perum Agape, Desa Tumaluntung, Minahasa Utara.

Dari beberapa postingan status di Facebook, sepertinya masalah ini sudah bisa ditangani oleh pemerintah setempat. Dan syukurlah, tak menimbulkan konflik antar umat beragama yang berkepanjangan. Syukurlah.

Berbagai macam respon umat muslim muncul, waktu itu. Ada yang marah, namun tetap bijak. Ada yang marah, dan kehilangan sikap bijaknya. Ada juga yang apatis saja, tak peduli sama sekali.

Ada yang marah, namun masih tetap bijak dalam menanggapinya. Sehingga, alhamdulillah, tetap mengajak agar umat muslim harus bijak, tetap menjaga kerukunan antar umat beragama, jangan sampai terprovokasi dengan oknum-oknum yang ingin memanfaatkan keadaan untuk memecah belah kerukunan antar umat beragama di Sulawesi Utara, bahkan di Indonesia.

Persitiwa semacam itu memang harus diperhatikan dengan sebaik mungkin, dengan sehati-hati mungkin. Jangan sampai memicu perpecahan antar umat beragama. Apalagi peristiwa semacam itu sangat seksi untuk memanas-manasi masyarakat agar tercipta konflik antar agama. Jadi, harus hati-hati dalam menyikapinya.

Sebenarnya, peristiwa semacam itu bukan pertama kali di Indonesia. Banyak peristiwa sejenis yang merupakan penggambaran dari sikap intoleransi. Bahkan, di tengah pandemi Corona pun tercatat ada beberapa kasus intoleransi yang terjadi. Misalnya, kasus pembubaran ibadah pada rumah salah satu umat kristiani di Cikarang, Jawa Barat. Alhamdulillah, masalah ini sudah bisa di atas dan sudah berhasil didamaikan tanpa terjadi konflik yang berkepanjangan.

Entah umat agama apa yang diserang (selagi agama yang diakui di Indonesia), maka itu termasuk hal yang kurang baik secara agama maupun negara. Sebab agama mengajak pemeluknya pada cerminan nilai-nilai welas asih, sementara sikap intoleransi jelas bertentangan dengan nilai-nilai welas asih. Dan negara, jelas menjamin setiap warga negara untuk beribadah sesuai agama yang dianutnya, sebagaimana amanat UUD 1945, Pasal 29, Ayat 2.

Sikap yang mengarah pada intoleransi, menurut Fathorrahman Ghufron dalam bukunya “Ekspresi Keberagamaan di Era Milenium”, merupakan cerminan dari sikap “tirani mayoritanisme” berjubah agama. Di mana suatu kelompok meniranisasi diri sebagai pihak yang paling kuasa. Sehingga pihak minoritas tak boleh mengekspresikan laku beragama yang lebih, apalagi ingin menyerupai laku beragama kelompok yang dominan.

Sikap demikian, kemudian menjadi laku intoleran, semisal pelarangan pendirian rumah ibadah, perusakan rumah ibadah, pelarangan penggunaan simbol agama tertentu, pelarangan berhijab bagi muslimah, pelarangan melaksanakan ibadah bagi minoritas, pelarangan merayakan hari besar agama bagi minoritas, dan laku intoleran lainnya. Sikap yang amat disayangkan bila terjadi di Indonesia yang punya semboyan “Bhineka Tunggal Ika (Berbeda-beda Tetapi Tetap Satu)”, lebih-lebih bila terjadi di daerah seperti Sulawesi Utara yang punya prinsip hidup “Torang Samua Basudara (Kita semua, meski beda agama, adalah saudara)”.

Salah satu cara untuk mereduksi sikap tirani mayoritanisme adalah dengan menanamkan kembali nilai-nilai ke-Bhineka-an (Keragaman), dan prinsip persatuan di masing-masing daerah, misalnya di Sulawesi Utara adalah prinsip “Torang Samua Basudara”.

Lebih Baik Toleransi

Sebagai muslim, saat melihat video perusakan masjid, jujur saja saya sakit hati dan ingin marah. Rasanya ingin teriak, “Balasss!!!” Rasanya ingin mengeluarkan berbagai ungkapan sakit hati lainnya. Maklum saja, namanya orang emosi, kan? Namun, keinginan seperti itu kurang bijak dan harus diralat. Sebab keinginan itu hanya dilandasi emosi membara, bukan dilandasi sikap bijak sebagai muslim.

Saya pun sedikit merenung. Mungkin, seperti ini yang dirasakan saudara sebangsa umat kristiani, saat tahu ada gereja yang dirusak atau dibom oleh oknum-oknum yang mengatasnamakan agama tertentu.

Mungkin, sesakit ini juga yang umat kristiani rasakan, saat tahu ada daerah yang melarang perayaan ibadah natal. Ya…, mungkin saja. Saya hanya bisa meraba-raba rasa, dan tak bisa sepenuhnya merasa, sebab hati mereka bukan hati saya. Intinya kita sama-sama merasakan bagaimana sakitnya disakiti. Dan karena ternyata rasanya sakit, maka mari saling menjaga kerukunan antar umat beragama agar tak ada lagi yang tersakiti.

Qong Qiu berpesan bahwa janganlah melakukan sesuatu pada orang lain yang kamu sendiri tak ingin diperlakukan demikian. Pesan yang sangat bagus sebagai bahan renungan bersama. Sehingga sakit yang dirasakan sebab sikap intoleran, bisa membawa pada sikap baik antar sesama saudara sebangsa walau beda agama. Karena ternyata intoleran itu hanya menimbulkan sakit, maka lebih baik adalah toleran. Diganggu itu tak enak, maka jangan menganggu.

Peristiwa yang menunjukkan laku intoleransi, bukan alasan untuk memushi umat agama tertentu. Sebab, misalnya, dalam Islam ada oknum-oknum intoleran yang sampai membom rumah ibadah umat lain. Dalam agama lain juga demikian, ada oknum-oknum intoleran yang sampai mau merusak masjid. Namun, itu hanya sebagian oknum saja, tak semua pemeluk agama memiliki sikap intoleran. 

Saya percaya, ada sangat banyak nonmuslim yang baik pada umat muslim. Banyak nonmuslim yang ingin hidup rukun bersama umat muslim. Nonmuslim yang menjunjung nilai-nilai toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. Kepercayaan itu dilandasi dari pengalaman hidup pribadi. Di kampung saya, antara muslim dan nonmuslim hidup rukun dan saling membantu dalam keseharian. 

Percayalah, damai lebih indah daripada tak damai. Untuk apa konflik, kalau hanya menimbulkan sakit antar umat beragama dan tak menyelesaikan masalah sedikit pun.

Kita harus sadar, kalau Indonesia merupakan negara dengan pola beragama yang amat heterogen, terdapat umat yang berbeda agama dalam masyarakat. Sehingga prinsip hidup seperti “Torang Samua Basudara” harus terus dijaga oleh masyarakat Sulawesi Utara, dan juga oleh seluruh masyarakat Indonesia. 

Nilai-nilai ke-Bhineka-an harus terus dijaga, agar kerukunan antar umat beragama selalu terjaga. Hidup rukun dalam laku toleransi lebih baik daripada hidup tak rukun dalam laku intoleransi. Salam toleransi.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...