fbpx
Beranda Keislaman Tafsir Inilah Ancaman Al-Quran Bagi Orang Yang Hobi Belanja Online

Inilah Ancaman Al-Quran Bagi Orang Yang Hobi Belanja Online

Harakah.idTren belanja online juga berpotensi menimbulkan perilaku hidup konsumtif dan mubazir. Hal ini salah satunya telah diwanti-wanti oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).

Pertumbuhan jual beli online terus melesat hebat. Sepanjang tahun 2019 lalu, Bank Indonesia  (BI) mengestimasi jumlah nilai transaksi di 14 e-commerce terbesar Indonesia mencapai Rp 265,07 triliun.

Jumlah nilai transaksi ini meningkat pesat dari nilai transaksi di keseluruhan tahun 2017 yang sebesar Rp 80,82 triliun dan keseluruhan nilai transaksi di sepanjang tahun 2018 yang mencapai Rp 145,95 triliun.

Indonesia sendiri termasuk sebagai negara dengan pertumbuhan pasar e-commerce paling tinggi di dunia. Dengan demikian, geliat masyarakat Indonesia dalam berbelanja secara online termasuk yang paling tinggi dan terus bertumbuh.

Di samping berbagai efek terhadap pertumbuhan ekonomi dan pergeseran tren belanja masyarakat, tren belanja online juga berpotensi menimbulkan perilaku hidup konsumtif dan mubazir. Hal ini salah satunya telah diwanti-wanti oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).

nucare-qurban

Harga yang efisien menjadi pertimbangan utama, ditambah dengan diimingi diskon, cashback serta pay later. Terlebih lagi adanya strategi marketing Harbolnas membuat akan membuat masyarakat semakin konsumtif dalam berbelanja.

Perilaku hidup konsumtif dan mubazir adalah sesuatu yang dikecam keras dalam agama. Al-Quran melalui surat Al-Isra’ ayat 27 mengajarkan:

اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِ ۗوَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا

Artinya:  Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.

Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir (8/67), menerangkan bahwa ayat ini merupakan pelajaran hidup dan kaidah sosial masyarakat Islam yang sangat penting di masa sekarang.

Perilaku Tabdzir sendiri telah menjadi bahasan para ulama sejak dulu.  

Imam Syafi’i mengartikan Tabdzir sebagai penggunaan harta pada yang tidak semestinya, bahkan, dalam perkara yang sebenarnya baik, perilaku Tabdzir tetap dilarang.

Baca juga : Hukum Jual Beli Online Boleh Kalau Memenuhi Syarat ini

Imam Malik mengartikan perilaku Tabdzir  sebagai: penggunaan harta oleh orang yang berhak tetapi digunakan tidak pada yang seperlunya.

Menurut Wahbah Zuhaili, orang-orang dengan gaya hidup mubazir diserupakan dengan syaitan karena keduanya adalah sesuatu yang menimbulkan mafsadat dan kerusakan yang besar bagi kehidupan.

Syaikh Thahir Ibn ‘Asyur, salah seorang mufassir besar asal Tunisia dalam tafsir beliau (15/79) memberikan pemaknaan yang lebih rinci untuk perilaku Tabdzir, yaitu:

Tabdzir adalah penggunaan harta bukan pada yang seharusnya, selain itu penggunaan harta pada hal-hal yang merusak meskipun hanya sedikit, itu juga termasuk Tabdzir. Sedangkan penggunaan harta pada hal-hal yang mubah, jika sudah sampai batas berlebih-lebihan juga termasuk Tabdzir.”

Lebih lanjut, Ibn ‘Asyur menyebut perilaku mubazir tak ubahnya seperti jeratan, ketika seseorang mulai terbiasa menghabiskan hartanya untuk berbelanja hal-hal yang tidak perlu, maka perilaku tersebut akan jadi karakter yang melekat erat, sulit untuk diubah.

Syaikh Muhammad Abu Zahrah dalam tafsir beliau (4367) memperjelas bahwa sejak lama, motif perilaku hidup mubazir adalah keinginan untuk pamer dan bermewah-mewahan.

Nominal harta yang dikeluarkan untuk kebutuhan bisa naik berlipat-lipat jika orientasinya sudah bergeser menjadi ajang pamer dan bermewah-mewahan.

Oleh sebab itu, Al-Quran mempersamakan mereka yang terbiasa hidup mubazir seperti syaitan, karena sama-sama hidup di atas kesombongan dan kebanggaan diri.

Dalam dunia pertumbuhan e-commerce hingga olshop-olshop rumahan seperti sekarang, setiap muslim perlu membatasi gairah berbelanjanya agar tidak jatuh dalam jerat perilaku hidup konsumtif dan gaya hidup mubazir.

Sesuatu yang telah dikecam belasan abad yang lalu oleh Al-Quran, namun relevansi kecaman ini justru semakin meningkat di era sekarang.

- Advertisment -

REKOMENDASI

Berpotensi Besar Melahirkan Kecongkakan Sosial, Para Sufi Kritik Ritual Ibadah Haji

Harakah.id - Ketika berhaji diniatkan hanya untuk mendapatkan status sosial, maka sejatinya ia telah hilang dari visi awal ibadah haji itu...

Meskipun Kontroversial, Soal Etika Beragama, Kita Harus Belajar Kepada Vicky Prasetyo

Harakah.id - Sedang marak berita penahanan Vicky Prasetyo. Meski kontroversial, Vicky tetap bisa kita jadikan acuan soal etika beragama. Dalam sebuah...

Ada Pahala Besar di Balik Anjuran Berpuasa di 10 Hari Pertama Bulan Dzul Hijjah

Harakah.id - Ada amalan lain yang disunnahkan bagi umat Islam pada bulan Dzul Hijjah, yaitu berpuasa. Di Bulan ini, kita sangat...

Lima Nilai Keutamaan Bulan Dzul Hijjah yang Harus Kamu Ketahui!

Harakah.id - Pada dasarnya, semua hari maupun bulan itu sama. Hanya kualitas perbuatan pribadi masing-masing saja yang membedakannya. Akan tetapi, Islam...

TERPOPULER

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...

Jarang Disampaikan, Ternyata Inilah Keutamaan Beristri Satu dalam Islam

Harakah.id - Sunnah hukumnya bagi laki-laki untuk mencukupkan satu istri saja, sekalipun pada dasarnya ia diperbolehkan untuk menambahnya lagi.

Satu Kata dalam Al-Quran Yang Cara Bacanya Aneh

Harakah.id - Di antara kata Alquran terdapat kata yang cara bacanya tidak lazim. Berikut adalah contohnya. Membaca Alquran harus...

Jangan Tertipu, Ini 10 Ciri-Ciri Al-Mahdi yang Datang di Akhir Zaman

Harakah.id ­- Keterangan datangnya dan ciri-ciri Al-Mahdi bersumber dari hadis-hadis Nabi Saw. Di antara tanda-tanda akhir zaman adalah...