Beranda Headline Inilah Asal-Usul Gerakan Islam Nusantara dalam Perspektif Sosiologis

Inilah Asal-Usul Gerakan Islam Nusantara dalam Perspektif Sosiologis

Harakah.idIslam Nusantara tidak muncul dalam ruang hampa. Meskipun pertimbangan keagamaan tetap menempati peran utama, tidak boleh dilewatkan juga realitas dan perkembangan yang ada di luar agama.

Agama, seperti yang dikemukakan AS Hikam, memiliki kemampuan mengkonstruksi sosial, kontra diskursus atau kontra hegemoni terhadap ideologi dan tindakan-tindakan dominan yang ada.

Sebagai suatu gerakan keagamaan yang muncul dalam suatu konjungtur sosial dan historis tertentu, gerakan keagamaan sebenarnya bisa dipahami dalam kerangka kontra diskursus dan hegemoni, misalnya terhadap modernisme, kapitalisme, sekularisme, dan isme-isme lainnya. Di sini agama menjadi instrumen konstruk sosial dan kekuatan perubahan sekaligus.

Islam Nusantara tidak muncul dalam ruang hampa. Meskipun pertimbangan keagamaan tetap menempati peran utama, tidak boleh dilewatkan juga realitas dan perkembangan yang ada di luar agama. Oleh karena itu, perlu memahami faktor faktor sosiologis munculnya praktik-praktik keagamaan.

Hal ini dianggap perlu mengingat dinamika Islam Nusantara tidak saja disebabkan oleh dorongan yang terdapat dalam ajaran agama itu sendiri, melainkan juga berkelindan dengan berbagai faktor sosiologis baik yang bersifat makro maupun mikro.

Dengan penjelasan sosiologis, juga diharapkan bisa memahami adanya hubungan yang dialektis antara agama dan realitas sosial yang dapat membentuk dan memicu munculnya Islam Nusantara sebagai gerakan sosial (social movement).

Misalnya, ketika adanya wacana FDS (full day school) yang dulu sempat dilontarkan Mendikbud memicu munculnya gerakan penolakan dari berbagai pihak khususnya kelompok yang berada dalam lingkar sekolah berbasis agama atau madrasah. Gerakan penolakan tersebut mendorong lahirnya gerakan sosial melalui beragam ekspresi agar kebijakan FDS (full day school) dibatalkan karena tidak sesuai dengan kultur pendidikan Islam di Indonesia. Dalam perspektif sosiologi, munculnya Islam Nusantara sebagai spirit gerakan sosial selaras dengan teorinya Neil J.

Smelser sebagaimana dikutip oleh Arifin, yang berhasil menemukan beberapa faktor determinan penyebab munculnya gerakan sosial. Dalam pandangan Smelser, faktor-faktor tersebut saling berkelindan dalam memicu terjadinya gerakan sosial. Di antara faktor yang dimaksud adalah:

Pertama, structural condusivennes. Menurut teori ini, gerakan sosial bermula dari adanya struktur yang mendukung. Krisis multi dimensi yang dihadapi masyarakat menjadi struktur kondusif bagi munculnya gerakan sosial, termasuk gerakan sosio-religi.

Kedua, structural strain. Teori ini menjelaskan bahwa gerakan sosial semakin tidak terbendung apabila struktur kondusif menimbulkan ketegangan struktural.

Keterbelakangan yang dialami umat Islam yang semula karena faktor inkonsistensi dengan ajaran Islam semakin parah dengan penetrasi Barat ke dalam dunia Islam untuk menjajah. Dampak kolonialisasi tidak saja membuat umat Islam menderita karena kemiskinan, tapi juga kehilangan identitas mereka karena dominasi Barat tidak hanya dalam bidang ekonomi tapi juga budaya dan ideologi.

Dominasi Barat dan dampaknya bagi dunia Muslim tersebut berikutnya menimbulkan ketegangan serius yang mengejawantah dalam berbagai gerakan sosial bahkan gerakan kebangkitan agama. Ketiga, the growth of a generalized belief. Ketegangan struktural menurut Smelser belum begitu mencukupi dalam menghasilkan tindakan kolektif. Agar gerakan sosial bisa diwujudkan diperlukan penjelasan mengenai permasalahan dan solusinya.

Dalam konteks ini, interaksi sosial sangat diperlukan untuk saling bertukar pikiran dalam merespon persoalan yang dihadapi bersama. Keempat, participating factors. Dari segi waktu, gerakan sosial seringkali membutuhkan waktu yang lama. Tetapi gerakan sosial bisa dipercepat jika ada faktor yang mendukungnya. Faktor-faktor itu bisa berupa peristiwa, bisa juga dalam bentuk kehadiran tokoh kharismatik. Kelima, the mobilization of participant for action.

Terjadinya gerakan sosial sangat tergantung juga pada tersediana kelompok yang bisa diorganisasi dan dimobilisasi untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu. Pada tahapan ini, pemimpin, komunikasi, dan suplai dana sangat dibutuhkan bagi eksistensi gerakan sosial. Keenam, operation of social control.

Tidak seperti faktor determinan lainnya, Kontrol sosial justru mencegah, menyela, dan menghalangi gerakan sosial. Kontrol ini biasanya dilakukan oleh negara. Ada dua bentuk kontrol terhadap gerakan sosial dan pemerintah. Kontrol pertama berbentuk upaya pencegahan terhadap munculnya tindakan kolektif dengan cara mengurangi faktor pendukung dan ketegangan struktural, seperti melalui peningkatan kesejahteraan.

Kontrol kedua dengan cara menekan perilaku kolektif setelah gerakan dimulai seperti mengerahkan petugas keamanan dan menerapkan jam malam. Tetapi tekanan ini tidak selamanya efektif, bahkan banyak kasus menunjukkan, semakin mendapatkan tekanan, semakin mempercepat terjadinya gerakan sosial.

Artikel kiriman dari Sarah Fadila Putri, Mahasantri Putri International Institute for Hadith Sciences Darus Sunnah Jakarta

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...