Beranda Keislaman Akhlak Inilah Bahaya Mencela Sahabat Nabi Muhammad SAW

Inilah Bahaya Mencela Sahabat Nabi Muhammad SAW

Harakah.idDalam sejarah Islam, muncul kelompok yang mengembangkan sikap kebencian terhadap sahabat Nabi. Tidak berhenti di situ, mereka mengembangkan kebiasaan mencela sahabat Nabi. Padahal, sikap ini tidak bijak. Inilah bahaya mencela sahabat Nabi Muhammmad SAW.

Siasat pertama yang dilakukan musuh-musuh Islam untuk memecah belah umat yakni menyebarkan paham bahwa sahabat nabi hanyalah manusia biasa yang bisa benar atau salah. Kemudian dari pemahaman itu lahir sikap menghakimi sahabat nabi. Sahabat yang dinilainya benar, maka akan diunggulkan dan dibela, sedangkan sebaliknya sahabat yang dinilai salah, maka akan dimusuhi bahkan diperangi.

Sifat ma’shum (terbebas dari kesalahan dan dosa) memang hanya dimiliki oleh nabi dan rasul Allah, akan tetapi Allah Ta’ala juga menganugerahkan kepada para kekasihnya sifat mahfud yakni penjaga dari maksiat dan dosa besar. Walaupun para kekasihnya tak luput dari kesalahan dan dosa, akan tetapi kesalahan dan dosa yang mereka lakukan justru menambah semangat beramal salehnya. Sehingga tidak selayaknya umat Islam mengungkit-ungkit kesalahan dan mencari-cari dosa para sahabat nabi, sebab mereka adalah sebaik-baik manusia setelah para nabi dan rasul Allah.

Selepas meninggalnya seluruh sahabat nabi, maka tradisi yang tersisa dari kelompok ini adalah mencela atau mencaci maki sahabat nabi yang dulunya dinilai salah. Pada nyatanya mencela sahabat Nabi Saw. merupakan jurang fitnah yang dibuat oleh musuh-musuh Islam untuk menjatuhkan umat kepada kesesatan. Karena ketika umat berpaling dari sahabat dalam memahami Al-Qur’an dan as-sunnah, maka pemahaman yang lahir dari pikiran mereka jauh dari apa yang diharapkan oleh syariat.

Ulama yang berdiri tegak di atas as-sunnah kemudian melawan kelompok ini dengan berbagai karya tulis dan ceramah agama. Jumhur Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah bersepakat bahwa perbuatan mencela atau mencaci maki sahabat nabi merupakan dosa besar. Bahkan memandang rendah salah seorang sahabat nabi dikategorikan sebagai maksiat yang balasannya adalah su’ul khatimah.

Imam Adz-Dzahabi mengutip hadits dari Abi Hurairah (w. 58 H) Nabi Muhammad Saw bersabda 

إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

Artinya : Sesungguhnya Allah berfirman “Siapa pun memusuhi wali-Ku (kekasih Allah), maka sungguh Aku (Allah Azza wa jalla) mengumumkan perang dengannya.” (Riwayat Imam Bukhari no. 6137)

Hadits tersebut diletakkan pada awal bab dosa besar ke tujuh puluh yakni sabba ahadun min ash-shohabati ridhwanullah ‘alaihim (mencela salah satu sahabat nabi yang telah diridai Allah).

Ibnu Hajar Al-Asqalani yang mensyarahkan hadits ini berkata, bahwa waliyullah (kekasih Allah) ialah orang yang telah mengenal Allah dan taat kepada-Nya serta ikhlas dalam beribadah kepada-Nya. Sifat yang telah disebutkan Ibnu Hajar tergambarkan dalam setiap pribadi sahabat Nabi Muhammad Saw. Maka, tidak salah jika dikatakan bahwa seluruh sahabat nabi merupakan para kekasih Allah.

Adz Dzahabi mengisyaratkan bahwa siapa pun yang memusuhi sahabat Nabi Muhammad Saw. maka sesungguhnya Allah azza wa jalla telah mengumumkan perang kepadanya. Maka pertanyaannya adalah siapa yang dapat menang dari perang melawan Allah Swt. ? Hanya kesengsaran dan kehancuran yang akan ia peroleh sebab perbuatan mencela atau memusuhi para sahabat nabi. Siapa saja yang mencela atau memusuhi mereka, maka Allah Swt. akan murka kepadanya. 

Hadits dari Ibnu Abbas Ra. juga dapat dijadikan renungan yakni ketika Nabi Muhammad Saw. bersabda

مَنْ سَبَّ أَصْحَابِي فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ ، وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Artinya : Siapa pun mencela sahabat ku, maka baginya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia. (Riwayat Imam Thabrani) 

Mencela sahabat nabi merupakan perilaku tercela yang tergolong dosa besar, bahkan sebagian Ulama beranggapan bahwa hal itu dapat mengakibatkan rusaknya keimanan dan pondasi agamanya. Sikap yang lebih selamat ialah memuliakan dan mencintai seluruh sahabat nabi serta menyakini bahwa setiap perbedaan yang terjadi di antara sahabat ialah rahmat bagi umat.

Pemahaman bahwa sahabat nabi adalah sebaik-baik manusia setelah nabi dan rasul Allah selayaknya ditanamkan di benak setiap muslim, terlebih bagi mereka yang mengaku mencintai Nabi Muhammad Saw. Sebab, sahabat nabi adalah orang-orang yang setia berjuang dan membela nabi dengan segenap jiwa raganya. Demikian penjelasan singkat tentang bahaya mencela sahabat Nabi SAW. Semoga bermanfaat.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...