Inilah Cara Mendidik Anak Ala Gus Baha, Biar Anak Tak Menjauhi Kita

0
4537

Harakah.id Setiap orang tua memiliki cara sendiri dalam mendidik anak-anak mereka. Cara mendidik anak ala Gus Baha ini sedikit berbeda. Orientasinya adalah agar anak tetap dekat dengan orang tua. Dengan begitu anak lebih mudah diarahakan. Karena itu membangun hubungan yang hangat menjadi kunci dalam cara mendidik anak ala Gus Baha.

Setiap  orang tua memiliki cara yang berbeda dalam mendidik anaknya. Supaya tumbuh menjadi pribadi yang baik sebagaimana yang diharapkan, ada orang tua yang cenderung ketat, ada juga yang cenderung longgar kepada anak.

Pola asuh dengan memberikan kelonggaran kepada anak adalah cara yang dipilih oleh Gus Baha dalam mengasuh anak-anak beliau. Karena menurut beliau, memberikan kasih sayang dan perhatian kepada anak itu tidak sama dengan mengekangnya.

Ketika membahas tentang pentingnya bersikap longgar kepada anak, berkali-kali Gus Baha mengutip pernyataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib;

الإِنْسَانُ عَبْدُ الإِحْسَانِ

“Manusia adalah hamba kebaikan”

Dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, Imam Al-Ghazali memberikan penjelasan tentang pernyataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib tersebut, tepatnya dalam pembahasan al-mahabbah wa asy-syauq wa al-uns wa ar-ridha. Al-Ghazali menguraikan bahwa, dengan adanya kebaikan yang didapatkan, seseorang akan cenderung mencintai orang yang dianggap berbuat baik kepadanya dan membenci orang yang ia anggap berbuat buruk.

Ketika menjelaskan pernyataan Ali bin Abi Thalib di atas, Gus Baha juga memberikan sebuah ilustrasi yang berdasar dari sebuah kejadian yang beliau jumpai sendiri. Yaitu tentang prinsip seorang Kiai Kampung yang ketat terhadap anaknya, bahkan tak cocok dengan pola asuh K.H. Nursalim (ayah Gus Baha) yang terkenal banyak memberikan kelonggaran kepada seorang anak.

Pernah ada seorang Kiai Kampung yang begitu ketat dalam mendidik anaknya. Ia tak mengizinkan anaknya untuk naik motor dan menonton hiburan di televisi. Karena menurut pandangannya, memaksa anak untuk mengikuti arahannya supaya “hanya” mengaji saja ialah keputusan yang paling tepat.

Singkat cerita, anak yang selalu ia paksa itu memiliki teman dekat yang mengajarinya berkendara sepeda motor dan menemaninya menonton televisi. Ia beranggapan bahwa temannya telah memberikan kebaikan, sedangkan ayahnya tidak demikian. Sehingga anak tadi memutuskan untuk lebih mengikuti temannya ketimbang orang tuanya. Sayangnya, teman yang dekat dengannya adalah bagian dari orang yang la yushalli wa la yashum (bukan ahli shalat dan bukan ahli puasa).

Kiai Kampung pun menyesali apa yang telah dilakukan terhadap anaknya, yang berakibat anaknya jauh dari dekapanya, serta jauh dari pribadi yang ia harapkan. Karena Kiai Nursalim telah tiada, ia kemudian menghadap kepada Gus Baha untuk menceritakan apa yang dialaminya, juga mengakui bahwa pola asuh ayah Gus Baha ternyata lebih tepat.

Setelah kejadian itu, kiai kampung tadi membujuk anaknya untuk kembali. Ia tak lagi memaksa anaknya untuk mengikuti segala yang diinginkan orang tuanya. Akhirnya, sang anak pun kembali dekat dengan orang tuanya, bahkan berangsur-angsur menjadi pribadi yang diharapkan orang tuanya dengan kesadaran dari dirinya sendiri.

Dari cerita tersebut terdapat pelajaran penting, bahwa yang dianggap baik oleh orang tua, belum tentu dianggap baik juga oleh sang anak. Begitu pula sebaliknya. Sehingga sangat penting bagi orang tua untuk dapat mengkompromikan kebaikan itu bersama anak, dengan harapan supaya anak dapat meyakini bahwa orang tuanya adalah orang yang memberikan kebaikan kepadanya.

Menyangkut hal-hal hiburan bagi anak, sudah sepatasnya apabila orang tua memberikan kelonggaran bagi anaknya supaya memperoleh kebahagiaan yang layak untuk ia peroleh. Dengan catatan, yang dilegalkan bukanlah hal yang melanggar garis syariat Islam.

Tentang menonton televisi saja, menurut Gus Baha, terdapat setidaknya dua kemudharatan yang perlu dipertimbangkan apabila seorang anak dikekang, yang pada akhirnya ia akan menonton televisi di tempat orang lain. Pertama, sangat dimungkinkan kebiasaannya itu dapat mengganggu orang lain yang ditumpanginya. Kedua, ia akan cenderung menganggap bahwa orang lain yang ditumpanginya lebih baik ketimbang orang tuanya.

Sehingga ia akan lebih simpati kepada orang lain, ketimbang kepada orang yang mengasuhnya dan yang selalu mengharap dirinya menjadi baik. Masih beruntung apabila yang ia gandrungi adalah orang yang baik dalam urusan agama, apabila tidak, tentu akan menjadi permasalahan yang terus berkelanjutan. Celakanya, apabila anak tadi mempunyai anggapan bahwa orang yang bisa mengaji tidak lebih baik baginya, ketimbang orang yang tidak begitu getol dalam mengaji.

Oleh karenanya, penting bagi orang tua untuk memberikan akses kebahagiaan yang patut didapatkan anak, selama kebahagiaan itu tidak menyalahi aturan Islam. Apabila ditinjau kembali, sejatinya tidak orang yang lebih pantas untuk direpotkan oleh anak, daripada orang tuanya sendiri.