Inilah Cara Menyikapi Perbedaan Pendapat Terkait Maulid Nabi

0
681

Harakah.id Cara menyikapi perbedaan pendapat terkait maulid Nabi, Kita tidak perlu memaksa mereka yang menentang itu untuk ikut merayakan maulid, sebagaimana mereka pun tidak berhak memaksa kita untuk tidak merayakan maulid.

Sejatinya, seluruh kalam Allah SWT dalam Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW dicerna oleh manusia melalui akalnya. Imam Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumuddin juga menerangkan bagaimana pentingnya akal dalam membedakan mana yang benar dan salah.

Itu mungkin salah satu tafsir mengapa ayat pertama yang diturunkan adalah ”Iqra’ bismirrabik…” dimana dapat diartikan sebagai: “berpikirlah” atau “bacalah (dengan menggunakan akalmu) dengan menyebut nama Tuhanmu”. Perbedaan interpretasi dari proses berpikir inilah yang mengakibatkan perbedaan interpretasi Al-Qur’an dan Hadits.

Oleh karena itu, perbedaan pendapat atau tafsir dalam Al Qur’an dan Hadits ini adalah suatu keniscayaan dan tidak perlu dijadikan sebagai alasan untuk saling merendahkan kelompok lain. Melainkan sebagai pengingat ketidakmampuan manusia untuk menterjemahkan siapa itu Allah SWT secara utuh dan bagaimana seluruh proses penghambaan manusia terhadap-Nya

Terkait dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, mengingat bahwa inti dari pelaksanaan peringatan Maulid tersebut adalah untuk meneladani kembali keagungan, kemuliaan, dan kejernihan hati Nabi Muhammad SAW pada saat beliau hidup di muka bumi, maka patutlah pula kiranya kita mencontoh sifat-sifat mulia beliau tersebut dengan cara menghargai perbedaan pendapat termasuk terhadap kelompok yang menentang pelaksaan maulid.

Dengan demikian, kita tidak perlu memaksa mereka yang menetang itu untuk ikut merayakan maulid sebagaimana mereka pun tidak berhak memaksa kita untuk tidak merayakan maulid. Selanjutnya upaya menghargai perbedaan itu tentunya juga perlu disertai dengan sikap keterbukaan dan kesiapan untuk melakukan dialog demi menciptakan sikap saling kesepahaman atau paling tidak demi menumbuhkan suasana damai dengan tidak saling merendahkan satu sama lain.

Pertentangan perbedaan pendapat yang terjadi di dalam perayaan ini lebih disebabkan karena sudah terlalu banyaknya fitnah di sekitar umat Islam di dunia, sehingga sulit bagi umat Islam untuk mengetahui mana yang sebenarnya sunnah atau bid’ah. Kesibukan dunia dan kurang populernya ilmu agama di masyarakat mengakibatkan orang gampang terhasut oleh kelompok-kelompok tertentu yang merasa paling benar secara absolut.

Dikatakan oleh para ulama, menghukumi sesuatu itu harus tahu betul hakikat sesuatu yang dihukumi, maka tidak sah jika seseorang itu menghukumi Maulid itu bid’ah sebelum mengetahui apa hakikat Maulid Nabi tersebut.

Buya Hamka sewaktu beliau muda, menyatakan bahwa Maulid Nabi adalah haram dan bid’ah tidak ada petunjuk dari Nabi SAW. Begitu juga dengan tegas beliau menyatakan bahwa Haul maupun Qunut dalam sholat subuh termasuk bid’ah tidak ada tuntunanya dari Rasulullah SAW sehingga Buya Hamka tidak pernah melakukan Qunut dalam sholat subuhnya.

Tetapi ketika Buya Hamka sudah tua beliau berubah pendapat, beliau berkenan menghadiri acara Maulid Nabi SAW saat ada yang mengundangnya. Begitu juga dengan Qunut ketika beliau sudah tua, beliau membaca Qunut dalam sholat subuhnya.

Lantas kemudian, para muridnya bertanya: “Buya Hamka, dulu sewaktu Engkau masih muda begitu keras menentang acara-acara seperti Maulid, Haul, serta membaca Qunut dalam sholat subuh namun setelah tua kok berubah?”

Buya Hamka pun menjawab: “Iya, dulu sewaktu saya muda kitabnya baru satu. Namun setelah saya mempelajari banyak kitab, saya sadar ternyata ilmu Islam itu sangat luas, dulu saya baru baca satu kitab namun sekarang saya sudah baca seribu kitab”.

Begitulah pengalaman hidup Buya Hamka yang mungkin bisa dijadikan pelajaran bagi kita agar tidak membid’ahkan sesuatu tanpa dalil yang menguatkannya.

Para Ulama menyebut masalah Maulid Nabi ini yang bermakna dari merayakan Maulid Nabi adalah mengagungkan dan menyanjung Nabi SAW. Mengagungkan dan menyanjung Nabi adalah sangat dianjurkan dan semua yang ada pada Nabi adalah layak untuk disanjung dan layak untuk diagungkan. Itulah yang dipahami oleh para ulama dari masa ke masa. Mengagungkan hari kelahiran Nabi termasuk bagian dari pengagungan terhadap Nabi SAW. Hal ini bukan mengikuti tradisi orang yang ada di luar Islam, akan tetapi ini mengkuti kaidah yaitu : “Semua yang bersangkutan dengan  Nabi adalah mulia dan layak untuk diagungkan.”

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum permasalahan ini. Pertama, mayoritas ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali menegaskan bahwa peringatan Nabi Muhammad SAW diperbolehkan, bahkan disunnahkan. Bisa kita kutip dari salah satu pendapat ulama yang bermazhab Syafi’i, Imam Jalaluddin Assuyuthi menyebutkan :

هُوَ مِنَ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا؛ لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ قَدْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَالْاِسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ

“Ia (peringatan maulid Nabi) merupakan bid’ah hasanah yang pelakunya memperoleh pahala, sebab hal itu sebagai bentuk mengagungkan kemulian Nabi Muhammad shallallahu a’laihi wa’alihi wasahbihi wasallam, dan mengungkapkan rasa bahagia akan kelahiran Nabi mulia” (Jalaluddin Assuyuthi, Al-Hawi Lilfatawa, juz 1, h. 292).

Kedua, sebagian ulama mazhab Maliki menyatakan, peringatan maulid Nabi Muhammad SAW tidak diperbolehkan, karena merupakan bid’ah. Syekh Tajuddin Al-Fakihani menuturkan:

لَا أَعْلَمُ لِهَذَا الْمَوْلِدِ أَصْلَا فِي كِتَابٍ وَلَا سُنَّةٍ، وَلَا يُنْقَلُ عَمَلُهُ عَنْ أَحَدٍ مِنْ عُلَمَاءِ الْأُمَّةِ، الَّذِيْنَ هُمُ الْقُدْوَةُ فِي الدِّيْنِ، الْمُتَمَسِّكُوْنَ بِآثَارِ الْمُتَقَدِّمِيْنَ، بَلْ هُوَ بِدْعَةٌ

“Saya tidak mengetahui dalil dari Al-Qur’an dan Hadis tentang peringatan maulid ini, dan tidak pula dicritakan riwayat tentang pelaksanaannya oleh salah satu ulama, di mana para ulama tersebut merupakan tuntunan dalam hal agama, yang senantiasa berpegang teguh pada warisan orang-orang terdahulu. Bahkan peringatan maulid adalah bid’ah” (Tajuddin Al-Fakihani, Al-Mawrid Fi Amalil Maulid, h. 20)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang hukum memperingati maulid Nabi Muhammad SAW. Mayoritas ulama dari Mazhab Empat, meliputi mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali menyatakan bahwa hukum memperingatinya adalah boleh, bahkan sunnah. Sedangkan, sebagian ulama mazhab Maliki menghukuminya tidak boleh, sebab termasuk bid’ah.

Dari kedua pendapat tersebut, tampaknya pendapat yang memperbolehkan peringatan maulid Nabi merupakan pendapat yang sangat kuat, sebab merupakan pendapat mayoritas ulama dari Empat Mazhab.

Demikian adanya keragaman pendapat ulama terkait hukum memperingati maulid Nabi Muhammad SAW ini semoga semakin menambah keyakinan kita bahwa perbedaan itu merupakan sunnatullah, maka harus disikapi dengan dewasa dan bijaksana. Wallahu A’lam.

Semoga bermanfaat.