Beranda Keislaman Hikmah Inilah Cara Shalat Seorang Waliyullah, Kamu Gak Akan Kuat Gais!

Inilah Cara Shalat Seorang Waliyullah, Kamu Gak Akan Kuat Gais!

Harakah.idIbadah shalat seorang waliyullah secara kasatmata sama dengan yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Namun secara batin, kualitas mereka jauh di atas rata-rata. lantas bagaimana cara shalat seorang waliyullah? Apakah kita bisa menirunya?

Suatu hari, kerana suatu kepentingan dan urusan, ‘Isham bin Yusuf datang ke tempat Hatim al-‘Asham. Di sana, ia bertanya bagaimana cara Hatim al-‘Asham beribadah, “Wahai Syaikh, bagaimana cara engkau melakukan shalat?”.

Hatim memandang wajah ‘Isham dan berkata, “Ketika datang waktu shalat, aku berwudlu secara zahir dan batin”. Mendengar jawaban itu, ‘Isham penasaran. Ia lantas bertanya lagi, “Wudlu batin?, Bagaimana itu?”.

“Jika wudlu zahir membasuh anggota badan dengan air. Nah, jika wudlu batin, aku membasuh hatiku dengan tujuh hal, yaitu: taubat, nadam (menyesal), meninggalkan cinta terhadap dunia, meninggalkan pujian makhluk, riyasah (rasa ingin selalu memimpin), dendam, dan dengki,” jawab Hatim menjelaskan.  

Tak hanya sampai di situ, ia juga menambahkan, “Lantas, aku ke masjid, dan mengambil posisi shalat. Saat itu, aku sekan-akan melihat ka’bah. Ketika shalat itu, aku merasa aku sedang berada antara dua hal: kebutuhanku dan sifat kehati-hatianku.

Aku merasa, seakan Allah melihataku, surga berada di sisi kananku, dan neraka di sisi kiriku, malaikat maut berada di belakangku. Juga, seakan aku sedang berdiri di shirat (jembatan di akhirat) dan aku berkeyakinan bahwa shalat yang aku lakukan saat itu adalah shalatku yang terakhir.” 

Kemudian, “Aku berniat dan bertakbir dengan ihsan, membaca seluruh bacaan shalat dengan bertafakkur (memikirkan apa yang sedang dibaca), aku ruku dengan tawadlu’, aku sujud dengan  tadarru’. Aku membaca syahadat dengan penuh rasa raja’ (pengharapan terhadap rahmat Allah), dan aku mengucapkan salam dengan penuh keikhlasan. Dan ini aku lakukan sudah sejak tigapuluh tahun yang lalu”.

Mendengar itu, ‘Isham berkata, “Hanya engkau yang bisa mengerjakannya”. Ia lantas menangis dengan begitu kencang. 

Kisah di atas terdapat dalam kitab al-Nawadir karya Ahmad Shihabuddin bin Salamah al-Qulyubi. Lewat kisah di atas kita mengetahui dan memahami bagaimana ibadah yang biasa dilakukan oleh para wali (kekasih) Allah SWT. Mereka beribadah (dalam kasus di atas berupa shalat), tidak saja dengan gerakan zahir, namun juga batin. 

Ibadah shalat mereka secara kasatmata sama dengan yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Namun secara batin, kualitas mereka jauh di atas rata-rata. Apakah kita bisa menirunya? Jika langsung semuanya kita tiru tentu berat. Namun jika dilakukan perlahan dan pelan-pelan pasti akan terasa ringan. 

Cara paling mendasar yang harus dilakukan adalah dengan memahami apa yang sedang dibaca di dalam shalat, sebagaimana dalam kisah di atas, Hatim berkata, “membaca seluruh bacaan shalat dengan bertafakkur”. Dengan mengetahui makna—atau minimal arti—bacaan tersebut kita akan menjadi paham bahwa apa yang kita ucapkan. Dengan demikian, ketika shalat, kita akan merasa bahwa yang kita ucapkakn itu bukan berupa kata tanpa arti/makna. 

(Namun juga tidak dibenarkan mengalihbahasakan bacaan shalat dari bahasa Arab menjadi bahasa Indoensia. Misalnya, bacaan “Allahu Akbar”, diganti “Allah Maha Besar”. Bacaannya harus tetap menggunakan bahasa Arab, sebagaimana yang diperintahkan Nabi dengan sabdanya, “Shalatlah kalian sebagaimana aku shalat”(H.R. al-Baihaqi). 

Selain itu, pemahaman dan pengetahuan kita terhadap arti/makna bacaan shalat yang kita lantunkan itu hendaknya dilanjutkan dengan menghayatinya. Dalam kamus bahasa Indonesia, menghayati diartikan sebagai “mengalami dan merasakan sesuatu (dalam batin)”. Sehingga dari sini dapat dipahami bahwa memahami atau mengerti apa yang dibaca/diucapkan tidak sama dengan menghayatinya. Menghayati memiliki makna yang lebih dalam dari mengerti/memahami. 

Mengerti bacaan shalat bisa dilakukan dengan mudah, yakni dengan cara membaca terjemahnya, namun menghayatinya tentu hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar merenungi apa yang sedang dibaca. 

Bacaan shalat yang dihayati akan bisa membentuk kepribadian seseorang menjadi lebih baik. Misalkan ketika seseorang membaca kalimat, “Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin. (Sungguh, shalatku, ibadahku, hidupku, matiku, hanya untuk Allah Swt.). Bagaimana mungkin orang paham dan menghayati kalimat itu tidak merinding ketika mengucapkannya?. 

Selain dengan memahami arti dan makna bacaan shalat serta menghayatinya, “cara termudah” yang bisa kita latih adalah dengan merasa dan menganggap bahwa shalat yang sedang kita lakukan itu adalah shalat kita yang terakhir dalam hidup kita, sebagaimana yang dilakukan Hatim al-‘Asham. Dengan demikian, kita akan benar-benar fokus terhadap shalat yang kita lakukan.

Artikel kiriman dari M. Nurul Huda, Guru Ngaji, Alumni Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, Banyuwangi dan S1 PTIQ, Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...