Beranda Tokoh Inilah Dua Orang Perempuan Mulia yang Menyusui Nabi Muhammad Saat Kecil

Inilah Dua Orang Perempuan Mulia yang Menyusui Nabi Muhammad Saat Kecil

Harakah.idBangsa Arab memiliki kebiasaan menggunakan jasa ibu susu untuk memberikan gizi terbaik untuk anak-anak mereka. Tidak terkecuali Nabi Muhammad SAW saat masih kecil. Dalam sejarah, dikenal dua orang perempuan mulia yang menyusui Nabi Muhammad kecil. Siapa mereka? Inilah profilnya.

Tersebut dalam “Hayat Muhammad” karya Muhammad Husain Haekal, 2 nama perempuan mulia yang menyusui Muhammad kecil.

Pertama adalah Tsuwaibah, budaknya Abu Lahab–paman Nabi saw. 

Muhammad Husain Haekal menjelaskan, “Sementara masih menunggu orang yang akan menyusui anaknya itu, Aminah menyerahkan Muhammad kepada Tsuwaibah, budak perempuan Abu Lahab, pamannya. Selama beberapa waktu, Tsuwaibah menyusui Muhammad. Hamzah paman Nabi, juga disusui Tsuwaibah. Jadi, selain sebagai paman, Hamzah juga merupakan saudara satu susuan Muhammad.”

Kebiasaan para bangsawan Makkah kala itu menitipkan bayi mereka pada para ibu susu (perempuan yang memberi jasa menyusui dan mengasuh bayi). Bani Sa’d merupakan kabilah yang amat terkenal dalam jasa ini. 

Selama menunggu datangnya para ibu susu dari Bani Sa’d, Muhammad kecil bersama Hamzah disusui oleh Tsuwaibah. Hamzah adalah anak Abdul Mutalib dengan Halah. Sehingga Hamzah merupakan paman Nabi saw. Meski demikian, Nabi Muhammad saw seumuran dengannya.

Ada perbedaan pendapat tentang kemerdekaan Tsuwaibah saat menyusui Nabi saw. Apa Tsuwaibah sudah dimerdekakan oleh Abu Lahab saat menyusui Nabi saw atau tidak? Namun, entah sudah dimerdekakan atau tidak, yang jelas Tsuwaibah adalah perempuan mulia yang dipilih oleh Allah swt menjadi salah satu perempuan yang menyusui Muhammad kecil–manusia yang kelak menjadi Nabi Allah, Rasul Allah, kekasih Allah.

Muhammad Afiq Zahara dalam esainya di NU Online (islam.nu.or.id) menjelaskan, kalau selain Hamzah, Tsuwaibah juga menyusui Abdullah bin Jahs dan Masruh–anaknya. Sehingga mereka bertiga–Hamzah, Abdullah bin Jahs, dan Masruh–merupakan saudara susuan Nabi Muhammad saw.

Nabi saw sangat menghormati Tsuwaibah, baik sebelum dan setelah menjadi Nabi. Dijelaskan oleh Muhammad Husain Haekal, “Kelak, setelah diangkat sebagai Nabi, Muhammad tetap menghormati dan menjaga hubungan baik dengan Tsuwaibah meskipun ia hanya beberapa hari menyusuinya. Setelah wanita itu meninggal pada tahun ketujuh hijrah, Nabi tetap mengingat dan menghormatinya….”

Kedua adalah Halimah binti Abu Dzua’ib atau Halimah as-Sa’diyah.

Setelah datangnya Bani Sa’d, Aminah–perempuan mulia ibu Nabi saw–menyerahkan Muhammad kecil pada Halimah–salah seorang ibu susu dari Bani Sa’d.

Awalnya, Halimah menolak untuk menyusui Muhammad. Ah, tak hanya Halimah, namun semua perempuan dari Bani Sa’d menolak untuk menyusui dan mengasuh Muhammad kecil.

Digambarkan oleh Muhammad Husain Haekal, “…mereka enggan menyusui bayi-bayi yang telah ditinggal mati ayahnya. Sebab, mereka mengharapkan balasan upah yang lebih besar dan lebih baik dari orang tua anak susuannya, dan tentu saja keluarga yang tanpa ayah, menurut mereka, tidak akan mampu memberi upah yang lebih baik. Mereka tahu, Aminah binti Wahb memiliki seorang bayi yang usianya baru beberapa hari. Namun, mereka juga tahu, ayah bayi itu telah meninggal sehingga mereka tidak mau mendatangi rumah Aminah. Mereka berpikir akan mendapatkan upah yang lebih besar jika menyusui anak dari keluarga yang kaya raya.”

Namun, sebab Halimah tak menemukan keluarga yang mau menitipkan anaknya pada dirinya. Halimah pun berkata pada suaminya, Harits bin Abdul Uzza, “Demi Allah, aku tidak suka jika pulang bersama kawan-kawanku tanpa membawa seorang anak untuk aku susui. Jadi, biarlah aku akan mendatangi anak yatim itu dan aku akan membawanya pulang bersamaku.”

Suaminya pun menjawab, “Lakukanlah, semoga Allah menjadikan anak itu berkah untuk keluarga kita.”

Tentu saja, Muhammad kecil adalah manusia yang diberkahi, manusia yang kelak menjadi Rasul Allah, kekasih Allah. Diriwayatkan, kalau sejak mengasuh Nabi Muhammad saw, hidup Halimah dipenuhi keberkahan yang melimpah. Kambing-kambingnya gemuk dan mengeluarkan susu yang melimpah. Serta mendapat berbagai kemudahan dan kebaikan dalam hidup.

Nabi Muhammad saw diasuh Halimah selama 5 tahun. Pada 2 tahun pertama, Halimah kembali membawa Muhammad kecil ke Makkah. Dan kemudian membawanya kembali ke Bani Sa’d.

Selain disusui dan diasuh oleh Halimah, Muhammad kecil juga diasuh oleh Syaima’–putri Halimah. Halimah dengan Harits bin Abdul Uzza punya 3 orang anak: Abdullah bin Harits, Anisah binti Harits, dan Hudafah binti Harits (Syaima’). Mereka bertiga termasuk saudara susuan Nabi Muhammad saw.

Nabi Muhammad saw sangat menghormati Halimah dan keluarganya. Saat Bani Sa’d mengalami paceklik, pada masa setelah Nabi saw menikah dengan Khadijah, Halimah pun mengunjungi Nabi saw. Maka untuk membantu ibu susuannya itu, Nabi saw memberi unta yang dimuati makanan plus 40 ekor kambing.

Bahkan, dalam riwayat, setiap kali Halimah datang berkunjung, Nabi saw membentangkan pakaiannya yang paling berharga untuk tempat duduk Halimah. Itu sebagai bentuk penghormatan Nabi saw pada Halimah.

Syaima’, saudara susuan Nabi saw sekaligus perempuan yang mengasuhnya saat masih bayi, pernah menjadi tawanan bersama kaum Hawazin. Persitiwa itu terjadi setelah Kota Thaif ditaklukkan. Saat melihat Syaima’, Nabi saw langsung mengenali saudari susuan yang disayangi dan dihormatinya. Nabi saw pun langsung memuliakan Syaima’ dan memulangkannya pada keluarganya sesuai dengan keinginan Syaima’.

Demikian, Tsuwaibah dan Halimah menjadi perempuan mulia yang dipilih oleh Allah swt sebagai ibu susuan Nabi Muhammad saw.

REKOMENDASI

Fatima Mernissi dan Sekelumit Problem Keperempuanan dalam Islam

Harakah.id - Fatima Mernissi adalah salah satu perempuan yang seringkali diacu dan dirujuk kala berbicara tentang peran perempuan dalam Islam. Dia...

Di Balik Keharamannya, Ini Sepuluh Efek Buruk Minum Khamr yang Mungkin Tidak Kamu Ketahui!

Harakah.id - Minum khamr melahirkan efek mabuk dan ngefly. Bagi sebagian orang, efek ini menjadi kenyamanan tersendiri karena dengan itu mereka...

Download Khutbah Jumat, Hakikat Kewajiban Shalat Jum’at

Harakah.id - Download Khutbah Jumat Juni, Hakikat Kewajiban Shalat Jum’at. Kutbah Pertama إِنّ...

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 97: Kehidupan yang Baik dan Imbalan Untuk Orang yang Beriman

Harakah.id - Tafsir Surah an-Nahl ayat 97 menjelaskan perkara soal kehidupan yang baik berikut imbalan untuk orang yang beriman. Berikut penjelasannya...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...