fbpx
Beranda Keislaman Tafsir Inilah Gambaran Kedahsyatan Fenomena Hari Kiamat dalam Al-Quran

Inilah Gambaran Kedahsyatan Fenomena Hari Kiamat dalam Al-Quran

Harakah.idQuraish Shihab dalam tafsir al-Mishbah menjelaskan bahwa kata al-Qari’ah berasal dari kata qara’a yang artinya mengetuk. Suara yang menggelegar diakibatkan oleh kehancuran alam raya sedemikian keras, sehingga diibaratkan dengan mengetuk lalu memekakkan telinga, hati nurani manusia, bahkan pikiran manusia.

- Advertisement -

Dalam al-Quran Allah SWT menyebutkan beberapa gambaran kondisi pada saat hari kiamat kelak. Salah satunya dalam QS al-Qari’ah [101]  yang terdiri dari 11 ayat.

Dalam surah ini menceritakan dari awal ayat hingga akhir ayat peristiwa yang terjadi pada hari kiamat. Seperti kedahsyatan hari kiamat, peristiwa-peristiwa yang berlaku di dalamnya dan sesudahnya.

Al-Qari’ah diartikan sebagai hari kiamat. Sama seperti kata al-Haqqah, al-Sakhkhah, al-Ghasiyah, dan sebagainya. Menurut Ahmad Mustafa al-Maraghi dalam tafsir al-Maraghi menyebutkan bahwa penamaan al-Qari’ah dimaksudkan ke dalam suatu peristiwa yang sangat dahsyat sehingga sulit untuk digambarkan dan diketahui hakikatnya.

Surah ini menjelaskan kehancuran. Dimana manusia pada hari itu akan tampak sangat kerdil karena jumlah manusia sangat banyak ketika mereka dikumpulkan di padang mashyar sehingga mudah terombang-ambing. Gunung-gunung juga berterbangan seperti bulu-bulu yang berhamburan ditiup angin yang kencang. 

Quraish Shihab dalam tafsir al-Mishbah menjelaskan bahwa kata al-Qari’ah berasal dari kata qara’a yang artinya mengetuk. Suara yang menggelegar diakibatkan oleh kehancuran alam raya sedemikian keras, sehingga diibaratkan dengan mengetuk lalu memekakkan telinga, hati nurani manusia, bahkan pikiran manusia. Sementara ulama mengatakan bahwa kata al-Qari’ah memiliki artian semua peristiwa yang besar dan mencekam baik suara keras maupun tidak. Sebagaimana Allah SWT menyebutkan dalam QS al-Qari’ah[101] : 4-5   

يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ

“Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran”

وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ

“Dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan”

Dalam tafsir Ibnu Katsir (Hlm : 469), dijelaskan bahwa makna كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ bagai anai-anai yang berterbangan, kacau tidak beraturaan karena jumlah mereka yang sangat banyak. Diibaratkan dengan belalang yang tersebar. Sedangkan كَالْعِهْنِ ditafsirkan oleh Ibnu Katsir dengan  صوف yang bermakna bulu domba yang berterbangan. Gunung yang sangat berat dapat terbang bagaikan bulu domba yang sangat ringan jika al-Qari’ah terjadi.

Ketika hari kiamat datang goncangan bumi akan begitu dahsyat, Bumi akan memuntahkan segala isinya. Lautan meluap dan terbelah, Gunung-gunung berguncang keras sehingga pecah berhamburan bagaikan butir-butir pasir yang berserakan. Gunung-gunung yang sering kita lihat gagah perkasa pada saat itu tak ubahnya seperti fatamorgana, tidak akan meninggalkan bekas keperkasaannya seperti saat ini kita lihat.

Dahsyatnya hari kiamat dalam surah al-Qari’ah menggambarkan manusia dipenuhi dengan ketakutan, dan kebingungan. Semua orang masing-masing menyelematkan diri mereka sendiri. Sebagaimana seorang saudara melupakan saudarnya sendiri, seorang anak lupa pada orang tuanya begitupun sebaliknya.

Kemudian ayat selanjutnya menggambarkan bahwa semua perbuatan manusia akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak. Apabila amalan baik maka akan ditempatkan ke dalam syurga. Sedangkan amalan yang buruk lebih berat maka akan dimasukkan ke dalam neraka.

Begitulah kondisi saat al-Qari’ah datang. Semoga kita semua tergolong ke dalam manusia yang lebih berat timbangannya ke arah kebaikan sehingga balasannya ialah Syurga-Nya. Masihkah kita terus sibuk dengan urusan duniawi yang dapat melalaikan. Adakah kondisi yang lebih mencekam selain hari kiamat itu ? 

REKOMENDASI

Respons Para Kiai Dalam Tragedi Gestapu, Santuni Janda Dan Pesantrenkan Anak Yatim Tokoh-Tokoh PKI

Harakah.id - Respons para kiai dalam tragedi Gestapu sangat jelas. Para Kiai menyatakan bahwa PKI tetap harus dibatasi pergerakannya. Hanya saja,...

Ini Jawaban Apakah Jodoh Itu Takdir Atau Pilihan?

Harakah.id – Jodoh itu takdir atau pilihan? Setiap orang tentu bisa berikhtiar memilih dan menentukan untuk menikah dengan siapa. Tapi dia...

Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah Perkembangannya

Harakah.id – Maqashid Syariah sebagai ruh kerja ijtihad memang tidak bisa disangkal. Maqashid Syariah adalah maksud dan tujuan pensyariatan itu sendiri....

Marxisme Tidak Melulu Soal Komunisme dan Atheisme, Begini Cara Menjadi Sosialis yang Islami Ala...

Harakah.id – Tuduhan bahwa Marxisme dan Sosialisme selalu melahirkan Komunisme dan Atheisme sebenarnya kurang tepat. Buktinya Soekarno, seorang pembaca marxis dan...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...