Beranda Headline Inilah Hukum Mengevakuasi Korban Gempa dan Tanah Longsor, Pandangan Fikih Bencana

Inilah Hukum Mengevakuasi Korban Gempa dan Tanah Longsor, Pandangan Fikih Bencana

Harakah.idBerdasarkan keterangan di atas, dapat dipahami bahwa mencari korban bencana tergolong perbuatan yang diperintahkan dan merupakan perbuatan yang berstatus wajib kifayah.

Duka menyelimuti masyarakat Cianjur setelah kawasan tersebut diguncang gempa dahsyat. Hampir 300 orang meninggal dunia, ribuan luka-luka dan sekitar 50 ribu orang mengungsi ke tempat aman.

Dari sekian banyak korban jiwa, ada cukup banyak yang meninggal karena tertimbun reruntuhan bangunan dan tanah longsor pasca gempa. Beberapa korban sudah berhasil ditemukan dan dievakuasi. Tetapi, ada pula yang belum ditemukan dan dievakuasi.

Menurut Peraturan Kepala Badan Penanggulangan Bencana, Evakuasi adalah kegiatan memindahkan korban bencana dari lokasi bencana ke tempat yang aman dan atau penampungan pertama untuk mendapatkan tindakan penanganan lebih lanjut.

Di sini muncul pertanyaan, bagaimana hukum mengevakuasi korban, dalam arti memindahkan korban bencana dari lokasi bencana ke tempat aman? Apakah para relawan berkewajiban mencari para korban bencana yang tertimbun longsor atau reruntuhan pasca gempa? Jika wajib, apa dasar kewajibannya menurut dalil-dalil agama?

Dalam perspektif hukum fikih, evakuasi dapat dilihat sebagai upaya pencarian korban. Hukum melakukan pencarian korban bencana yang tertimbun longsor atau reruntuhan adalah fardhu kifayah.

Syekh Abdul Wahhab Khallaf menulis,

والواجب الكفائي: هو ما طلب الشارع فعله من مجموع المكلفين، لا من كل فرد منهم، بحيث إذا قام به بعض المكلفين فقد أدى الواجب وسقط الإثم والحرج عن الباقين وإذا لم يقم به أي فرد من أفراد المكلفين أثموا جميعا بإهمال هذا الواجب، كالأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، والصلاة على الموتى، وبناء المستشفيات، وإنقاذ الغريق، وإطفاء الحريق، والطب، والصناعات التي يحتاج إليها الناس، والقضاء والإفتاء، ورد السلام، وأداء الشهادة.

Wajib Kifayah adalah perkara yang dibebankan oleh syari’ atas segolongan orang mukallaf. Bukan atas setiap individu dari golongan tersebut. Sekira Sebagian orang mukallaf sudah mengerjakannya, maka mereka telah menunaikan kewajiban dan gugur lah dosa dari selain yang melaksanakan.

Ketika tidak ada seorang individu yang melakukannya, maka mereka semua berdosa disebabkan mengabaikan kewajiban ini. Hal ini seperti kewajiban amar makruf, nahi munkar, menshalati jenazah, membangun rumah sakit, menyelamatkan orang yang tenggelam, memadamkan kebakaran, pengobatan, keahlian profesional yang dibutuhkan masyarakat, peradilan, layanan fatwa, menjawab salam dan menjadi saksi (Ushul al-Fiqh, Abdul Wahhab Khallaf, hlm. 108-109).

Berdasarkan keterangan di atas, dapat dipahami bahwa mencari korban bencana tergolong perbuatan yang diperintahkan dan merupakan perbuatan yang berstatus wajib kifayah. Mencari korban bencana yang tertimbun tanah longsor atau reruntuhan bangunan sama dengan kasus “menyelamatkan orang yang tenggelam” jika ketika korban masih diyakini masih hidup.  

Kemudian muncul pertanyaan, siapa yang berkewajiban mencari dan mengevakuasi korban bencana yang tertimbun? Menurut Syekh Abdul Wahhab Khallaf, pihak yang berkewajiban dalam kasus ini adalah orang-orang yang memiliki kemampuan; baik kemampuan fisik maupun finansial. Syekh Abdul Wahhab Khallaf mengatakan,

فالواجبات الكفائية المطالب بها مجموع أفراد الأمة، بحيث إن الأمة بمجموعها عليها أن تعمل على أن يؤدي الواجب الكفائي فيها، فالقادر بنفسه وماله على أداء الواجب الكفائي؛ عليه أن يقوم به، وغير القادر على أدائه بنفسه عليه أن يحث القادر ويحمله على القيام به؛ فإذا أدى الواجب سقط الإثم عنهم جميعا

Wajib Kifayah yang mendapat tuntutan untuk perintah ini adalah kelompok individu umat Islam, sekira sebuah masyarakat secara keseluruhan berkewajiban menjalankan kewajiban kifayah ini. Orang yang mampu menggunakan dirinya dan hartanya untuk menunaikan kewajiban kifayah ini, dia wajib menunaikannya. Orang yang tidak mampu menunaikan dengan dirinya, dia wajib mendorong orang yang mampu dan memaksa orang yang mampu untuk melakukannya. Ketika kewajiban itu tertunaikan, maka gugurlah dosa dari mereka semua (Ushul al-Fiqh, hlm. 109).

Dengan demikian, pihak yang berkewajiban melakukan pencarian adalah orang yang memiliki kemampuan untuk melakukan pencarian korban gempa atau tanah longsor. Bisa saja mereka adalah masyarakat biasa. Bisa saja mereka adalah para spesialis penanganan bencana, seperti relawan kebencanaan dan aparat kepolisian/tentara nasional. Ada pula yang berkewajiban mendukung dengan harta yang dimilikinya. Dengan kerja sama antar elemen masyarakat ini, mencari dan mengevakuasi korban bencana yang merupakan kewajiban agama dapat tertunaikan. Peran berbagai pihak sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan kewajiban ini.  

Dalam kasus korban tertimbun tanah longsor atau reruntuhan, tidak dibedakan antara korban yang masih hidup atau kondisi korban sudah meninggal. Hukumnya tetap fardhu kifayah. Evakuasi menjadi kewajiban bersama seluruh elemen masyarakat. Jika tidak ada yang melakukan evakuasi, maka seluruh elemen masyarakat akan mendapatkan dosa.

Demikian penjelasan singkat hukum mengevakuasi korban gempa dan tanah longsor. Semoga penjelasan hukum mengevakuasi korban gempa dan tanah longsor ini bermanfaat.

Sumber Foto: AFP.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...