fbpx
Beranda Keislaman Akhlak Inilah Jenis Pendosa yang Masih Dicintai Tuhan dan Alasannya

Inilah Jenis Pendosa yang Masih Dicintai Tuhan dan Alasannya

Harakah.idDi dalam beberapa keterangan ternyata ditunjukkan bahwa ‘Pendosa yang masih memiliki harapan pada Sang Pencipta lebih dicintai daripada Pengibadah yang mudah berputus asa’. 

- Advertisement -

Pemilik semesta telah menjadikan berbagai ciptaan dengan keunikannya masing-masing. Di antara ciptaannya, terdapat kelompok manusia pendosa dan kelompok manusia ahli ibadah. 

Secara umum kelompok manusia pendosa dipandang sebagai kelompok manusia yang celaka, sedangkan kelompok manusia ahli ibadah dipandang sebagai kelompok manusia yang bahagia. Padahal, tidak selalu seperti itu.

Di dalam beberapa keterangan ternyata ditunjukkan bahwa ‘Pendosa yang masih memiliki harapan pada Sang Pencipta lebih dicintai  daripada Pengibadah yang mudah berputus asa’. 

Alasan pertama atas pernyataan di atas adalah firman Allah di dalam surat Yusuf ayat 87: Janganlah berputus asa dari kasih sayang Allah, karena sesungguhnya hanya kaum kafir yang (mudah) berputus asa dari kasih sayang Allah.

Ayat ini dengan ‘sangat tegas’ menyatakan bahwa berputus asa dari rahmat Allah merupakan sikap dari orang-orang kafir. Hal ini disebabkan oleh sikap putus asa menunjukkan keragu-raguan di dalam hati tentang segala kebaikan Allah dan satu di antara ciri orang kafir adalah meragukan segala yang difirmankan atau dijanjikan oleh Allah. 

Hal inilah yang membuat Imam al-Ghazali at-Thusy di dalam Minhaj al-Abidin mengatakan bahwa manusia harus menjaga dua hal di dalam hatinya, yakni raja’ (harapan) dan khauf (rasa takut).

Raja’ digunakan untuk menjaga rasa yakin seorang hamba ketika tergelincir dalam dosa bahwa ampunan Allah sungguh lebih luas dari luasnya lautan dan khauf digunakan untuk menahan rasa ‘gaya’, pamer, dan sombong seorang hamba ketika melakukan ibadah; sebab semua ibadah yang dilakukan belum tentu diterima oleh Allah. 

Alasan kedua atas pernyataan di atas adalah sebuah riwayat (diceritakan oleh Syaikh Muhammad bin Abu Bakar al-Ushfury di dalam al-Mawaidz al-Ushfuriyyah) dari Zaid bin Aslam, dari Umar, bahwa Abdullah bin Mas’ud bercerita tentang seorang laki-laki yang sangat bersungguh-sungguh dalam ibadahnya.

Di sisi lain, selama hidupnya lelaki tersebut sering membuat orang lain mudah berputus asa dengan rahmat Allah. Ketika lelaki tersebut wafat, di akhirat lelaki tersebut bertanya kepada Allah ihwal apa yang diberikan Allah kepadanya atas ibadahnya selama ini. 

Allah menjawab, “Neraka!”. 

Lelaki tersebut kaget dan bertanya, “Wahai Tuhan-ku, lalu bagaimana dengan ibadahku yang kulakukan selama di dunia?”.

Allah menjelaskannya dengan kalimat, “Kau telah membuat orang-orang di sekitarmu berputus asa terhadap rahmat dari-Ku. Oleh sebab itu, Aku menghapus rahmat-Ku darimu hari ini”. 

Alasan ketiga sekaligus yang terakhir adalah firman Allah dalam surat az-Zumar ayat 53: Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas atas diri mereka sendiri, janganlah kalian mudah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengampuni seluruh dosa”.

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an al-Adzim menyampaikan bahwa ayat ini  adalah ajakan kepada siapapun yang ahli bermaksiat untuk tidak mudah berputus asa dari rahmat (ampunan) Allah, sebab tidak sulit bagi Allah untuk mengampuni seluruh dosa lewat pertaubatan seorang hamba kepada Pencipta-nya. 

REKOMENDASI

Respons Para Kiai Dalam Tragedi Gestapu, Santuni Janda Dan Pesantrenkan Anak Yatim Tokoh-Tokoh PKI

Harakah.id - Respons para kiai dalam tragedi Gestapu sangat jelas. Para Kiai menyatakan bahwa PKI tetap harus dibatasi pergerakannya. Hanya saja,...

Ini Jawaban Apakah Jodoh Itu Takdir Atau Pilihan?

Harakah.id – Jodoh itu takdir atau pilihan? Setiap orang tentu bisa berikhtiar memilih dan menentukan untuk menikah dengan siapa. Tapi dia...

Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah Perkembangannya

Harakah.id – Maqashid Syariah sebagai ruh kerja ijtihad memang tidak bisa disangkal. Maqashid Syariah adalah maksud dan tujuan pensyariatan itu sendiri....

Marxisme Tidak Melulu Soal Komunisme dan Atheisme, Begini Cara Menjadi Sosialis yang Islami Ala...

Harakah.id – Tuduhan bahwa Marxisme dan Sosialisme selalu melahirkan Komunisme dan Atheisme sebenarnya kurang tepat. Buktinya Soekarno, seorang pembaca marxis dan...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...