Beranda Keislaman Akhlak Inilah Keutamaan Menulis Buku Setelah Shalat Dhuha yang Sering Dilupakan

Inilah Keutamaan Menulis Buku Setelah Shalat Dhuha yang Sering Dilupakan

Harakah.id Menulis ilmu pengetahuan merupakan bagian dari amalan yang utama. Pahala menulis sama dengan sedekah, memerdekakan budak, menebar kebaikan dan menghapus dosa.  

Setelah shalat sunnah Dhuha, sejatinya adalah waktu yang penting hingga datang waktu shalat zhuhur. Karena itu, hendaknya umat Islam mengisinya dengan amalan-amalan yang bermanfaat. Syaikh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari menyebutkan tiga amalan penting setelah shalat sunnah Dhuha dalam kitab Hidayatul Adzkiya’ (Petunjuk bagi orang-orang cerdas).

Hal ini seperti dijelaskan oleh Ustadz M. Khoirul Huda dalam pengajian rutin yang diselenggarakan Yayasan Harakah Dakwah Digital, Ahad (23/10/2022).

Mengutip Syaikh Zainuddin Abdul Aziz al-Malibari, beliau mengatakan; tsummastaghil bil ‘ilmi au bi ‘ibadatin, au bil ma’isyati wakhtaranil afdhala. Artinya, kemudian sibukkan dirimu dengan ilmu, ibadah atau mencari penghasilan, dan pilihlah yang paling utama di antara itu semua.

Syekh Nawawi al-Bantani, dalam kitab Salalim al-Fudhala’ Syarah Hidayatul Adzkiya’, menyebutkan bahwa maksud perkataan Syekh Zainuddin Abdul Aziz al-Malibari tersebut adalah hendaknya setelah shalat sunnah Dhuha, seseorang memilih kesibukan yang memiliki nilai keutamaan.

Sesuai bimbingan Syekh Abdul Aziz al-Malibari, seseorang dapat memilih satu dari tiga hal. Menyibukkan diri dengan ilmu pengetahuan, ibadah-ibadah sunnah rutin (wazifah, wirid), atau bekerja untuk mendapatkan penghasilan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dan keluarga.

Syekh Nawawi al-Bantani menambahkan, bahwa menyibukkan diri dengan ilmu pengetahuan dapat diterjemahkan ke dalam empat amalan.

Pertama, mengajar (ta’lim). Dalam arti, orang yang sudah punya ilmu mengajarkan ilmu yang dimilikinya kepada orang lain yang membutuhkan. Ini merupakan amalan yang utama.

Kedua, belajar (ta’allum). Bagi orang yang belum memiliki ilmu, dia dapat belajar kepada orang alim yang telah memiliki ilmu.

Ketiga, menelaah kitab-kitab ilmu pengetahuan. Amalan ini khususnya diperuntukkan bagi mereka yang sudah memiliki kemampuan membaca kitab-kitab agama Islam, seperti kitab-kitab kuning yang dikarang oleh para ulama dan auliya di zaman dahulu.

Keempat, menyusun kitab atau buku yang berisi pengetahuan yang bermanfaat. Amalan ini khususnya diperuntukkan bagi mereka yang sudah punya keahlian di bidang keilmuan tertentu. Bagi yang ahli fikih hendaknya menyusun kitab dalam bidang ilmu fikih. Bagi yang ahli hadis atau tafsir al-Quran, hendaknya dia menulis karya tulis dalam bidang yang dikuasainya tersebut.

Keutamaan ini dikarenakan Rasulullah SAW pernah mengatakan, inna minadz dzubuni, dzunuban la yukaffiruha shalatun wa la shaumun wa la hajjun illa al-humum fi thalabil ‘ilmi (Sungguh, di antara dosa-dosa, ada dosa yang tidak bisa dihapus oleh shalat, puasa dan haji. Dan hanya bisa dihapus oleh perihatin dalam mencari ilmu).

Di sisi lain, Rasulullah SAW pernah berkata; man ja’a ajaluhu wa huwa yathlubu al-‘ilma laqiyani wa lam yakun bainahu wa baina al-anbiya’ illa darajah wahidah (barang siapa yang kematiannya datang sedangkan dia dalam keadaan mencari ilmu, maka dia akan bertemu denganku, sedangkan derajatnya dan derajat para nabi hanya satu derajat saja).

Untuk keutamaan menulis ilmu pengetahuan, Rasulullah SAW pernah mengatakan; man kataba harfan li rajulin muslimin fa ka annama tashaddaqa dinaran wa a’taqa raqabatan wa kataba Allahu lahu bi kulli harfin hasanatan wa maha ‘anhu sayyi’atan (barang siapa menulis untuk orang muslim, maka seakan dia bersedekah dengan setiap hurufnya satu dinar, dan memerdekakan satu orang budak, dan Allah mencatat dengan setiap hurufnya satu kebaikan dan melebur satu keburukan).

Berdasarkan keterangan Syekh Nawawi al-Bantani di atas, dapat dipahami bahwa menulis ilmu pengetahuan merupakan bagian dari amalan yang utama. Pahala menulis sama dengan sedekah, memerdekakan budak, menebar kebaikan dan menghapus dosa.  

Demikian keutamaan menulis setelah shalat sunnah Dhuha. Semoga keutamaan menulis setelah sunnah Dhuha ini bermanfaat untuk kita semua.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...