Beranda Khazanah Inilah Konsep Pendidikan Kartini, Fokus Membentuk Akhlak Peserta Didik

Inilah Konsep Pendidikan Kartini, Fokus Membentuk Akhlak Peserta Didik

Harakah.idKartini memandang kalau pendidikan tak hanya sekadar untuk mencerdaskan otak manusia saja, namun juga harus mencerdasakan budi (akhlak) manusia.

- Advertisement -

Pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia. Demikian tujuan pendidikan secara umum, yang menurut Ahmad Tafsir dalam bukunya “Filsafat Pendidikan Islami” merupakan tujuan pendidikan yang telah ada sejak zaman Yunani.

Rasanya tak berlebihan, kalau saya katakan ungkapan tujuan pendidikan itu, sekarang, hanya seakan terasa bagai bullshit pendidikan saja. Sebab, sekarang, pendidikan hanya banyak dipahami sebagai upaya untuk mewujudkan manusia yang siap kerja/siap pakai, hanya untuk sekadar mewujudkan SDM-SDM unggul.

Pendidikan seakan kehilangan jiwanya. Sebab pemahaman tentang pendidikan yang terlampau amat pragmatis, menganggap pendidikan hanya sekadar sebagai jalan mendapatkan ijasah untuk kebutuhan mencari pekerjaan, bukan sebagai jalan meningkatkan potensi diri baik potensi jasmaniah maupun rohaniah.

Ini bukan sebab Pendidikan Nasional, sebab kalau benar-benar mengacu pada UU. Sisdiknas tahun 2003, maka pendidikan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tergambar jelas, kalau tujuan pendidikan nasional adalah sebagai upaya memanusiakan manusia.

Sejalan dengan itu, Kartini memandang kalau pendidikan tak hanya sekadar untuk mencerdaskan otak manusia saja, namun juga harus mencerdasakan budi (akhlak) manusia. Pandangan Kartini ini tergambar pada model guru yang dicita-citakannya:

“…menjadi guru, sebagai yang kucita-citakan, bukan menjadi pengasah pikiran saja, melainkan juga jadi pembentuk budi pekerti….” (Surat Kartini pada Nyonya Abendanon).

Namun tak ada salahnya kalau memanfaatkan pendidikan sebagai jalan mendapatkan pekerjaan. Itu bukan dosa, melainkan anugerah dari perjuangan telah menempuh pendidikan. Artinya, pendidikan dipahami sebagai jalan mencari kehidupan yang lebih layak.

Sebagai guru, yang perlu diingat adalah tujuan pendidikan tak hanya untuk memberi ijasah, termasuk tak hanya untuk mengisi otak peserta didik dengan ragam teori dan skill kerja. Namun, juga adalah untuk membentuk akhlak baik dalam diri peserta didik.

Sehingga harus diinsafi kalau spirit pendidikan, sejatinya, adalah untuk memanusiakan manusia. Artinya, adalah untuk membantu manusia menjadi manusia yang cerdas plus berakhlak. Kartini berkata dalam suratnya pada Nyonya Abendanon, “Pendirian saya, pendidikan itu ialah mendidik budi (akhlak) dan jiwa.” Dari sini kita bisa memahami kalau konsep pemikiran pendidikan Kartini adalah pendidikan budi pekerti atau pendidikan akhlak.

Untuk upaya itu, Kartini memandang kehadiran sekolah sebagai lembaga pendidikan amat penting bagi masyarakat. Sebabnya, Kartini mengupayakan agar harus ada sekolah bagi para perempuan Indonesia. Sebab tak hanya laki-laki yang berhak mendapatkan pendidikan, tak hanya laki-laki yang berhak mendapat bantuan menjadi manusia di sekolah.

Perempuan juga berhak, sebab perempuan juga manusia. Maka upaya Kartini dalam menyediakan sekolah bagi perempuan (zaman Kartini perempuan sulit sekolah), sejatinya adalah upaya mengembalikan perempuan pada derajat kemanusiaannya. Sebab perempuan juga manusia, dan pendidikan adalah untuk memanusia manusia.

Terlebih, Kartini memandang kalau perempuan harus mendapatkan pendidikan, sebab perempuan menjadi pendidik yang paling utama bagi anaknya. Kata Kartini:

“Dari perempuanlah pertama-tama manusia itu menerima pendidikannya–diharibaannyalah anak itu belajar merasa dan berpikir, berkata-kata: dan makin lama makin tahulah saya bahwa didikan yang mula-mula itu bukan tidak besar pengaruhnya bagi kehidupan manusia di kemudian harinya. Dan betapakah ibu Bumiputra (perempuan Indonesia) itu sanggup mendidik anaknya bila mereka itu sendiri tiada berpendidikan?”

Pandangan Kartini ini sejalan dengan konsep pendidikan Islam, “al-Ummu Madrasatul ula (ibu itu adalah madrasah/sekolah yang pertama)”. “Salah satu” peran perempuan dalam pembangunan bangsa menurut Kartini adalah mendidik anak-anak yang kelak akan jadi pewaris bangsa.

“Dia mendapat anak itu bukanlah untuk dirinya sendiri, anak itu wajib dididiknya untuk keperluan keluarga besar, yang anak itu menjadi anggotanya kelak, keluarga yang sangat besarnya yang dinamai masyarakat….” (Surat Kartini pada Nona Zeehandelaar).

Pada dasarnya, pandangan Kartini tentang pentingnya pendidikan perempuan (ibu) pada anaknya, adalah untuk menegaskan kalau pendidikan sejatinya tak hanya mencerdaskan pikiran, namun juga membentuk akhlak pada diri peserta didik. Dan juga untuk menegaskan hubungan antara pendidikan formal di sekolah dan informal di rumah.

“Bukan sekolah itu saja yang mendidik hati sanubari itu, melainkan pergaulan di rumah terutama harus mendidik pula! Sekolah mencerdaskan pikiran sedang kehidupan di rumah tangga membentuk watak anak itu!”

Konsep pendidikan Kartini mengacu pada konsep pendidikan budi pekerti atau pendidikan akhlak. Dan untuk mengupayakan itu dibutuhkan kolaborasi yang baik antara pendidikan formal di sekolah dan pendidikan informal di rumah.

Di sekolah peserta didik mendapatkan asahan pikiran dari berbagai mata pelajaran (juga mendapatkan asahan akhlak dari konsep Pendidikan Agama). Dan di rumah dia mendapatkan asahan akhlak yang baik dari orang tua. Sehingga, orang tua tak hanya membebankan pendidikan pada guru di sekolah saja, sebab orang tua pun memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik anaknya di rumah.

Maka keberhasilan pendidikan yang oleh Kartini, “…pendidikan itu mendidik budi (akhlak)….” salah satunya dibutuhkan kolaborasi antara guru di sekolah dan guru (ibu/orang tua) di rumah. Dari konsep pendidikan Kartini ini, Indonesia dapat menjadi peradaban yang maju. Sebab pendidikan menyediakan penerus bangsa yang tak hanya unggul sebagai SDM, namun juga unggul sebagai manusia yang berakhlak.

REKOMENDASI

Di Bulan Ramadan, Bekerja Untuk Menafkahi Keluarga Tetap Lebih Baik Daripada I’tikaf Di Masjid

Harakah.id – I'tikaf di masjid memang menjadi opsi ibadah yang dianjurkan dilakukan di Bulan Ramadan. Tapi, yang harus jadi catatan, bekerja...

Pas Sahur, Masih Bolehkah Kita Makan dan Minum Ketika Imsak Sudah Diumumkan? Ini Penjelasan...

Harakah.id - Ketika Imsak sudah diumumkan, mungkin sebagian dari kita masih bertanya; masih bolehkah kita menelan makanan dan menyeruput minuman? Apa...

Orang Mulia Meninggal Di Bulan Mulia, Ini Daftar Ulama-Ulama Nusantara yang Wafat di Bulan...

Harakah.id - Wafat di Bulan Ramadan konon merupakan keberkahan tersendiri bagi seseorang. Meninggalkan dunia di waktu mulia adalah satu tanda kemuliaan...

Larangan Berpuasa di Hari Syak, Hari Meragukan Apakah Ramadan Sudah Masuk Atau Belum

Harakah.id - Berpuasa di hari syak adalah praktik berpuasa yang dilarang oleh Islam. Hal itu dikarenakan, hari syak adalah hari yang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...