Beranda Keislaman Hadis Inilah Kualitas Hadis yang Mengecam Praktik Riba dalam Perspektif Kajian Sanad dan...

Inilah Kualitas Hadis yang Mengecam Praktik Riba dalam Perspektif Kajian Sanad dan Matan

Harakah.idDalam artikel ini, Alif Nabil –mahasiswa Prodi Ilmu Hadis UIN Jakarta mengupas tentang kualitas hadis yang mengecam praktik riba. Berikut ulasannya.

Riba merupakan praktik yang dilarang dalam ajaran Islam. Kitab suci Al-Quran dan hadis Nabi menyebut secara tegas larangan tersebut. Dalam artikel ini, Alif Nabil –mahasiswa Prodi Ilmu Hadis UIN Jakarta mengupas tentang kualitas hadis yang mengecam praktik riba. Berikut ulasannya.

Teks Hadis

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا سِمَاكٌ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَشَاهِدَهُ وَكَاتِبَهُ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Simak, telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Abdullah bin Mas’ud, dari ayahnya, dia berkata, Rasulullah ﷺ melaknat orang yang makan riba, orang yang memberi makan riba, saksinya dan penulisnya. (HR. Abu Dawud)

Kritik Sanad

Abdullah bin Mas’ud bin Ghafil bin Habib, kuniyah-nya ialah Abu Abdurrahman, sedangkan laqabnya ialah al-Kufi, dia merupakan perawi tingkatan sahabat, dia menetap, belajar, berkembang di Kufah dan wafat di sana pada tahun 32 H. Para kritikus hadis sepakat bahwa sahabat berkualitas tsiqah.

Abdurrahman bin Abdullah bin Mas’ud, kuniyah-nya ialah Abu Abdillah, sedangkan laqabnya ialah al-Kufi, dia merupakan perawi tingkatan tabi’in kalangan tua, dia menetap, belajar, berkembang di Kufah dan wafat di sana pada tahun 79 H. Yahya bin Ma’in, Muhammad bin Sa’ad dan Ibnu Hajar al-Asqalani menilainya tsiqah.

Simak bin Harb bin Aus, kuniyah-nya ialah Abu al-Mughirah, sedangkan laqabnya ialah al-Kufi, dia merupakan perawi tingkatan tabi’in kalangan pertengahan, dia menetap, belajar, berkembang di Kufah dan wafat di sana pada tahun 123 H. Yahya bin Ma’in, Abu Hatim dan Al-Dzahabi menilainya tsiqah.

Zuhair bin Muawiyah bin Hudaij, kuniyah-nya ialah Abu Khaitsamah, sedangkan laqabnya ialah al-Kufi, dia merupakan perawi tingkatan tabi’ut tabi’in kalangan tua, dia menetap, belajar, berkembang di Kufah dan wafat di sana pada tahun 173 H. Yahya bin Ma’in, al-Nasa’i dan al-Dzahabi menilainya tsiqah.

Ahmad bin Abdullah bin Yunus bin Abdullah bin Qais, kuniyah-nya ialah Abu Abdillah, sedangkan laqabnya ialah al-Kufi, dia merupakan perawi tingkatan tabi’ul atba’ kalangan tua, dia menetap, belajar, berkembang di Kufah dan wafat di sana pada tahun 227 H. Abu Hatim, al-Nasa’i dan Ibnu Hajar al-Asqalani menilainya tsiqah.

Dari paparan data di atas, penulis menyimpulkan bahwa hadis yang  diteliti memenuhi kriteria kesahihan sanad hadis, karena diriwayatkan oleh periwayat hadis yang ’adil dan dābit serta mereka terjadi proses guru dan murid atau sanadnya bersambung dari awal sampai akhir.

Kritik Matan

Penulis menganalisis matan hadīs ini berdasarkan kaidah-kaidah yang dikemukakan oleh Muhammad Syuhudi Ismail, dan dapat dikategorikan sebagai hadīs yang memiliki redaksi kalimat yang teratur (tidak syaz) dan mengacu kepada nash yang lebih kuat yakni al-Quran, dan hadīs ini, jika dilihat dari segi matan hadis, maka hadīs ini tidak terdapat syaz dan illat. Oleh karena itu, matan hadīs tersebut berkualitas sahīh karena telah dibuktikan dengan menelusuri redaksi (matan hadis) yang dipergunakan oleh mukharrij.

Syarah Hadis

Secara lughah (bahasa) riba artinya tambahan, sedangkan menurut istilah syara’ (agama), para fuqahâ’ (ahli fiqih) memberikan ta’rîf (difinisi) setiap pengambilan tambahan yang dilakukan seseorang baik itu pada transaksi jual beli atau pun pada kegiatan pinjam meminjam yang dilaksanakan secara bathil sebab bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Islam.

Imam Nawawi rahimahullah berkata, Kaum Muslimin telah sepakat akan haramnya riba. Riba itu termasuk kabâir (dosa-dosa besar). Ada yang mengatakan bahwa riba diharamkan dalam semua syari’at (Nabi-Nabi), di antara yang menyatakannya ialah al-Mawardi.

Imam Ibnul ‘Arabi al-Mâliki rahimahullah berkata, “Orang-orang jahiliyyah dahulu biasa berniaga dan melakukan riba. Riba di kalangan mereka telah terkenal.  Yaitu seseorang menjual kepada orang lain dengan hutang. Jika waktu pembayaran telah tiba, orang yang memberi hutang berkata, “Engkau membayar atau memberi riba (tambahan)?” Yaitu: Engkau memberikan tambahan hartaku, dan aku bersabar dengan waktu yang lain. Maka Allâh Azza wa Jalla mengharamkan riba, yaitu tambahan (di dalam hutang seperti di atas).

Dari hadis yang dikemukakan diatas, Rasulullah telah melaknat empat golongan orang yang terlibat dalam transaksi riba yaitu: 1. pemakan riba, 2. yang memberi makan riba, 3. dua orang saksinya yang menyaksikan terjadinya transaksi riba tersebut dan 4. juru tulisnya (pencatatnya). Hadis tersebut menjadi dalil yang menunjukkan dosa orang-orang yang terlibat dalam transaksi riba dan siapa saja yang mendapatkan dosa sampai-sampai dilaknat oleh Rasulullah.

Menurut Yusuf Qardhawi pemakan riba ialah yang memberikan pinjaman berupa uang kepada peminjam dengan perjanjian pengembalian haruslah lebih dari pokok. Orang semacam ini bukan hanya mendapatkan laknat dari Allah dan Rasul-Nya juga laknat dari semua manusia di bumi. Pemberi makan riba maksudnya ialah orang yang meminjam sejumlah uang tersebut dan sepakat untuk mengembalikan pinjamannya dengan ada kelebihannya dari pokok pinjaman. Golongan ini juga akan mendapatkan dosa dan laknat dari Allah dan Rasul-Nya. Tidak berhenti sampai disini saja, namun para pencatat transaksi riba yang haram tersebut dan dua orang saksinya juga mendapatkan dosa dan laknat dari Allah dan Rasul-Nya.

Tetapi Yusuf Qardhawi menggaris bawahi bahwa apabila ada suatu keadaan yang memaksa seseorang harus meminjam dan tidak dapat lagi dihindari orang tersebut harus terlibat dalam transaksi riba di mana dia harus memberikan bunga atau rente karena peminjamannya, maka saat itu dosanya hanya diberikan kepada pemakan ribanya (pemberi hutangan). Seperti contohnya untuk makan dan berobat yang apabila tidak dilakukannya akan menyebabkan kebinasaan dan kematian.

Ulama kontemporer yang diwakili Ahmad Musthāfa al-Marāgi misalnya, dalam tafsirnya menyatakan bahwa dikenal dua bentuk riba’ dalam hukum Islam. Yaitu, ribā al-qarūd yang berhubungan dengan tambahan atas pinjaman, dan ribā al-buyū’ yang berhubungan dengan tambahan atas jual-beli. Riba’ al-buyū’ ada dua bentuk yakni riba’ al-fadhl dan riba’ al-nasi’ah. Ibnu Hajar lebih tegas mengatakan bahwa riba adalah semua bentuk jual beli yang hukumnya haram. Dalam Kifāyah al-Akhyar karya Taqiy al-Dīn dijelaskan bahwa riba’ al-fadl, meliputi penukaran secara bersamaan dari barang yang sama yang memiliki kualitas atau kuantitas yang tidak sama. Sedangkan riba’ nasi’ah, meliputi pertukaran secara tidak bersamaan dalam pelaksanaannya, keduanya dilarang.

Dalam perihal ini penulis sangat sependapat dengan apa yang dikatakan oleh al-Sabunī  dalam menerangkan persoalan riba. Dia menegaskan, ada beberapa alasan yang menyebabkan riba diharamkan diantaranya ialah (1) merusak jiwa; (2) merusak persatuan dan kesatuan, dan (3) merusak sendi-sendi kemasyarakatan yang berpengaruh terhadap keadaan hidup umat, baik dari ekonomi, sosial, budaya maupun aspek lainnya. Al-Quran dan hadīs hanya menjelaskan secara global (umum) saja, sedangkan langkah-langkah pelaksanaan diserahkan kepada kemampuan melakukan ijtihad yang sesuai dengan konteks waktu dan tempat yang dihadapi oleh umat Islam.

Artikel kiriman dari Alif Nabil, Mahasiswa Prodi Ilmu Hadis UIN Jakarta.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...