Beranda Keislaman Tafsir Inilah Makna Taubat dan Penjelasannya dalam Al-Qur’an

Inilah Makna Taubat dan Penjelasannya dalam Al-Qur’an

Harakah.idDari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian taubat adalah proses menyadari kesalahan yang telah diperbuat dan berupaya sekuat hati untuk tidak melakukannya kembali.

Inilah Makna Taubat dan Penjelasannya dalam Al-Qur’an. Siapa pun pasti sudah tidak asing dengan istilah taubat, sering kali terdengar ketika menghadiri sebuah acara pengajian, muhasabah diri, bahkan guyonan teman ketika ketahuan melakukan perbuatan yang kurang baik. Tapi sudahkah kita memahami makna dari kata Taubat itu sendiri? Seperti sesuatu yang mudah terucap, entah kita paham atau tidak seperti hal yang mudah untuk dilakukan.

Secara bahasa, kata taubat yang sudah menjadi kosa kata bahasa Indonesia ini berasal dari kata bahasa Arab yakni توبة. Merupakan bentuk mashdar dari kata “taba” (تَابَ), “yatubu” (يَتُوْبُ), “taubatan” (تَوْبَةً) yang berarti bertaubat , menyesal , kembali ke jalan yang benar. Sedangkan menurut istilah dalam kitab Mufradat Fii Gharibil Qur’an karangan Ar-Raghib Asfahani dijelaskan bahwa makna taubat adalah meninggalkan dosa karena keburukannya, menyesali perbuatan maksiatnya, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya, dan memperbaiki apa yang mungkin bisa diperbaiki kembali dari amalnya. Kata taubat telah disebutkan dalam Al Qur’an sebanyak 87 kali dalam Al-Qur’an dengan berbagai derivasinya.

Dijelaskan dalam kitab “Islah al-Wujuh wa al-Naza’ir fi al-Qur’an al-Karim”  karya al-Husain ibn Muhammad al-Damaghani bahwa kata taubat memiliki 3 macam makna yaitu :

Pertama, taubat bermakna الندم  atau penyesalan. Seperti dalam firman Allah surah Al Baqarah ayat 54.

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِۦ يَٰقَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنفُسَكُم بِٱتِّخَاذِكُمُ ٱلْعِجْلَ فَتُوبُوٓا۟ إِلَىٰ بَارِئِكُمْ فَٱقْتُلُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ عِندَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
Dalam kitabnya Aisarut Tafasir, Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi menjelaskan ketika kaum nabi Musa banyak yang mengikuti seruan Samiri untuk menyembah patung anak sapi sehingga mereka murtad dengan perbuatannya itu. Maka nabi Musa meminta kaumnya untuk bertaubat, akan tetapi bukan sekedar bertaubat memohon ampunan-Nya saja, Allah menjadikan syarat diterimanya taubat dari kemurtadan yang telah mereka lakukan yaitu dengan memerintahkan agar orang-orang yang tidak menyembah anak sapi membunuh orang-orang yang menyembahnya. Maka pada saat itu terbunuhlah 70.000 orang sebagai bentuk penyesalan mereka telah menyekutukan Allah Subhanahu Wata’alaa.

Kedua, taubat bermakna التجاوز  atau mengampuni. Dalam kamus Al-Maany makna التجاوز yaitu  إِغْضَاءُ الطَّرْفِ عَنْهَا yang artinya menutup mata terhadapnya. Seperti dalam firman Allah SWT dalam surah At-taubah ayat 117.

لَّقَد تَّابَ ٱللَّهُ عَلَى ٱلنَّبِىِّ وَٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ فِى سَاعَةِ ٱلْعُسْرَةِ مِنۢ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِّنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُۥ بِهِمْ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Sungguh Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada mereka.”

Al-Husain ibn Muhammad al-Damaghani dalam kitabnya memberikan keterangan pada makna لقد تاب الله sama dengan تجاوز الله artinya sungguh Allah telah menerima taubat, berarti sama dengan Allah telah mengampuni atau memaafkan.

Menurut Quraish Shihab dalam tafsirnya Al-Misbah dijelaskan dalam ayat ini bahwa Allah telah memberikan karunia kepada Nabi-Nya dan para sahabat di kalangan Muhajirin dan Anshar yang benar-benar beriman, yang berjihad bersamanya di masa sulit (pada perang Tabuk). Maka Allah menguatkan dan menolong mereka dari keengganan berjihad, setelah perasaan sulit yang semakin menjadi-jadi menimpa sebagian mereka, yang membuat hati mereka hampir condong kepada keengganan untuk berjihad. Kemudian Allah mengampuni mereka atas perasaan yang timbul dalam diri mereka ini. Sesungguhnya Dia sangat besar rasa kasih dan sayang-Nya kepada mereka.

Ketiga, taubat bermakna الرجوع عن الشيء atau kembali dari sesuatu. Seperti dalam firman Allah SWT dalam surah Al-A’raf ayat 143.

وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِىٓ أَنظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِى وَلَٰكِنِ ٱنظُرْ إِلَى ٱلْجَبَلِ فَإِنِ ٱسْتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوْفَ تَرَىٰنِى ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبْحَٰنَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلْمُؤْمِنِينَ

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.”

Masih dalam kitabnya al-Husain ibn Muhammad al-Damaghani, beliau memberikan keterangan pada kalimat سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ dengan kalimat رجعت عن سؤالي الرؤية  yang artinya aku kembali dari permintaanku mengenai  الرؤية atau melihat dzat Allah.

Dalam Tafsir Kemenag yang dikeluarkan oleh kementerian Agama RI, ayat ini menerangkan manakala nabi Musa sampai ke tempat dan waktu yang dijanjikan Allah untuk menerima wahyu, yang mana sebelumnya Allah telah menyampaikan wahyu-Nya secara langsung tanpa perantara, maka timbul pada diri Musa keinginan untuk memperoleh kemuliaan lain yaitu keinginan mendapat kemuliaan melihat Allah dengan jelas. Akan tetapi pada saat Allah menampakkan diri-Nya nabi Musa langsung jatuh pingsan. Setelah Musa sadar dari pingsannya, dia menyadari telah meminta kepada Allah sesuatu yang dapat membahayakan dirinya, ia merasa telah berbuat dosa, karena itu ia memohon dan berdoa kepada Allah,

“Ya Tuhanku, aku berdosa karena meminta sesuatu kepada Engkau yang di luar batas kemampuanku menerimanya, karena itu aku bertaubat kepada Engkau dan tidak akan mengulangi kesalahan seperti yang telah lalu itu, dan aku termasuk orang-orang yang pertama beriman kepada-Mu.”

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian taubat adalah proses menyadari kesalahan yang telah diperbuat dan berupaya sekuat hati untuk tidak melakukannya kembali. Akan ada konsekuensi dari setiap perbuatan, baik itu dosa kecil maupun dosa besar segeralah kembali memohon ampun kepada-Nya.

Akan ada kalanya manusia terjatuh ke dalam sebuah lubang kemaksiatan, tapi kita tidak boleh membiarkan nya jatuh berkali-kali ke lubang yang sama. Sebuah penyesalan tidak akan berarti tanpa adanya perbaikan, maka dari itu jangan sekedar menyesali apa yang telah terjadi, tapi ambil hikmah sebagai pelajaran untuk memperbaiki dari hal-hal yang tidak ingin disesali lagi. Demikian Inilah Makna Taubat dan Penjelasannya dalam Al-Qur’an. Semoga bermanfaat.

Artikel berjudul “Inilah Makna Taubat dan Penjelasannya dalam Al-Qur’an” adalah kiriman dari Nazilatul Adawiah, Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga, Yogya.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...