Beranda Gerakan Inilah Para Perempuan dalam Kasus Terorisme di Indonesia

Inilah Para Perempuan dalam Kasus Terorisme di Indonesia

Harakah.id Berikut ini adalah para perempuan dalam kasus terorisme di Indonesia sejak 2004 hingga 2020. Mereka berasal dari sejumlah kelompok besar seperti JI, MIT dan JAD.

Keterlibatan perempuan dalam gerakan ekstremisme terus menunjukkan peningkatan. Bentuk keterlibatan mereka juga semakin beragama. Dari melakukan perekrutan, pengorganisasian kelompok, hingga menjadi pelaku penyerangan. Baik menggunakan bom maupun senjata ala kadarnya. Perkembangan ini bersamaan dengan pengaruh ideologi ISIS yang lebih keras dibanding Al-Qaeda.

Berikut ini adalah para perempuan yang terlibat kasus terorisme di Indonesia sejak 2004 hingga 2020. Mereka berasal dari sejumlah kelompok besar seperti JI, MIT dan JAD.

1. Munfiatun Al Fitri alias Fitri

Ditangkap pada September 2004. Dijatuhi hukuman penjara selama 36 bulan (tiga tahun). Ditahan di Malang, Jawa Timur. Statusnya sekarang bebas. Munfiatun al Fitri, lahir tahun 1976, memperoleh gelar sarjana pertanian dari Universitas Brawijaya Jawa Timur.

nucare-qurban

Dia pernah menjadi teman sekelas seorang wanita di universitas tersebut yang menikah dengan jaringan teroris Malaysia, Noordin Top. Dia mengatakan kepada temannya bahwa dia juga ingin menikah dengan seorang mujahid. Pernyataan ini merujuk kepada Noordin. Pada bulan Juni 2004, saat Noordin masih dalam pelarian, ia menjadi istri keduanya. Dia ditangkap pada tahun 2004 tepat setelah operasi Noordin mengebom kedutaan Australia di Jakarta. Dia bebas dari Lapas Wanita Malang pada tahun 2007 dan tidak menunjukkan kecenderungan untuk kembali ke terorisme. Dia juga menceraikan Noordin tidak lama setelah dibebaskan. Munfiatun perempuan dalam kasus terorisme pertama di Indonesia.

2. Putri Munawaroh

Ditangkap pada 17-Sep-2009, ditahan selama 36 bulan (kurang lebih tiga tahun) di Tangerang, Banten. Statusnya telah bebas. Putri Munawaroh, saat itu berusia 21 tahun, ditangkap pada tahun 2009 di rumahnya, dekat Solo, tempat polisi membunuh Noordin setelah pemboman hotel di Jakarta 2009.

Suami Putri saat itu, Hadi Susilo, yang membantu menyembunyikan Noordin, tewas dalam operasi yang sama; Putri terluka. Dia hamil saat ditangkap dan melahirkan pada Desember 2009. Pada tahun 2010 ia menikah lagi secara proxy (baca: melalui panggilan video) dengan Ridwan Lestahulu, seorang ekstremis dari Ambon, yang kemudian menjalani hukuman di Penjara Porong, Surabaya. Putri dibebaskan pada 2012, Ridwan pada 2014. Mereka pindah kembali ke Ambon dan pada 2020, dia ditangkap kembali karena berusaha mengirim amunisi Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

3. Deni Carmelita

Ditangkap pada 27-Apr-2011, dijatuhi hukum selama 24 bulan (dua tahun) di Tangerang, Banten. Statusnya telah bebas. Deni Carmelita, lahir 20 September 1979, adalah pegawai negeri pada Badan Narkotika Nasional (BNN). Dia ditangkap pada April 2011 sebagai pemain kecil dalam kelompok yang dipimpin oleh suaminya, Pepi Fernando, pemimpin kelompok bom buku di sekitar Jakarta. Pepi dikaitkan dengan faksi tidak jelas Darul Islam / Negara Islam Indonesia (DI / NII). Deni dibebaskan pada 2013 setelah menjalani hukuman singkat dan tidak pernah kembali ke ekstremisme. Pepi tetap di penjara dan dikatakan telah memoderasi pandangannya.

4. Nurul Azmy Tibyani

Ditangkap pada 17-Mar-2012. Ia ditahan selama 48 bulan di Tangerang, Banten. Statusnya saat ini telah bebas.  Nurul Azmy Tibyani, lahir 26 Oktober 1980 di Surabaya, ditangkap pada 2012 karena membantu suaminya mentransfer uang hasil peretasan kartu kredit yang digunakan untuk mendanai pelatihan di Poso.

Dia telah terlibat dalam gerakan ekstremis sejak kuliah dan melihat pernikahan sebagai cara untuk mencapainya tujuan itu. Dia pertama kali melakukan pernikahan secara online melalui panggilan video dengan seorang pria yang mengidentifikasi dirinya sebagai orang Mujahid Banglades tapi dia tidak pernah bertemu secara langsung. Dia kemudian menceraikannya dan menikahi seorang peretas, teman sekelas di universitas, Cahya Fitriani. Suaminya dibebaskan pada 2018.

Azmy menjadi perempuan dalam kasus terorisme yang sebenarnya tidak terlibat langsung. Tetapi, jelas bahwa rekening bank atas nama dirinya dipakai untuk transaksi.

5. Rosmawati alias Umi Yazid

Ditangkap pada 11-Jan-2015. Dihukum selama 36 bulan (tiga tahun), di Sungguminasa, Sulawesi Selatan. Status saat ini telah bebas. Rosmawati, dari Soppeng, Sulawesi Selatan, ditangkap pada 2015 bersama suaminya karena memasok logistic untuk MIT di Poso; dia dibebaskan pada 2017, suaminya pada 2019.

6. Jumiatun alias Umi Delima

Ditangkap pada 23-Jul-2016. Ia ditahan selama 27 bulan di Tangerang, Banten. Statusnya telah dibebaskan. Jumiatun alias Umi Delima, lahir 23 Oktober 1994 di Bima, NTT, adalah istri kedua almarhum Santoso, pemimpin Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Dia ditangkap pada Juli 2016, tak lama setelahnya suaminya terbunuh. Dia adalah salah satu dari tiga kombatan wanita pertama di Poso. Setelah dibebaskan pada tahun 2018, dia kembali ke Bima, di mana dia segera menikah dengan seorang ekstremis bernama Asrak, yang ditangkap di 2019.

7. Nurmi Usman alias Oma

Ditangkap pada 14-Sep-2016. Dihukum selama 36 bulan (sekitar tiga tahun penjara) di Palu, Sulawesi Tengah. Telah dibebaskan. Nurmi Usman, asal Bima NTT, istri Basri, pejuang legendaris yang memperjuangkan JI di Poso, pernah ditangkap, melarikan diri untuk bergabung dengan MIT, dan ditangkap kembali pada 2016. Dia adalah salah satu dari tiga kombatan wanita di Poso, perempuan dalam kasus terorisme, sebelum ditangkap pada 2016. Dia dibebaskan pada 2019.

8. Agustiningsih alias Nining

Ditangkap pada 29-Sep-2016. Ia dijatuhi hukuman penjara selama 60 bulan (lima tahun) di Malang, Jawa Timur. Statusnya masih dalam tahanan. Agustininingsih ditangkap pada tahun 2016 karena menyediakan rumah persembunyian di Jakarta bagi perempuan yang ingin pergi ke Suriah melalui bandara internasional Jakarta. Dia akan dibebaskan pada 2021.

9. Tini Susanti Kaduku alias Ummu Fadhel

Ditangkap pada 11-Okt-2016. Dijatuhi hukuman 36 bulan di Malang, Jawa Timur. Ia telah bebas saat ini. Tini Susanti, istri ketua MIT Ali Kalora, warga asli Poso kelahiran 1985, dibebaskan tepat dua tahun tahun setelah ditangkap. Dia adalah kombatan wanita ketiga MIT bersama dengan Jumiatun dan Nurmi Usman.

10. Dian Yuliana Novi

Ditangkap pada 10-Des-2016. Dijatuhi hukuman penjara selama 90 bulan (sekitar tujuh tahun) di Bandung, Jawa Barat. Statusnya masih menjalani hukuman. Dian Yuliana Novi adalah calon pelaku bom bunuh diri wanita pertama di Indonesia. Dia menjadi radikal saat bekerja sebagai pekerja migran di Taiwan tetapi juga menjadi percaya bahwa melakukan bunuh diri operasi akan menjamin akses ayahnya yang sakit ke surga. Setelah kembali ke Indonesia, dia mencari kontak sesama ekstremis dan akhirnya dikenalkan dan menjadi istri kedua Nur Solihin, pendukung ISIS dari jaringan Bahrun Naim. Pernikahan adalah bagian dari strateginya untuk melegitimasi tindakannya karena dia memahami dari fatwa ISIS bahwa perempuan membutuhkan izin dari suaminya untuk melakukan operasi apa pun di luar rumah.

Rencana amaliah Dian Yuliana Novi menggemparkan Indonesia. Ia menjadi calon pelakum bom bunuh diri perempuan pertama di Indonesia. Dian menjadi perempuan dalam kasus terorisme di Indonesia yang mendapat vonis cukup lama.

11. Ika Puspita Sari alias Tasnima Salsabila

Ditangkap pada 15-Des-2016. Ia divonis selama 54 bulan (empat tahunan). Ia ditahan di Medan, Sumatera Utara. Statusnya masih menjalani hukuman. Ika Puspita Sari alias Tasnima Salsabila, lahir di Purworejo, Jawa Tengah 22 Juli 1981, ditangkap sebagai perpanjangan kasus 2016 yang melibatkan Dian Yuliana Novi. Ika adalah calon pelaku bom bunuh diri untuk plot bom Bali baru yang tidak pernah melampaui tahap diskusi. Dia dijatuhi hukuman empat setengah tahun penjara.

12. Tutin Sugiarti alias Ummu Absa

Ditangkap pada 15-Des-2016. Divonis 42 bulan. Dipenjara di Tangerang, Banten. Saat ini telah bebas. Tutin Sugiarti alias Ummu Absa, lahir 25 September 1979 di Ciamis, Jawa Barat, punya keahlian terapi Islami dan terapis bekam. Ia ditangkap karena memfasilitasi perkenalan Dian Yuliana Novi ke Pemimpin sel ISIS dan karena keterlibatannya mendirikan sebuah organisasi amal pro-ISIS yang disebut Dapur Umahat Aseer (“Dapur Istri Tawanan”). Dia dibebaskan pada Juni 2020.

13. Anggi Indah Kusuma alia Khanza Syafiah al Furqon

Ditangkap pada 14 Agustus 2017. Ia dijatuhi hukuman selama 36 bulan penjara. Ia menghabiskan masa hukuman di Lapas Pondok Bambu, Jakarta. Telah bebas.

14. Meilani Indra Dewi

Ditangkap pada 6-Nov-2017. Divonis hukuman 42 bulan di Tangerang, Banten. Statusnya masih menjalani hukuman.  Meilani Indra Dewi , perempuan sarjana perbankan yang berjualan baju muslim secara online, menjadi yang pertama wanita yang akan ditangkap setelah dideportasi dari Turki pada November 2017. Dia telah menggunakan hasil bisnis online-nya untuk membeli tiket ke Turki untuk dirinya sendiri dan pasangan lain, jadi dia dituntut atas pendanaan teroris.

15. Dita Siska Millenia

Ditangkap pada 12 Mei 2018. Divonis hukuman 32 bulan di Palembang, Selatan Sumatra. Ia masih menjalani hukuman. Dita Siska Milenia, lahir 25 Januari 2000 di Temanggung, Jawa Tengah, bekerja sebagai guru di Pesantren Daarul Ulum di Cilacap, Jawa Tengah. Dia ditangkap bersama Siska Nur Azizah, karena mencoba mendukung kerusuhan di Lapas Mako Brimob pada bulan Mei 2018.

16. Siska Nur Azizah

Ditangkap pada 12 Mei 2018. Divonis hukuman 32 bulan penjara di Malang, Jawa Timur. Statusnya masih dalam tahanan. Siska Nur Azizah, lahir 31 Desember 1996 di Ciamis, Jawa Barat, adalah seorang mahasiswi di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), di Bandung, Jawa Barat. Dia bergabung dengan Darul Islam (DI / NII) pada tahun 2016, tetapi berhenti dan menyatakan kesetiaan kepada ISIS dan Abu Bakar Al-Baghdadi pada bulan Oktober 2017. Dia bertemu Dita Siska Millenia di grup chat WhatsApp dan bergabung dengannya untuk membantu selama kerusuhan Mako Brimob 2018.

Sisa menjadi perempuan dalam kasus terorisme yang bermula dari interaksi secara online, yang berlanjut pada aksi kekerasan, selain Dian Novi.

17. Betty Rinawati Brojo

Ditangkap pada 14 Mei 2018. Ia divonis penjara 36 bulan di Pondok Bambu, Jakarta. Statusnya masih dalam penjara. Betty Rinawati Brojo, lahir 2 Mei 1980 di Cirebon, Jawa Barat, pindah ke Sidoarjo, Jawa Timur dan ia membuka kios pakaian Muslim dengan Damayanti pada 2016. Dia dan Damayanti terlibat dalam pengajian yang dipimpin oleh tokoh JAD, almarhum Ilham Fauzan, suami dari Emil Lestari.  Dua wanita lain, bersama suami Damayanti, membantu menyembunyikan sisa bom dalam kasus pemboman Surabaya Mei 2018. Betty dijatuhi hukuman tiga tahun pada Oktober 2019.

18. Damayanti

Ditangkap pada 14 Mei 2018. Divonis penjara selama 40 bulan di Semarang, Tengah Jawa. Statusnya masih dipenjara. Damayanti, lahir 14 Mei 1984 di Nganjuk, Jawa Timur, pindah ke Surabaya setelah tamat SMA. Dia menikah dengan Agus Satrio Widodo pada Februari 2018. Ia dan Agus ditangkap bersama Betty, usai membantu menyimpan sisa bom Surabaya.

19. Emil Lestari alias Umu Azka

Ditangkap pada 15-Mei-2018. Dijatuhi hukuman selama 42 bulan di Bandung, Jawa Barat. Ia masih menjalani hukuman. Emil Lestari alias Ummu Azka, lahir 1979 di Garut, Jawa Timur, merupakan istri dari Ilham Fauzan, seorang pemimpin senior JAD Jawa Timur yang tewas dalam operasi polisi menyusul pemboman Surabaya Mei 2018. Dia ditangkap karena membawa tas berisi bom tak terpakai ke rumah Damayanti. Dia menerima hukuman tiga setengah tahun penjara.

20. Darci alias Maryam

Ditangkap pada 15 Juli 2018. Mendapat vonis 48 bulan penjara di Sungguminasa, Sulawesi Selatan. Masih menjalani hukuman. Darci alias Maryam adalah istri kedua pimpinan JAD Ahmad Syafii, asal Haeurgeulis, Jawa Barat. Mereka berencana meledakkan bom mobil dalam upacara bendera di Polres Indramayu pada hari kemerdekaan RI, 17 Agustus 2018. Dia dirawat di rumah sakit selama sebulan karena COVID-19 pada Juni 2020, tetapi pada Agustus telah kembali ke selnya di Penjara Wanita Sungguminasa, Sulawesi Selatan.

21. Nurhasanah

Ditangkap pada 15 Juli 2018. Divonis 72 bulan di Lampung. Masih menjalani hukuman.  Nurhasanah alias Nana, lahir 28 April 1992, terlibat dalam aksi bom di Polres Indramayu atas perintah suaminya, Galuh Rosita Karisma, pada 15 Juli 2018. Polisi menembak mereka sebelas kali, melukai Galuh secara fatal. Peristiwa itu terjadi satu hari setelah polisi menangkap paman Galuh, Mukad, dari JAD Haeurgeulis, Jawa Barat. Nurhasanah divonis enam tahun pada 29 Mei 2019. Menjadi salah satu perempuan dalam kasus terorisme yang mendapat vonis terlama.

22. Arti Alifah Aviandari Rahardjo

Ditangkap pada 20 November 2018. Divonis 24 bulan penjara dan dia menghabiskan masa hukuman di Polda, Jakarta. Masih menjalani hukuman. Arti Alifah Aviandari Rahardjo, lahir di Jakarta, 16 September 1996, meraih gelar Sarjana Sastra Bahasa Arab dari Universitas Indonesia. Ayah Arti adalah seorang komisaris perusahaan telekomunikasi milik Negara, Telkom Indonesia dan tergolong keluarga berkecukupan. Dia ditangkap di Turki pada 2018 bersama suaminya, Uzair Cholid Besmelleh, dan dideportasi. Keterlibatannya sebagai perepuan dalam kasus terorisme merupakan akibat dari pengaruh ibunya yang bernama Sobah. Sobah sendiri masih bebas di luar.

23. Wahyuningsih

Ditangkap pada 4 Januari 2019, lalu divonis 24 bulan penjara. Dia dipenjara di Polres Jakarta Selatan. Statusnya masih menjalani hukuman. Wahyuningsih alias Ayu lahir pada tanggal 15 Mei 1994 di Bima, NTT, berasal dari latar belakang keluarga non-radikal. Di awal September 2018, ia terbang dari Bima ke Makassar untuk mencari pekerjaan di restoran milik kerabatnya. Pada pertengahan September 2018, teman SMAnya yang bernama Busron alias Qatar, seorang anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT), memintanya untuk menikah dengannya sebagai istri keduanya. Ayu setuju dan meninggalkan rumah kerabatnya menuju Poso menyamar sebagai pengungsi gempa Palu.

24. Linda Ipa alias Ummu Qonita

Ditangkap pada 11 Januari 2019, dan mendapat vonis hukuman 36 bulan penjara. Dia dipenjara di Polda, Jakarta. Ia masih menjalani hukuman. Linda Ipa alias Linda alias Ummu Qonita, lahir 13 Maret 1988 di Bima, NTT, merupakan adik dari Ishak Ipa alias Ali Kalora, pemimpin MIT. Dia ditangkap karena memasok makanan dan logistik ke MIT dan membantu Wahyuningsih, istri anggota MIT, setibanya di Poso dari Bima pada 2018. Dia dijatuhi hukuman tiga tahun penjara pada 11 Desember 2019.

25. Rosliana alias Summayyah

Ditangkap pada 13 Maret 2019, dan dijatuhi hukuman 72 bulan di Polda, Jakarta. Ia masih di dalam penjara sampai saat ini. Rosliana, terlibat bom Sibolga 2019 dan menjadi istri kedua dalang pengeboman, Abu Hamzah saat dia berusaha membalas kematian suami pertamanya, yang dibunuh oleh polisi pada Oktober 2018. Dia juga memasok beberapa bahan bom. Dia dijatuhi hukuman enam tahun penjara pada 29 Januari 2020.

26. Sutiyah alias Mutia

Ditangkap pada 23 September 2019. Ditahan di Polda, Jakarta. Sutiyah alias Mutia, lahir di Cilacap, 25 Februari 2000, mengalami radikalisasi secara online pada 2017. Dia bertemu Abu Rara, pria yang menikam Menteri Koordinator Keamanan Wiranto pada Oktober 2019, melalui grup Whatsapp. Abu Rara menyarankannya untuk pergi ke pesantren Tahfiz Al-Ahlam milik Abu Aswar di Kediri, Jawa Timur. Dia belajar di sana selama dua bulan dan bersumpah setia kepada ISIS pada hari pertama dia tiba pada 21 November 2018. Ia bertemu dengan suami pertamanya, Muhammad Arsyad, namun mereka segera bercerai saat menyadari bahwa ia mengidap HIV. Sutiyah kemudian menikah dengan Asep Roni alias Ibnu Rosyid yang piawai membuat bom. Pasangan itu berharap bisa bergabung dengan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso. Mereka berdua ditangkap pada bulan September 2019 bersama Fazri Pahlawan alias Abu Zee.

27. Nesti Ode Samili

Ditangkap pada 26 September 2019. Ditahan di Polres Jakarta Selatan. Nesti Ode Samili, lahir 14 Juli 1996 di Sulawesi Selatan, adalah seorang polisi wanita di unit pidana Kapolda Maluku Utara yang berpusat di Ternate. Dia ditarik ke jaringan radikal oleh juniornya, Rini Ilyas. Dia bergabung dengan kelompok studi agama online di Telegram dan WhatsApp yang dikelola oleh Abu Zee, tempat ia bertemu Galang Jiwa Pradana, yang kemudian menjadi suaminya. Polisi menangkapnya di bandara Juanda, Surabaya karena melalaikan tugas dan memulangkannya ke Ternate. Dia dijatuhi hukuman 21 hari penjara sebagai hukuman disiplin. Setelah dibebaskan, dia menikahi Galang pada Juli 2018, lalu pindah ke Yogyakarta dengan harapan bisa lebih terlibat langsung dalam kegiatan pro-ISIS bersama mantan rekannya, Rini. Dia ditangkap pada 25 September 2019.  

28. Fitri Diana alias Fitri Adriana

Ditangkap pada 10 Oktober 2019. Dijatuhi hukuman 108 bulan (sembilan tahun penjara) di Polda, Jakarta. Statusnya masih menjalani hukuman. Fitri Diana alias Adriana, lahir 5 Mei 1998 di Brebes, Jawa Tengah, bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Tangerang, Banten setelah lulus sekolah dasar. Dia mulai membaca artikel ekstremis dan bergabung dengan obrolan kelompok tersebut dimana pada Mei 2019, ia bertemu dengan suaminya, Syahrial Alamsyah alias Abu Rara. Mereka menikah dengan bantuan ekstremis lain, Fahrial Pahlawan alias Abu Zee, pada Juli 2019 dan tinggal di Pandeglang, Banten. Ketika Abu Zee ditangkap pada September 2019, Abu Rara tahu kemungkinan besar dia akan ditangkap, dan ia memutuskan untuk melakukan operasi. Dia mendengar bahwa seorang tamu penting akan mengunjungi pesantren terdekat dan meminta istri dan putrinya untuk membantunya dalam serangan. Tamu penting tersebut ternyata adalah Menteri Koordinator Wiranto. Fitri menikam Kapolsek namun tidak melukai dirinya secara serius. Dia dijatuhi hukuman sembilan tahun penjara. Ia menjadi perempuan dalam kasus terorisme dengan vonis terlama yang pernah ada.

29 RAL (putri Abu Rara)

Ditangkap pada 10 Oktober 2019. Ditahan di Handayani Center, Jakarta. RAL, lahir tahun 2005, adalah putri dari Abu Rara dari pernikahan pertamanya namun tinggal bersama ayahnya dan ibu tiri, Fitri Diana. Setelah penyerangan terhadap Wiranto, di mana dia mencoba untuk menusuk seorang penjaga, RAL dikirim ke program deradikalisasi di pusat rehabilitasi Handayani, semacam rumah singgah untuk pelaku kejahatan remaja, yang dikelola oleh Kementerian Sosial, bukan penjara anak. Dia adalah salah satu dari delapan belas anak di bawah umur, dan satu-satunya perempuan di antara mereka, yang terlibat dalam terorisme. RAL menjadi perempuan dalam kasus terorisme termuda dalam sejarah terorisme di Indonesia.

30. Rini Ilyas alias Asiyah

Ditangkap pada 10 Oktober 2019. Saat ini ditahan di Polres Jakarta Selatan. Rini Ilyas, lahir tahun 1998 di Maluku Utara, adalah kolega Nesti Ode Samili, di pidana Satuan Polisi Pamong Praja Maluku Utara. Pada Mei 2019, dia meninggalkan kepolisian dan pindah ke Yogyakarta. Dia sedang diadili pada September 2020.

31. Marifah Hasanah alias Ummu Iffah

Ditangkap pada 15 Oktober 2019. Saat ini statusnya masih tahanan di Polda, Jakarta. Marifah Hasanah, lahir tahun 1975 di Pringsewu, Lampung, adalah istri kedua ekstremis pro-ISIS yang bernama Amirudin. Ia terkait dengan Abu Zee dan Abu Rara. Dia dan suaminya ditangkap; dia diadili pada September 2020.

32. Novita Aditia alias Maryam alias Ummu Musa

Ditangkap pada 16 Oktober 2019 dan ditahan di Polda, Jakarta. Novita alias Maryam, lahir tahun 1994 di Brebes, Jawa Tengah, adalah istri dari Abdul Aziz, ekstremis lain yang terkait dengan Abu Zee dan Abu Rara. Mereka menikah saat Novi bersekolah di sebuah pesantren di Kediri, Jawa Timur. Mereka pindah ke kampung halaman Aziz di Sragen, Jawa Timur. Keduanya ditangkap; Novita diadili pada September 2020.

33. Har mawati alias Ummu Faruq

Ditangkap pada 19 Oktober 2019. Saat ini menjalani hukuman di Polda, Jakarta. Har mawati, lahir di Sampang, Madura tahun 1978, ditangkap di Tasikmadu, Karanganyar, Jawa Tengah pada 16 Oktober 2019 karena terkoneksi dengan Abu Rara dan Fitri Adriana. Dia diadili pada September 2020.

34. Sariatik alias Ummu Salsabila

Ditangkap pada 12 November 2019. Ditahan di Polda, Jakarta. Sariatik alias Ummu Salsabila ditangkap pada 9 November 2019 bersama sembilan rekan pria di Kampar, Riau karena terlibat dalam kegiatan pro-ISIS. Peran dan keterlibatannya dalam jaringan masih dalam penyelidikan. Ia mulai menjalani hukuman percobaan pada pada 5 Agustus 2020.

35. Dewi Anggraini

Ditangkap pada 14 November 2019. Ditahan di Polda, Jakarta. Dewi Anggraini, lahir tahun 1996, adalah istri Rabbial Muslim Nasution, pelaku bom bunuh diri di Polres Medan pada November 2019. Ia dinilai sangat radikal. Dia mengunjungi Ika Puspitasari Salsabila, di penjara wanita Medan sesaat sebelum serangan bom, menimbulkan spekulasi bahwa keduanya saling memperkuat kecenderungan ekstremis satu sama lain.

36. Nur Fazillah alias Umu Dila

Ditangkap pada 15 November 2019. Ditahan di Polda, Jakarta. Nur Fazillah alias Umu Dila, lahir di Jakarta pada 21 November 1981, beretnis Aceh. Ia besar di Pidie Jaya, Aceh. Dia membantu rekrutan dari Jawa, Medan, dan Jambi mengikuti pelatihan militer pro-ISIS di sebuah kamp di Aceh Utara pada 2018. Dia juga dituduh menyembunyikan buronan kasus terorisme dari Medan dan menyediakan tempat penampungan bagi keluarga ekstremis yang mengambil bagian dalam kamp pelatihan.  

37. “Ita”

Ditangkap pada 23 April 2020. Ia masih menjalani hukuman. “Ita,” kelahiran 1985 dari Lumajang, Jawa Timur ditangkap saat polisi sedang berusaha melacak tersangka teroris lainnya, Abdullah, di bisnis pengirimannya di Surabaya. Dia dituduh memiliki amunisi illegal. Polisi masih menyelidiki kasusnya hingga September 2020.

38. Istiana alias Ammah

Ditangkap pada 24 Juni 2020. Saat ini masih menjalani hukuman. Istiana alias Ammah, lahir di Semarang, 2 Mei 1973, dikaitkan dengan penyerangan terhadap Wakil Kepala Polres Karanganyar pada Juni 2020. Ia dikenal sangat radikal. Kasusnya masih dalam investigasi pada September 2020.

39. L alias Ummu Syifa

Ditangkap pada 29 Juli 2020. Saat ini masih ditahan. L alias Ummu Syifa, lahir tahun 1992, kabarnya adalah istri baru Ali Kalora, pemimpin Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Dia baru saja bersama MIT selama 23 hari ketika ditangkap pada 29 Juli 2020 karena dengan memegang informasi tentang MIT. Kasusnya masih dalam penyelidikan hingga September 2020.

REKOMENDASI

Kapan Istilah Sufi dan Tasawuf Muncul Dalam Konteks Keilmuan Islam? Ini Sejarahnya…

Harakah.id - Sufi dan tasawuf, menurut Ibnu Khaldun, secara istilah memang belum dikenal secara luas di kalangan masyarakat Islam pada abad...

Islam Di Mata Barat; Media, Orientalisme dan Entitas Islam yang Termutilasi

Harakah.id - Orientalisme, Barat dan Islam adalah variabel kunci dari artikel yang Said tulis di tahun 1980 ini. Namun tampaknya apa...

Download Naskah Pidato Pengukuhan Dr [HC] KH. Afifuddin Muhajir; Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam...

Harakah.id - Pidato pengukuhan Doctor Honoris Causa KH. Afifuddin Muhajir ini penting untuk mengukuhkan posisi NKRI dalam timbangan syariat Islam.

Lewati 8 Kota di 7 Negara, Ini Rute Perjalanan Imam al-Bukhari Mencari Hadis

Harakah.id – Rute perjalanan Imam al-Bukhari mencari hadis bukan kaleng-kaleng. Delapan kota di tujuh negara dilewati oleh Imam al-Bukhari untuk mencari...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Para Ulama dan Habaib yang Berseberangan dengan Habib Rizieq

Harakah.id - Gerakan Habib Rizieq dan FPI-nya mendapat sorotan sejak lama. Para pemimpin Muslim di Indonesia tercatat pernah berseberangan dengannya. Inilah...