Inilah Penjelasan dan Dalil Anjuran Puasa Tarwiyah dalam Kitab Ulama Syafi’iyah

0

Harakah.idUmat Islam di Indonesia sangat akrab dengan ibadah puasa Tarwiyah. Belakangan muncul pernyataan sebagian pendakwah dari aliran tertentu yang menyebut dasar yang digunakan sebagai dasar anjurannya adalah daif. Seakan sang pendakwah ingin mengatakan bahwa tidak ada amalan sunnah berupa puasa Tarwiyah atau puasa tanggal delapan Zulhijah.

Umat Islam di Indonesia sangat akrab dengan ibadah puasa Tarwiyah. Belakangan muncul pernyataan sebagian pendakwah dari aliran tertentu yang menyebut dasar yang digunakan sebagai dasar anjurannya adalah daif. Seakan sang pendakwah ingin mengatakan bahwa tidak ada amalan sunnah berupa puasa Tarwiyah atau puasa tanggal delapan Zulhijah.

Pertama, pernyataan ini berseberangan dengan pandangan umum umat Islam di Indonesia. Umat Islam di Indonesia pada umumnya mengenal jenis puasa sunnah ini.

Kedua, pernyataan ini berseberangan dengan pandangan sebagian ulama mazhab Syafi’i yang menjelaskan kesunnahan berpuasa pada tanggal 8 Zulhijah ini. Di antaranya adalah Imam Ibnu Al-Mulaqqin. Dalam kitab At-Tadzkirah Fil Fiqhis Syafi’i, beliau menulis dalam bab jenis-jenis puasa sunnah,

وسن صوم الإثنين والخميس وعرفة إلا للحاج، ويوم التروية وعاشوراء، وتاسوعاء، وأيام البيض، وأيام السود وهي أواخر الشهر، وست من شوال، ويكره إفراد الجمعة والسبت والأحد.

Sunnah puasa hari Senin dan kamis, puasa Arafah bagi selain orang yang menunaikan haji, puasa hari Tarwiyah, puasa Hari Asyura’, Tasu’a, Ayyamul Bidh, Ayyamus Sud –yaitu beberapa hari di akhir bulan, enam hari di bulan Syawal, dan makruh menyendirikan puasa di hari Jumat, Sabtu dan Minggu (At-Tadzkirah, hlm. 55).

Dalam keterangan kitab ini, dinyatakan bahwa salah satu puasa yang dianjurkan adalah puasa pada hari Tarwiyah. Bahkan dengan tegas disebut nama hari tanggal 8 Zulhijah adalah Hari Tarwiyah. Imam Ibnu Al-Mulaqqin tidak sendiri. Syekh Nawawi Al-Bantani menyebutkan dalam kitab Nihayatuz Zain,

وَالثَّامِن صَوْم الثَّمَانِية أَيَّام قبل يَوْم عَرَفَة سَوَاء فِي ذَلِك الْحَاج وَغَيره

Kedelapan adalah puasa delapan hari sebelum Hari Arafah. Baik bagi orang yang melaksanakan ibadah haji maupun yang tidak. (Nihayatuz Zain, hlm. 197)

Berbeda dengan Ibnu Al-Mulaqqin, Syekh Nawawi Al-Bantani tidak menyebut secara langsung dengan istilah puasa Tarwiyah. Beliau hanya menyebutkan kesunnah berpuasa pada hari-hari sebelum Hari Arafah. Syekh Nawawi juga tidak membatasi pada satu hari sebelum Hari Arafah, tetapi selama delapan hari sebelum Hari Arafah.

Kedua kitab ini memang tergolong kitab ringkas yang tidak menyebutkan dalilnya. Hal ini bukan berarti jenis puasa sunnah ini tidak memiliki dalil. Teradapat beberapa dalil tentang anjuran puasa pada hari sebelum hari Arafah ini. Di antaranya adalah

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَا مِنْ أَيَّامٍ العَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ العَشْرِ”، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلَا الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “وَلَا الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

Dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tiada hari-hari yang beramal shalih di dalamnya lebih dicintai Allah dibanding hari-hari yang sepuluh ini.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah jihad fi sabilillah lebih utama?” Rasulullah SAW bersabda, “Jihad fi sabilillah juga tidak lebih utama, kecuali laki-laki yang keluar berjihad dengan dirinya sendiri serta hartanya, lalu tidak kembali apapun dari dirinya.” (HR At-Tirmidzi)

Hadis ini menunjukkan keutamaan beribadah pada sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Di antara bentuk ibadah yang bisa dilakukan adalah berpuasa. Berdasarkan keumuman hadis ini, puasa Tarwiyah yang jatuh pada hari kedelapan bulan Zulhijah termasuk dalam puasa yang dianjurkan.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

صَوْم يَوْم التَّرويَة كَفَّارَة سنة وَصَوْم يَوْم عَرَفَة كَفَّارَة سنتَيْن

Berpuasa pada hari Tarwiyah adalah menghapus dosa setahun. Berpuasa pada hari Arafah adalah penghapus dosa dua tahun. (HR Abus Syaikh dan Ibnu Najjar).

Hadis ini disebutkan oleh Imam As-Suyuthi dalam Al-Jami’ As-Shaghir. Beliau menyebutkan bahwa hadis ini disebutkan dalam kitab At-Tsawab karya Abus Syaikh Al-Ashabani dan At-Tarikh karya Ibnun Najjar.

Menurut sebagian keterangan, hadis ini bernilai daif. Bahkan ada yang menilai maudhu’ atau palsu. Sekalipun demikian, hadis ini tidak bertentangan dengan hadis sahih yang disebutkan sebelumnya yang menunjukkan anjuran berpuasa pada hari sebelum Hari Arafah.